<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643</id><updated>2011-12-08T05:47:55.991-08:00</updated><category term='Mengolah Kebakaran Menjadi Keteduhan'/><category term='Keindahan'/><category term='Mata Rantai Kepuasan'/><category term='Bunga Cinta untuk Teroris'/><category term='Bunga Tidak Pernah Bersuara'/><category term='Bebas Dari Belenggu Ketakutan'/><category term='Kuasa'/><category term='Menikah Dengan Diri Sendiri'/><category term='Perdamaian'/><category term='Melenggang Pulang'/><category term='Merajut Sutera Keberhasilan'/><category term='Anda Itu Sangat Simpatik'/><category term='Damai dalam Setiap Langkah'/><category term='Pencerahan'/><category term='Nyoman Mimpi Jadi Presiden'/><category term='Organisasi Berbasiskan Pengetahuan'/><category term='Kesederhanaan Pangkal Kebahagiaan'/><category term='Penyembuhan'/><category term='Berjumpa Cinta Di Mana-Mana'/><category term='Orang Brengsek Guru Sejati'/><category term='Olala'/><category term='Kisruh'/><category term='Berani Gagal'/><category term='Mengelola Dan Mendapatkan Ide'/><category term='Kaya Makna'/><category term='Kaya Rasa'/><category term='Hari Ini Hari Terbaik'/><category term='Kekalahan'/><category term='Manufactured Uncertainty'/><category term='Nur Dari Timur'/><category term='Kemenangan'/><category term='Biarawan Yang Menjual Ferrarinya'/><category term='Lukisan Indah Kebijaksanaan'/><category term='Tahan terhadap Guncangan'/><category term='Jernih'/><category term='Obama'/><category term='Menyingkap Keindahan Bencana'/><category term='Manusia Paling Beruntung'/><category term='Sekantong Tahi Sapi'/><category term='Indonesia Pensiun'/><category term='Mendengarkan Bocah Dalam Diri'/><category term='Osama'/><category term='Pemimpin Dan Kekasih'/><category term='Berhentilah Menyalahkan Orang Lain'/><category term='Pertanyaan Yang Merubah Dunia'/><title type='text'>Lentera Hati Gede Prama</title><subtitle type='html'>~ kehidupan dan semesta adalah guru tertinggi ~</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>36</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-5371090588036676694</id><published>2010-04-10T01:53:00.000-07:00</published><updated>2010-04-10T01:57:45.423-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Olala'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Osama'/><title type='text'>Osama, Obama, Olala</title><content type='html'>Mungkin sudah jadi kebiasaan tua manusia untuk bikin stigma. Bila orang terlihat cocok dengan kriteria, ia disebut baik. Tatkala tidak cocok, buruk judulnya. Perang, pertempuran, pertengkaran, semuanya bermula dari sini. Yang disebut baik jadi kawan, yang disebut munafik jadi lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, dari segi yang bersangkutan lain lagi. Teroris dan orang-orang seperti 0sama bin Laden sebagai contoh juga menyebut dirinya baik. Bahkan, ada yang menyebut diri sedang berperang membela Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;0rang-orang yang dinobatkan dunia sebagai orang baik (Presiden Amerika Serikat Barack 0bama sebagai contoh karena diberi hadiah Nobel Perdamaian), jangan-jangan memiliki keraguan, apakah layak disebut baik. Buktinya, ia perlu waktu lama untuk memutuskan mengirim pasukan ke Afganistan atau tidak. Dan ujungnya semua sudah tahu, ribuan tentara dengan tidak terhitung senjata dimasukkan ke Afganistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan percakapan keseharian orang Indonesia beberapa tahun terakhir. Dari cicak-buaya, Century, sampai dengan makelar kasus (markus). Mana berita mana cerita rekayasa, mana wacana mana propaganda, mana hasil penelitian mana rekayasa penjualan, semuanya campur aduk. Bagi yang sentimen akan menyebut mafialah yang melakukan, bagi yang diuntungkan akan mengatakan semuanya baik-baik saja. Ini tidak saja terjadi di negara berkembang, bahkan negara yang telah mengenal peradaban lebih dulu, seperti Inggris (sebagaimana ditulis Norman Fairclough dalam Discourse and social change), juga mengalami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah dunia dan dinamikanya. Kalau dalam geografi berlaku rumus bentuk wilayah menentukan bentuk peta, dalam kehidupan manusia (tanpa disadari sepenuhnya) berlaku rumus sebaliknya: peta (cara memandang) menentukan bentuk wilayah yang dilihat (pemahaman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kehidupan nyanyian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tahu bahaya dikacaukan pikiran, penekun kejernihan memilih terserap dalam-dalam (menyatu) dengan kekinian, kemudian mendengarkan kehidupan sebagai nyanyian (”0lala”). Nyanyian kehidupan serupa langit, ada saatnya terang benderang cerah bercahaya (baca: bersih jernih). Ada kala kelam ditutupi awan gelap (kesedihan). Di waktu lain, langit dibungkus awan putih (kebahagiaan). Namun, awan gelap tak membuat langit jadi hitam. Awan putih tak membuat langit jadi putih. Apa pun yang terjadi, langit tetap biru. Dalam meditasi, ini disebut pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri pertama, batin sudah bangun dari tidur panjang (the awakened mind). Terlalu lama batin tidur lelap bersama gonjang-ganjing pikiran. Seolah-olah gonjang-ganjing pikiran itulah kehidupan. Ciri kedua, muncul rasa lapar untuk berbakti kepada yang di atas (devotion), serta berbagi welas asih kepada semua makhluk (infinite compassion). Bagi yang telah sampai di sini mengerti, kebahagiaan tak melakukan penambahan, kesedihan tak melakukan pengurangan. Demi kasih sayang kepada semua makhluk, nyanyian suci kehidupan tetap harus didendangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalalludin Rumi punya puisi bagus sekali: ”Kehidupan serupa tinggal di losmen. Setiap hari tamunya berganti. Tapi siapa pun tamunya, jangan lupa selalu tersenyum”. Thich Nhat Hanh menyebut keadaan batin seperti ini present moment wonderful moment. Bila manusia kebanyakan hanya berbahagia jika menjadi majikan, Santo Fransiscus dari Asisi justru damai tatkala menjadi pelayan. Dalam bahasa kebanyakan, orang-orang seperti ini disebut ”berkorban”. Namun, bagi yang melaksanakan, mereka merasa damai sekali menjaga keseimbangan alam. Kadang disebut menyatu dengan nyanyian alam. Di tengah miliaran manusia yang hanya mau menang, harus ada yang mengambil kekalahan. Dalam arus zaman yang mengagungkan kemewahan, harus ada yang mengenakan baju kesederhanaan. Ketika kehidupan bergejolak seperti samudra keriuhan, mesti ada yang istirahat dalam keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti jalan ini hanya satu, melihat, melakoni, mengakhiri kehidupan dengan keindahan. Inilah kehidupan sebagai kidung (nyanyian) suci. Dalam bahasa orang Hindu, ia disebut Satchittananda. Siapa saja yang senantiasa terserap jadi satu ke dalam kekinian, ia akan melihat keindahan di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya tetua Jawa (ditiru tetua Bali) di pekarangan rumahnya sering menanam sawo kecik. Dalam bahasa Bali diterjemahkan menjadi sarwa becik (semuanya baik). Harapannya agar setiap manusia yang bertumbuh di rumah bisa melihat bahwa semuanya baik. Karena demikianlah, orang-orang yang memperlakukan kehidupan sebagai nyanyian suci mengisi kesehariannya dengan praktik kesadaran dan keindahan. Bangun tidur sebagai contoh, dimulai dengan bergumam pelan: ”Hidup adalah sebuah pilihan lengkap dengan konsekuensinya. Bila memilih kemarahan, penderitaan akibatnya. Jika mengisi kehidupan dengan welas asih, maka kebahagiaan hadiahnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuka pintu sebagai contoh lain, kelompok ini akan melafalkan renungan: ”Pikiran berisi terlalu banyak burung riuh bernyanyi. Tuhan ditabrakkan dengan setan, orang baik dimusuhkan dengan orang munafik. Dengan membuka pintu ini, biarlah burung-burung riuh itu lepas ke angkasa. Menyisakan batin sunyi-sepi yang menyentuh hati”. Bila dilanda sial, ia akan memanggil guru di dalam diri: ”Guru terima kasih terus-menerus membimbing. Dalam sukacita guru sedang memotivasi. Dalam dukacita guru sedang mengajarkan untuk selalu rendah hati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan yang diisi praktik kesadaran mendalam, semua tempat jadi tempat suci. Semua suara (termasuk pujian dan cacian) jadi mantra suci. Semua ciptaan jadi makhluk suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hasil dari praktik mendalam seperti ini, manusia tak saja bisa tersenyum dengan bibir, juga bisa tersenyum dengan mata (baca: memandang semua dengan senyuman). Kadang ada yang menyebutnya memandang kehidupan dengan pandangan mendalam karena penuh pengertian dan permakluman. Hidup sesungguhnya serangkaian kidung suci. Cuma, semakin lama semakin sedikit yang menyanyikan kidung suci kehidupan. Dan di tengah hamparan samudra tangisan di mana-mana (bencana alam, bom teroris, bunuh diri, kriminalitas, korupsi, dan lain-lain), alangkah menyejukkan bila sebagian pojokan kehidupan mendendangkan nyanyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh: Gede Prama,  &lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;Penulis Buku Sadness, Happiness, Blissfulness: Transforming Suffering into the Ultimate Healing&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber: Kompas, 10 April 2010&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-5371090588036676694?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/5371090588036676694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=5371090588036676694' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/5371090588036676694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/5371090588036676694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2010/04/osama-obama-olala.html' title='Osama, Obama, Olala'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-5506514776570201058</id><published>2010-01-29T20:42:00.000-08:00</published><updated>2010-01-29T20:48:49.678-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisruh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jernih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuasa'/><title type='text'>Kuasa, Kisruh, Jernih</title><content type='html'>Bila menoleh ke tahun 2009, mungkin layak menyebutnya dengan tahun kekisruhan. Negeri ini kisruh oleh kisah cicak-buaya, cerita korupsi Bank Century.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun lalu ditandai perobekan piagam PBB oleh Presiden Libya Moammar Khadafi, diikuti teriakan protes keras Perdana Menteri (PM) Inggris Gordon Brown sambil berdiri. PM Italia Silvio Berlusconi dilempar patung sehingga mukanya berdarah. Mantan Presiden Amerika Serikat George Walker Bush pernah dilempar sepatu. Merenung di atas sejarah seperti ini, kekuasaan seperti tidak habis-habisnya menghasilkan kekisruhan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Meminjam penghitungan perputaran waktu di beberapa tradisi, putaran waktu kali ini adalah putaran waktu yang gelap. Oleh karena itu, terjadi kekacauan kosmik di mana-mana. Tempat-tempat di mana dahulunya turun kesejukan berupa wahyu dan nabi (India, Pakistan, dan Timur Tengah) sekarang menjadi tempat membara oleh perang. Lembah Swat di Pakistan adalah salah satu tempat langka yang menyimpan kisah langka, di situ sekitar seratus ribu manusia pernah mengalami pencerahan secara bersamaan. Sekarang, Lembah Swat berdarah-darah oleh tembakan senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, jangankan kekuasaan yang dari dulunya sudah kotor, berdarah, dan menakutkan, tempat-tempat di mana cahaya penerang itu pernah turun pun menakutkan. Memang, kadang lahir wajah kekuasaan yang membawa kelembutan. Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, Mohammad Hatta, dan Dalai Lama hanya sebagian contoh. Namun, sebagian kekuasaan tergelincir ke dalam kegilaan seperti Ferdinand Marcos dan Hitler, sehingga memberi pilihan kepada setiap pemimpin yang sedang berkuasa, akankah dibikin mulya atau dibikin gila oleh kekuasaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sunyi yang mengabdi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati lahir di tempat dan waktu berbeda, ada yang sama di antara pemimpin yang dibikin mulya oleh kekuasaan, yakni batinnya Brahmana, badannya Ksatria. Setelah melewati kesalehan asketik yang keras, puncak perjalanan seorang Brahmana tercapai ketika batin seseorang telah mencapai apa yang disebut tetua di Jawa sebagai suwung. Tidak ada keakuan, ketakutan, keinginan, apa lagi kerakusan yang tersisa. Semuanya lenyap ditelan suwung . Seperti ruang yang memberi tempat bertumbuh pada apa saja dan siapa saja. Kendati terlihat tidak ada apa-apa, tetapi ruang melimpahkan kasih sayang secara tidak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ada ruang, maka cahaya matahari bisa melaksanakan tugasnya, pohon bertumbuh, manusia menjadi lebih dewasa. Begitulah batin yang suwung . Ia kerap disebut mengetahui yang satu kemudian membebaskan semuanya. Karena ketidakterbatasan kasih sayangnya itulah yang menyebabkan mereka dikenang jauh lebih lama dari umur badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam badan ksatria (setelah melewati disiplin ketentaraan yang ketat), kaki selalu melangkah tegap tanpa tersisa sedikit pun ketakutan, tangan selalu siap menembak tanpa sedikit pun keraguan. Tak ada tempat bagi keragu-raguan. Keragu-raguan hanya cermin batin belum suwung . Diterangi batin yang suwung, kemudian pemimpin bisa memutuskan apa saja yang harus diputuskan tanpa beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ksatria yang bertindak cepat tanpa dibimbing oleh batin yang suwung , serupa dengan tentara yang menembak kesetanan ke segala arah. Pemimpin Brahmana yang suwung tanpa disertai oleh kesigapan dan kecepatan bertindak hanya akan menjadi tukang doa yang salah alamat. Karena bukan untuk itu dia lahir. Pemimpin dilahirkan untuk bertindak, biar segala macam bentuk kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dan keterbelakangan segera bisa dikurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Intisari kepemimpinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, seorang ayah pernah berpesan kepada putranya: memandanglah seperti langit, bertindaklah seperti bumi. Dalam pandangan langit (baca: suwung ), semuanya dipayungi dan dilindungi tanpa mengenal pengotak-ngotakan. Namun, dalam bertindak, laksanakan hukum bumi secara ketat: bila menanam ketela dapatnya ketela, menanam kelapa buahnya kelapa. Siapa yang korupsi akan dicaci, ia yang mengabdi akan dihormati. Itu sebabnya tetua menyaring intisari kepemimpinan dalam kalimat sederhana: batin yang sunyi, badan yang mengabdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan ini yang dibadankan secara mendalam oleh pemimpin seperti Mohammad Hatta, Nelson Mandela, dan HH Dalai Lama. Tatkala berselisih paham dengan atasannya, tanpa beban Pak Hatta kembali ke profesinya yang semula sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada. Menyisakan pesan jelas sekali, keegoan dan keakuan pemimpin mesti kalah dibandingkan ketertiban dan kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika rezim kulit putih jatuh, Nelson Mandela yang dipenjara lebih dari seperempat abad plus nyaris mati berkali-kali, lebih memilih memaafkan dibandingkan mengumbar dendam. Pelajarannya terang sekali, kekuasaan bukan sarana untuk mengumbar dendam dan keserakahan. Namun, hanya kendaraan untuk meninggalkan pulau keterbelakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HH Dalai Lama lahir dan bertumbuh di lahan penuh kesedihan dan penderitaan. Umur belasan tahun, negaranya diambil orang. Mengungsi di tempat amat sederhana di India Utara lebih dari setengah abad. Rakyatnya menjadi minoritas di negeri sendiri. Ketika melafalkan doa ini, beliau sering menangis di depan umum: semasih ada ruang, semasih ada makhluk, izinkan saya terus-menerus lahir ke tempat ini, biar ada yang membimbing para makhluk keluar dari kegelapan kemarahan, keserakahan, dan kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya pengertiannya terang sekali, kesedihan dan penderitaan bukanlah api untuk mengobarkan amarah ke mana-mana. Ia hanya sapu pembersih yang membuat hati manusia semakin jernih dari hari ke hari. Andaikan suatu hari nanti peradaban bisa melahirkan pemimpin dengan batin yang sunyi dan badan yang mengabdi mungkin di situ baru kekuasaan bisa menjadi sahabatnya kejernihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas, 30 Januari 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-5506514776570201058?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/5506514776570201058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=5506514776570201058' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/5506514776570201058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/5506514776570201058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2010/01/kuasa-kisruh-jernih.html' title='Kuasa, Kisruh, Jernih'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-3523663986286781813</id><published>2009-10-17T20:48:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T20:54:30.401-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melenggang Pulang'/><title type='text'>Melenggang Pulang</title><content type='html'>&lt;i&gt;Mari pulang, marilah pulang, Pulanglah kita bersama-sama.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bencana menerjang Indonesia dengan jumlah korban ratusan ribu manusia, ada yang menulis Indonesia, Natural disaster or mass murder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara pandang ini, bencana tidak punya wajah lain terkecuali buruk.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, ia yang merenung di tengah bentangan sejarah, bercakap-cakap dengan alam, melihat tidak ada satu pun putaran waktu di mana kehidupan hanya berisi kebahagiaan. Amerika Serikat sebagai contoh, sebelum menjadi kekuatan ekonomi nomor satu, dunia sempat mengalami sejarah yang berdarah-darah. Jepang sebagai kekuatan ekonomi nomor dua dunia bangkit justru setelah dua kotanya hangus oleh bom atom. China yang kini duduk sebagai kekuatan ekonomi nomor tiga juga serupa. Beberapa puluh tahun lalu, bahkan memakan nasi pun sudah terhitung mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Becermin dari sini, mendengar ada korban manusia akibat gempa tentu mengundang keprihatinan sekaligus doa semoga semua berbahagia. Berbuat untuk meringankan beban korban tentu lebih mulia. Namun yang layak direnungkan, alam sebagai guru sedang berbicara apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Timur dikenal beberapa jenis guru. Dari guru hidup, guru buku suci, guru simbolik, sampai dengan guru rahasia di dalam diri. Menyangkut guru hidup dan guru buku suci, lebih mudah mencapai kesepakatan. Namun menyangkut guru simbolik, apa lagi guru rahasia di dalam diri, hanya mereka yang dibekali kepekaan yang bisa merasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila boleh lari, semua mau lari dari bencana. Karena tidak bisa lari, para suci kemudian merenung dalam-dalam dan menemukan cahaya. Yesus bercahaya ribuan tahun karena disakiti. Mahatma Gandhi menerangi banyak jiwa karena ditembak mati. Jalalludin Rumi rangkaian katanya menggetarkan sukma juga karena mengalami kesedihan kehilangan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajarannya, bencana tidak saja hulunya air mata. Ia juga awal kehidupan yang bercahaya. Kehilangan orang dekat akibat bencana tentu menyedihkan. Cacat tubuh karena terkena reruntuhan bangunan, sungguh kejadian yang menyentuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kehidupan penuh guru simbolik. Di antara demikian banyak simbolik, kematian adalah yang teragung. Di tengah kebahagiaan, sedikit yang mau merenung dalam-dalam. Namun di depan kematian, kita terpaksa kita menggali dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wajah dukacita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja yang pernah ”bercakap-cakap” dengan kematian akan dibukakan makna, dukacita memiliki dua wajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ia membuat manusia menjadi semakin terhubung ke atas, samping, bawah. Terutama karena melalui dukacita, kita sadar ternyata manusia hanya makhluk tidak berdaya. Dalam ketidakberdayaan, kita hanya saling menyayangi yang menyembuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dukacita berfungsi seperti mesin turbo yang mendorong manusia keluar dari alam derita ini. Andaikan kehidupan hanya berisi kebahagiaan, maka manusia akan terus berputar dalam lingkaran kelahiran, penderitaan, kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila begini cara memandangnya, Indonesia bukanlah neraka yang hanya berisi hukuman dan kesalahan. Indonesia adalah lahan subur pertumbuhan jiwa. Perhatikan apa yang terjadi ketika Aceh diterjang tsunami, tidak saja sahabat Islam yang menyediakan tangan untuk membantu. Orang Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu ikut bersama-sama berdoa sekaligus mengulurkan bantuan. Dalam bahasa seorang guru, saat manusia membantu, sesungguhnya tidak saja sedang meringankan beban pihak lain, tetapi juga membangkitkan energi kasih sayang yang ada dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Peru pernah ditulis oleh para tetua ribuan tahun lalu, tidak ada yang kebetulan, semuanya hanya rangkaian pesan. Di tempat di mana alam kerap menggoda manusia dengan dukacita, mungkin layak bertanya, seberapa banyak manusia yang sudah menemukan cahaya di balik dukacita kemudian mengizinkan cahaya itu membimbing dirinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Serupa rumah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan serupa rumah. Bila rumahnya kotor penuh sampah, ia mengundang lalat dan nyamuk berdatangan. Jika taman penuh bunga bermekaran, ia mengundang kupu-kupu warna-warni berdatangan dari segala penjuru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan alam yang kerap berbicara dengan bahasa dukacita, memaki dan mencaci mungkin hanya akan menambah tumpukan sampah. Mencari cara bertumbuh di tengah lumpur dukacita mungkin lebih membuat Indonesia menjadi taman jiwa yang menawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif ini, bisa dimaklumi bila Ezra Bayda memberi judul karyanya At Home In The Muddy Water. Di Timur, puncak perjalanan ke dalam kerap disimbolkan dengan bunga padma yang bertumbuh dan mekar di lumpur, tetapi tidak kotor oleh lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ibarat lumpur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana ibarat lumpur. Hanya mereka yang penuh cinta dan keikhlasan yang bisa mekar seperti bunga padma. Dikatakan demikian, karena kekuatan suci dari atas sedang memancing manusia dengan kasih sayang, dan siapa yang mengisi hidupnya dengan cinta dan keikhlasan, sedang mencoba memakan kail yang datang dari atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ini terjadi, bencana bukan hukuman, ia hanya bimbingan untuk segera pulang. Persis seperti lirik lagu anak-anak yang dikutip di awal. Senang-sedih dan dualitas lainnya ada dalam pikiran. Belajar melampauinya dengan memeluk semua apa adanya. Inilah yang dilakukan para guru tercerahkan di Timur.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-3523663986286781813?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/3523663986286781813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=3523663986286781813' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/3523663986286781813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/3523663986286781813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2009/10/melenggang-pulang.html' title='Melenggang Pulang'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-2963214088403129611</id><published>2009-10-17T19:49:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T20:54:54.253-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bunga Tidak Pernah Bersuara'/><title type='text'>Bunga Tidak Pernah Bersuara</title><content type='html'>Riuh, ribut, demikianlah kira-kira suasana komunikasi antarmanusia di tahun 2009. Mantan presiden AS George W. Bush mengakhiri jabatannya dengan dilempar sepatu. Negeri ini juga riuh dan ribut urusan presiden dan pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah suhu komunikasi yang memanas ini, ada indahnya bila sekali-sekali sepi-sunyi yang mengemuka. Bukan sebagai lawan keributan. Hanya mengemuka seperti menarik nafas dalam-dalam sekali waktu setelah lama tidak merasakan segarnya bernafas.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam menelusuri segarnya kehidupan, ada dua jalur yang tersedia. Ada yang berjalan dengan intelektualitas, ada yang melangkah di jalan-jalan bakti (devotion). Pada pendekatan pertama, semuanya dianalisis. Itu sebabnya para master meminta penekun meditasi di Barat (yang kebanyakan berjalan di jalan intelektualitas) segera merealisasikan kekosongan (emptiness). Begitu mengalami langsung kekosongan (bukan mengerti melalui intelek) baru bisa mengagumi sepi-sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan bakti, tidak diperlukan terlalu banyak perdebatan. Yang ada hanya bakti yang tulus, penuh sujud, rasa hormat yang mendalam. Dan ujung-ujungnya sama, mengalami kekosongan. Dalam bahasa seorang guru yang sudah sampai di puncak, lakukan terus menerus bakti. Sampai di sebuah titik sehingga yang memberi, yang diberi maupun pemberian sesungguhnya tidak ada. Itulah sepi-sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sembah rasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Timur dulunya kebanyakan manusia berjalan di jalan-jalan bakti. Itu sebabnya berdoa dipadankan dengan sembahyang. Ada kata sembah di sana. Awalnya memang dimulai dengan dualitas antara penyembah dan yang disembah, namun kemudian keduanya menjadi satu, serta ujungnya yang satu pun lenyap dalam keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semua sembah mulai dengan sembah raga. Namun karena badan terbuat dari bahan-bahan yang bertentangan (air-api, tanah-udara), banyak manusia yang hanya menggunakan sembah raga kemudian mengalami guncangan-guncangan. Seberguncang bahan-bahan yang membentuk tubuh. Dari sinilah lahir kebutuhan melakukan sembah rasa. Di mana lebih dari sekadar menggunakan raga, badan mulai dibimbing oleh getaran-getaran rasa. Bukan rasa suka yang bertentangan dengan duka, bukan suci yang diseberangkan dengan kotor. Melainkan rasa yang memeluk mesra semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti seorang Ibu yang merawat putera tunggalnya. Tatkala puteranya tersenyum, ia gendong. Manakala puteranya menangis sambil menyisakan kotoran di tempat tidur, lagi-lagi ia gendong puteranya dengan penuh kasih sayang. Sembah rasa juga serupa, belajar tersenyum pada apa saja yang datang dalam kehidupan. Sebagai hasilnya, hidup berputar lentur bersamaan dengan irama alam. Siang tersenyum pada cahaya terang dengan jalan bekerja. Malam berpelukan dengan kegelapan melalui istirahat di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan ini, semuanya menjadi sembahyang. Tatkala makan maka makanlah dengan penuh rasa syukur. Di hari yang sama ada jutaan manusia kelaparan. Ketika menyapu, menyapulah sambil bersiul. Di menit yang sama ada jutaan manusia sakit di rumah sakit. Bila begini caranya, every act is a rite. Setiap langkah adalah sembah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Jalalludin Rumi menjadi wakil dalam hal ini. Hidup serupa bawang merah. Di luar kotor kecoklatan. Tatkala dibuka jadi putih. Semakin dibuka semakin putih. Tambah dibuka tambah putih. Dan tatkala tidak ada lagi yang bisa dibuka, yang tersisa hanya air mata yang meleleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sembah rahasia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia yang sudah berjalan jauh dengan sembah rasa, suatu waktu akan melihat bila alam menyimpan banyak rahasia. Di Timur, Tantra adalah salah satu jalan rahasia. Tidak banyak orang yang bisa membuka pintu Tantra. Di samping berat juga berbahaya. Ada yang mengandaikan Tantra dengan jalan tol yang cepat sampainya. Namun mengalami kecelakaan di jalan tol amat sangat berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya ada yang membagi perjalanan Tantra ke dalam tiga gerbang. Kehidupan diandaikan dengan pohon beracun karena banyak godaannya. Di tahap pertama, manusia disuruh menjauh dari pohon beracun. Makanya banyak imbauan melakukan puasa, pengendalian diri, hidup berkecukupan, penuh rasa syukur. Begitu lewat gerbang pertama yang ditandai oleh kemampuan menguasai diri (self mastery) yang baik, kemudian di langkah kedua murid akan diminta untuk menjadi penjaga pohon beracun. Mulailah seorang penekun menjadi “penggembala domba” bagi banyak kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang jadi guru, penulis, pemimpin upacara, pemimpin yang jujur. Intinya satu, menjaga jangan sampai terlalu banyak kehidupan keracunan. Begitu jam terbang menjadi penggembala domba sudah cukup, baru boleh masuk ke inti sari Tantra: mengolah racun menjadi obat kehidupan. Makanya, bila di kebanyakan jalur hawa nafsu dilarang, di Tantra ada pendekatan menggunakan hawa nafsu (khususnya seks) sebagai kendaraan transformasi spiritual. Bukan untuk dibawa hanyut oleh nafsu, namun menghanguskan nafsu dengan nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya di banyak tempat di Jawa, Sumatera, Kalimantan, India, Amerika Latin banyak peninggalan-peninggalan tua yang memamerkan hubungan seksual. Di Bali disebut lingga-yoni, nyegara-gunung. Siapa saja yang sudah membumihanguskan semua keinginan (termasuk keinginan menjadi suci atau tercerahkan), ia mulai belajar melihat rahasianya rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persembahan di banyak tradisi (tidak saja di Bali) seringkali berisi bunga. Di sejumlah negara (seperti Jepang) bahkan menempatkan bunga secara amat istimewa. Seperti ada rahasia di sana. Bunga mekar mewakili keindahan. Namun seberapa indah pun bunga, beberapa waktu kemudian harus ikhlas menjadi sampah. Dan baik tatkala diberi sebutan indah maupun sebutan sampah, bunga tidak pernah bicara. Siapa yang hidupnya mengalir sempurna dari bunga (sukses, dipuja) menjadi sampah (gagal, dicerca), kemudian (bila bisa mengolahnya) menjadi bunga lagi, ia sudah membuka salah satu pintu rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru yang sudah sampai di sini pernah menulis: Physical isolation is not the true solitude. Totally free from any grasping, that’s the true solitude. Lepas bebas dari segala kemelekatan (baik-buruk, benar-salah), itulah keheningan sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bertanya, bila sudah lepas-bebas, lantas apa pedoman bertindak? Seorang guru berbisik pada muridnya: memandanglah seperti langit, bertindaklah seperti ibu pertiwi. Langit memayungi semuanya, ibu pertiwi bertindak ketat mengikuti hukum alam. Bila menanam jagung, buahnya jagung. Kalau memelihara kelapa, buahnya kelapa.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-2963214088403129611?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/2963214088403129611/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=2963214088403129611' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/2963214088403129611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/2963214088403129611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2009/10/bunga-tidak-pernah-bersuara.html' title='Bunga Tidak Pernah Bersuara'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-7311568826250683853</id><published>2009-09-04T20:43:00.000-07:00</published><updated>2009-09-04T21:08:31.532-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bunga Cinta untuk Teroris'/><title type='text'>Bunga Cinta untuk Teroris</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SqHjDnMU7JI/AAAAAAAADAI/dCk_TaKrBRE/s1600-h/gedeprama.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 161px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SqHjDnMU7JI/AAAAAAAADAI/dCk_TaKrBRE/s200/gedeprama.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377829081256881298" /&gt;&lt;/a&gt;Ada yang serupa dalam cara manusia berespons di muka bumi, yakni mencampakkan hal-hal yang menjengkelkan, berebut hal- hal yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan dalam perang dan perceraian, dalam spiritualitas juga serupa. Tuhan dipuja setan dicerca, orang suci dipuji orang jahat dimaki. Hasilnya dicatat rapi oleh sejarah, berbagai guncangan tidak kian menjauh, malah kian dekat dengan kadar yang semakin menakutkan. Bom teroris, nuklir Korea Utara hanya sebagian bukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bahan pertumbuhan&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Amerika Serikat dan George W Bush adalah salah satu guru. Kedigdayaan AS mau menghentikan teroris dengan kekerasan. Dalam usaha ini, terang-terangan menyebut segelintir negara sebagai ”poros setan”. Setelah sekian tahun berlalu, tidak saja teroris kian menyeramkan, Afganistan dan Irak menyedihkan, AS pun mengalami penurunan menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memberi pelajaran bermakna. Menyelesaikan kekerasan dengan kekerasan, menghentikan kekejaman dengan kekejaman, serupa dengan menambah bensin pada api membara, makin lama makin berkobar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila boleh jujur, setiap putaran waktu selalu ada penggoda. Yesus digoda Judas, istri Rama dilarikan Rahwana, Shri Krishna terpaksa turun perang karena keserakahan Duryodana, Buddha berkali-kali dicoba dibunuh Devadatta. Rangkaian sejarah ini bercerita, mencoba melenyapkan penggoda tidak saja sia-sia, tetapi juga melanggar hukum alam. Lebih dari itu, tidak ada pertumbuhan tanpa godaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan seorang papa kepada putranya, ”Semakin tua umurmu, semakin banyak masalah yang datang. Namun, tolong diingat, persoalan muncul tidak untuk menghancurkan, tetapi untuk membuatmu tambah dewasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semesta memang semakin tua, akibatnya masalah semakin menumpuk. Namun, hanya tangan kebijaksanaan yang bisa mengolah persoalan menjadi berkah pertumbuhan. When sorrow invades the mind, compassion arises. Saat kegelapan kesedihan mengguncang, ia tidak mengundang kegelapan kemarahan, tetapi memunculkan cahaya kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu majelis taklim di Jakarta pernah terdengar pesan indah, ”Sahabat-sahabat yang keras dan ganas itu jangan dijauhi. Harus ada yang mendekati, menyayangi, mencintai mereka. Terutama agar mereka keluar dari lingkaran gelap kekerasan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undangan kebijaksanaan itu sungguh menyejukkan, sekaligus memberi masukan, masih banyak tersisa wajah yang sejuk, teduh, dan memayungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kakek mengelus cucu yang sedang marah dan sedih sambil berucap lembut: ”Sesakit apa pun tubuhmu, seberat apa pun beban jiwamu, ingatlah manusia tidak pernah menjadi musuh kita. Musuh sesungguhnya adalah kesalahpahaman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bermesraan&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Coba perhatikan para teroris, mereka dibikin oleh sepasang orangtua yang berpelukan dan bermesraan. Didoakan orangtua agar menjadi manusia berguna. Bertumbuh di sekolah yang mengajarkan kebaikan. Berdoa di tempat ibadah yang mendoakan keselamatan. Namun, karena berbagai hal yang tak sepenuhnya dimengerti, mereka diselimuti sejumlah awan kesalahpahaman. Dan awan ini tak menjadi hasil kerja mereka seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakadilan tatanan dunia, pemberitaan yang penuh kekerasan, pemerintah yang tidak sepenuhnya terkelola, sekolah yang menakutkan, keluarga yang mengalami keruntuhan, miskinnya keteladanan tokoh, iklan yang terus menggoda nafsu, hanyalah sebagian jejaring yang menggiring mereka masuk terowongan gelap kesalahpahaman. Mencaci mereka hanya akan mempertebal kesalahpahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bingkai pemahaman seperti ini, tidak adil bila menempatkan teroris sebagai terdakwa yang hanya layak disalahkan. Menyadari pendidikan, pergaulan, dan pemahaman agama para teroris yang terbatas, mereka lebih layak disebut ”korban” kesalahpahaman dibandingkan menjadi ”penyebab” kesalahpahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serupa dengan seseorang yang amat marah kepada lalat yang masuk rumahnya, sementara rumahnya penuh kotoran menjijikkan. Sebenarnya dengan semua kekerasan dan kekisruhan yang ditimbulkan, umat manusialah yang mengundang kekerasan teroris. Padahal, bila rumahnya bersih dan wangi, otomatis lalatnya menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah, setelah kekerasan tak kunjung pergi dengan jalan memaki-maki teroris, mungkin ini saatnya membersihkan rumah keseharian. Meminjam bahasa tetua, orang baik terlihat baik, orang jahat pun terlihat baik, bila kita di dalamnya cukup baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pertapa berkali-kali menggigil menangis saat bom teroris meledak, mendengar suara guru di dalam, ”Bawa orang-orang pulang. Kebencian, kemarahan, apalagi kekejaman bukan rumah sebenarnya. Rumah jiwa adalah cinta dan keikhlasan”. Ini mengingatkan kisah Nabi Nuh. Kendati tempat tinggalnya padang pasir tak berair, ia ikuti suara saat diminta membuat perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterangi cahaya spiritual seperti ini, mungkin layak dipertimbangkan mengirim bunga cinta bagi teroris. Bagi pemimpin dan tokoh, hati-hatilah karena menjadi teladan yang ditiru. Bagi para guru (terutama guru agama), ajarkan wajah agama yang indah di awal, di tengah, dan di akhir. Bagi orangtua, sayangi putra-putri di rumah. Bagi sahabat media, wartakan kelembutan. Pengelola televisi, tayangkan gambar-gambar yang bisa membangunkan energi kasih dalam diri manusia. Itulah sebagian contoh mengirim rangkaian bunga cinta untuk mereka yang berpotensi menjadi teroris pada masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirim bunga cinta kepada pihak-pihak yang berpotensi menyakiti adalah bukti rumah batin sudah bersih sekaligus jernih. Dengan batin seperti inilah kita songsong masa depan yang lebih membahagiakan. Mistikus sufi Jalaludin Rumi menulis, hidup seperti tinggal di losmen, tiap hari ganti tamu. Siapa pun tamunya (senang-sedih, suka-duka), jangan lupa tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kompas, 05 September 2009&lt;br /&gt;Gede Prama, Penulis Buku Sadness, Happiness, Blissfulness: Transforming Suffering Into The Ultimate Healing&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-7311568826250683853?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/7311568826250683853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=7311568826250683853' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/7311568826250683853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/7311568826250683853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2009/09/bunga-cinta-untuk-teroris.html' title='Bunga Cinta untuk Teroris'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SqHjDnMU7JI/AAAAAAAADAI/dCk_TaKrBRE/s72-c/gedeprama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-206709140886446751</id><published>2009-07-18T01:39:00.000-07:00</published><updated>2009-07-18T01:42:38.472-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kaya Rasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kaya Makna'/><title type='text'>Kaya Rasa, Kaya Makna</title><content type='html'>&lt;i&gt;”Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam....”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan badan berjumpa kemiskinan batin, demikian seorang murid mendengar bisikan gurunya pada akhir meditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit yang seyogianya menjadi tempat penyembuhan, tidak saja mahal, malah mengirim pasiennya ke penjara. Sekolah yang dulu menggembirakan, kini pada saat ujian dijaga polisi, Bahkan, terjadi berbagai penangkapan, menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sekolah yang indah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di banyak tempat, ditemukan home schooling. Anak-anak takut ke sekolah karena dipukuli teman, guru galak, pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya. Ini memberi inspirasi, saatnya merekonstruksi sekolah agar indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah pelatihan sopir taksi pernah dilakukan latihan memberi yang menarik. Pada hari pertama peserta diminta membawa nasi bungkus karena tidak disediakan makan siang. Peserta berlomba membawa makanan yang enak. Ketika makan, peserta diminta meletakkan nasinya di kelas sebelah untuk dimakan peserta sebelah. Sementara yang bersangkutan memakan makanan yang dibawa orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kedua juga diminta membawa nasi bungkus. Setelah tahu kalau nasi yang dibawa untuk kelas sebelah, banyak yang membawa nasi seadanya. Tidak sedikit hanya membawa nasi putih saja. Ternyata aturannya berubah, peserta harus memakan nasi yang dibawa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin diilustrasikan di sini, menyangkut perut sendiri betapa borosnya manusia memberi, bahkan banyak yang stroke. Namun terkait perut orang, betapa sedikit yang diberikan. Tiba-tiba para sopir tersentak, betapa egoisnya hidup. Ego inilah yang menciptakan penderitaan. Maka ada guru yang berpesan: ”Memberi, memberi, memberi. Lihat bagaimana hidupmu menjadi sejuk dan lembut setelah rajin memberi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah guru boleh meniru pola pelatihan sopir itu, bisa juga mengajak anak didik ke panti asuhan, bermain bola bersama anak kampung. Intinya, menyadarkan pentingnya memberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa manusia jenis ini, saat memberi sebenarnya orang tidak saja mengurangi beban pihak lain, tetapi juga sedang membangun potensi kebajikan dalam diri. Ini yang kelak memancarkan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tiga tangga pemberian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian terdiri tiga tangga. Pertama, semua makhluk sama dengan kita: ”mau bahagia, tidak mau menderita”. Karena itu, jangan pernah menyakiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, para makhluk lebih penting. Nasi, udara, pekerjaan, semua yang memungkinkan hidup berputar, dihasilkan makhluk lain. Binatang bahkan terbunuh agar manusia bisa makan daging. Untuk itu, banyaklah menyayangi. Dari menanam pohon, melepas burung, menyayangi keluarga, bekerja jujur, tulus, sampai memberi beasiswa anak-anak miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, karena semua makhluk lebih penting, belajarlah memberi kebahagiaan, mengambil sebagian penderitaannya. Perhatikan doa Santo Fransiskus dari Asisi. Beri saya kesempatan menjadi budak perdamaian. Di mana ada kegelapan kemarahan, biar saya hadir membawa cahaya kasih. Di mana ada bara api kebencian, biar batin ini muncul membawakan air suci memaafkan. Mistikus sufi Kabir berkata, ”Nur terlihat hanya beberapa detik, tetapi ia mengubah seorang penyembah menjadi pelayan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalai Lama kerap menitikkan air mata saat membacakan doa ini, ”Semasih ada ruang, semasih ada makhluk. Izinkan saya terus terlahir ke tempat ini agar ada yang membantu semua makhluk keluar dari penderitaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalan lagu di awal tulisan mengingatkan, dengan mencangkul yang dalam, akar-akar pohon membantu batang, daun, bunga, dan buah bertumbuh. Kehidupan manusia juga serupa. Hanya pemberian yang memungkinkan seseorang ”mencangkul hidupnya” secara mendalam. Hasilnya, bunga kehidupan mekar: kaya rasa, kaya makna. Sampai di sini, guru berbisik: bahkan kematian pun bisa berwajah menawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bagi yang terbiasa memberi (melepaskan), tidak lagi tersisa kelekatan yang membuat kematian menakutkan. Kematian menakutkan karena manusia belum terbiasa melepaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, melalui kematian manusia melaksanakan kesempurnaan pemberian. Jangankan uang, tubuh pun diikhlaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh menyatu dengan tanah, ikut menghidupi makhluk di bumi karena menghasilkan padi, sayur, buah. Unsur air bergabung dengan air agar makhluk tidak kehausan. Unsur api menyatu dengan api agar makhluk bisa memasak. Unsur udara bersatu dengan udara agar makhluk bisa bernapas. Unsur jiwa (ada yang menyebut kesadaran) menyatu dengan semua jiwa (kesadaran) agar semua makhluk teduh. Inilah kematian yang menawan. Melalui kematian manusia bukan kehilangan, malah memberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru, semoga ada pemimpin yang tertarik mencangkul hidupnya secara mendalam. Lalu tersentuh untuk meringankan beban mereka yang kerap menangis oleh biaya sekolah, biaya berobat, biaya menemukan keadilan yang serba mahal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-206709140886446751?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/206709140886446751/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=206709140886446751' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/206709140886446751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/206709140886446751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2009/07/kaya-rasa-kaya-makna.html' title='Kaya Rasa, Kaya Makna'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-4574052842934723163</id><published>2009-07-16T06:23:00.000-07:00</published><updated>2009-07-18T01:43:01.104-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Damai dalam Setiap Langkah'/><title type='text'>Damai dalam Setiap Langkah</title><content type='html'>Di Bali ada cerita seorang anak yang pintar, cerdas, ganteng bernama Nyoman. Karena itu ia disayangi orang. Bosan dengan semua ini, ia datang ke hutan menemui penyihir. Dan diberilah Nyoman seruling waktu yang hanya bisa diputar ke depan. Dan mulailah ia bereksperimen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama ia putar ke masa remaja. Tidak berapa lama ia bosan, diputar lagi seruling waktunya ke masa tua. Ia lihat seorang ayah dengan seorang istri yang  menua. Ini lebih membosankan lagi, ia putar ke masa lebih tua lagi. Dan di sini baru timbul penyesalan. Ada banyak momen kekinian yang lupa dinikmati. Masa kanak-kanak yang penuh tawa, masa remaja yang penuh persahabatan, masa kuliah yang penuh perdebatan. Dan menangislah Nyoman pergi ke hutan minta penyihir untuk mengembalikan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh jujur, setengah lebih manusia berperilaku serupa Nyoman: buru-buru  ke masa depan. Dan sesampai di sana, baru menyesal  ada banyak masa kini yang sudah jadi masa lalu  lupa dinikmati. Manusia cerdas dan keras sekali mempersiapkan diri menyongsong masa depan. Namun sering gagal menikmati dan mensyukurinya. Dalam bahasa kawan yang suka mengeluh, dulu tidak bisa makan enak karena tidak punya uang. Sekarang juga tidak bisa makan enak karena keburu stroke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa ini serupa. Pengap dengan orde lama  kemudian ia ditumbangkan, datanglah orde baru. Orde terakhir serupa, nikmatnya sebentar, lagi-lagi harus ditumbangkan diganti orde reformasi. Ada tanda-tanda kuat, inipun sudah membawa kebosanan  banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban manusia setali tiga uang. Bergerak dari satu kebosanan ke kebosanan lain: perang dunia pertama, perang dunia kedua, perang dingin antara dua negeri adi kuasa, hantaman bom teroris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hari ini sebagai hadiah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena lelah dengan kehidupan yang terus berkejaran ke masa depan, kemudian banyak guru meditasi mengajari muridnya berpelukan dengan masa kini. Dan tidak perlu menunggu dengan syarat  yang berat dan sulit, dengan badan sekarang, umur sekarang, kekayaan materi sekarang belajarlah memeluk semuanya dengan senyuman dan persahabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah dibuktikan, lebih mudah menemukan kesehatan dan kebahagiaan dengan senyuman dan persahabatan dibandingkan dengan kemarahan dan kebencian. Makanya, tidak sedikit penulis (sebagai contoh Spencer Johnson dalam bukunya berjudul The Present)  menyimpulkan kalau hari ini sama dengan the present (hadiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami, istri, anak-anak, orang tua,  rumah, pekerjaan, kesehatan sekarang, memang tidak sempurna, namun semuanya menunggu untuk disyukuri. Indonesia sebagai rumah banyak manusia juga tidak sempurna. Namun ia menyisakan berlimpah hal yang layak disyukuri. Dari matahari terbit dan terbenam membawa keindahan, dengan pendapatan sedang-sedang saja sudah bisa menggaji pembantu lebih dari seorang, godaan bencana sering kali membukakan bukti kalau manusia Indonesia masih peduli dan punya hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sahabat yang berfantasi seperti ini. Andaikan kita tersesat di luar angkasa, mimpi terindah yang ingin segera terealisasi adalah melangkahkan kaki di planet indah bumi ini.  Pakistan boleh bergelora dengan politiknya, Timur-Tengah dengan Israel boleh masih berseteru, namun di sini di bumi ini masih tersedia berlimpah hal yang layak disyukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pernafasan adalah keindahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bertanya, kalau demikian kenapa begitu susah menikmati masa kini? Bila diibaratkan rumah, tubuh manusia berisi demikian banyak jendela  terbuka. Mata, telinga, mulut, hidung,  pikiran, keinginan, perasaan terbuka setiap hari tanpa dijaga. Sudah terbuka tanpa penjaga, kita membiarkannya menonton acara-acara menakutkan di televisi, mendengarkan dialog penuh kekerasan di radio. Dan jadilah kehidupan seperti rumah berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemahaman mendalam akan hal inilah kemudian banyak orang menjaga  jendela-jendela kehidupannya dengan penjaga yang bernama kesadaran dan kewaspadaan. Dan mengaktifkan penjaga ini amat dan teramat sederhana, murah meriah. Hanya dengan memperhatikan nafas. Bagi siapa saja yang perjalanan meditasinya sudah jauh, akan tahu ketika manusia rajin memperhatikan nafas, tidak saja penjaga bernama kesadaran dan kewaspadaan mulai bekerja, namun juga menemukan ada yang indah dalam bernafas penuh kesadaran: berpelukan dengan masa kini yang abadi!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa lalu telah berlalu, masa depan belum datang, kedua-duanya tidak dalam genggaman. Satu-satunya waktu kehidupan yang menyediakan dirinya untuk bisa dipeluk adalah masa kini. Dan untuk memeluknya, ia sesederhana tersenyum, lihat, nikmati, syukuri udara masuk dan keluar melalui lubang hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan lebih mudah lagi melakukannya kalau seseorang sudah bisa semengagumkan Jalalludin Rumi: all are sent as guides from the beyond. Semua yang terjadi membawa bimbingan-bimbingan dan tuntunan-tuntunan.&lt;br /&gt;Sukses indah, gagal juga indah. Bukankah kegagalan memberi tahu batas-batas kemampuan diri? Disebut suci baik, disebut munafik juga baik. Bukankah sebutan munafik membuat kita jadi rendah hati? Semuanya menyediakan tuntunan-tuntunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila begini cara memandangnya, maka menyatu dengan masa kini yang abadi, bisa dilakukan dengan  lebih mudah sekaligus indah. Ketenangan membuat semuanya lebih menawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini tidak hanya bisa dilakukan di ruang meditasi. Dari membuka mata di pagi hari, menyatu dengan air yang mengucur dari wastafel, tersenyum pada kemacetan, memimpin rapat, pulang memeluk pipi orang rumah. Inilah yang disebut damai dalam setiap langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Dalai Lama, transformasi kedamaian dunia melalui kedamaian diri memang  sulit tapi itu satu-satunya cara. Untuk itulah perlu melengkapi keindahan pernafasan dengan kesadaran dalam setiap kontak. Tatkala mata mengalami kontak (misalnya melihat orang menjengkelkan), ia menimbulkan perasaan tertentu. Latihannya kemudian, perasaan ini bersahabat dengan kewaspadaan atau bersahabat dengan kebodohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterangi kesadaran dan kewaspadaan, setiap langkah menjadi  langkah kedamaian sekaligus langkah kesucian. Thich Nhat Hanh tidak memiliki saingan dalam hal ini. Dalam sejumlah karyanya (dari Present moment wonderful moment sampai Peace is every step), ia senantiasa menggaris bawahi  pentingnya kedamaian saat ini. Di mana pun penulis ini akan terdiam sebentar, menarik nafas, terhubung dengan kekinian setiap  mendengar bunyi bel. Di ruangan meditasinya di desa Plum Perancis ia menulis: bernafaslah, engkau masih hidup!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-4574052842934723163?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/4574052842934723163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=4574052842934723163' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/4574052842934723163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/4574052842934723163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2009/07/damai-dalam-setiap-langkah.html' title='Damai dalam Setiap Langkah'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-9194284366605600736</id><published>2009-07-16T06:12:00.000-07:00</published><updated>2009-07-18T01:43:25.824-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berjumpa Cinta Di Mana-Mana'/><title type='text'>Berjumpa Cinta Di Mana-Mana</title><content type='html'>Cerita manusia adalah cerita derita, demikian bisik seorang kawan. Di Pakistan, belum lama Bhenazir Bhutto menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, lehernya sudah ditembus peluru sampai tewas. Di Kamboja, pendeta Buddha berkelahi dengan polisi. Amerika Serikat yang menjadi tauladan dunia menjadi penghalang kesepakatan untuk mengurangi dampak pemanasan global. Gempa, tsunami,  kelaparan, mengunjungi semua pojokan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri ini serupa. Banyak pemilihan kepala daerah berakhir rusuh. Kekerasan di kalangan remaja amat mengkhawatirkan. Di Bali, kadang  kekerasan muncul bahkan ketika upacara dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Membaca tanda-tanda seperti ini, ada yang mengeluh, bila demikian bukankah hidup manusia sama dengan neraka? Entahlah, yang jelas wajah kehidupan yang terlihat  tergantung  pada siapa diri kita di dalam. Bila di dalamnya cinta, manusia berjumpa cinta di mana-mana. Jika di dalamnya kebencian, manusia menemukan kebencian di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Membangun rumah cinta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari segi bahan, manusia berbahankan cinta. 0rang tua berpelukan penuh cinta ketika manusia dibikin. Disusui Ibu penuh dengan pelukan cinta. Banyak ayah yang tidak jadi memasukkan makanan ke mulut, hanya karena mau berbagi cinta dengan anak. Makanan dan minuman manusia datang dari alam yang berlimpah cinta. Ada yang mengandaikan kehidupan sebagai hujan cinta yang tidak pernah berhenti. Cuman sebagian  memayungi dirinya dengan keangkuhan, sehingga badannya kering dari hujan cinta. Dengah bahan seperti itu, bila outputnya kebencian, mungkin kita perlu merenungkan prosesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku kehidupan serupa matahari. Bila sudah waktunya terbit, ia terbit. Jika saatnya terbenam, ia terbenam. Dan di dalam pikiran yang dipenuhi rasa cinta, matahari akan disebut menerangi, memberi energi. Dalam pikiran yang penuh keluhan, ia diberi judul panas, sumber kekeringan, awal paceklik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdiri di atas kesadaran seperti inilah kemudian banyak guru sepakat, fondasi awal membangun rumah cinta adalah pikiran yang terawasi secara rapi. Ketika senang diawasi, tatkala sedih juga diawasi. Persoalan dengan banyak manusia, terlalu melekat dengan hal-hal yang menyenangkan, menolak yang menjengkelkan, bosan dengan hal-hal biasa. Karena yang menyenangkan berpasangan dengan hal-hal yang menjengkelkan (seperti malam berpasangan dengan siang), maka  berputarlah kehidupan dalam siklus tanpa akhir: senang, sedih, bosan dan seterusnya. Inilah awal dari banyak kelelahan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar dengan akibat kelelahan inilah, kemudian sejumlah orang mengakhiri siklus terakhir hanya dengan mengamatinya. Being a compassionate witness, demikian saran seorang penulis meditasi. Lihat emosi dan pikiran yang naik turun seperti seorang nenek penuh cinta sedang melihat cucu-cucunya berlari ke sana ke mari. Semuanya sudah, sedang dan akan baik-baik saja. Atau lihat keseharian yang digerakkan senang, sedih, bosan seperti melihat aliran air di sungai. Kesenangan mengalir berlalu, kesedihan mengalir berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas siklus yang terawasi rapi ini, kemudian dibangun tiang-tiang keseharian yang  banyak membantu. ‘Bila tidak bisa membantu cukup jangan menyakiti’, demikian pesan sejuk seorang Lama. Atap rumah cinta kemudian bernama kaya karena rasa berkecukupan. Dalam bahasa seorang bapak yang amat mencintai anaknya: ‘dalam rasa berkecukupanlah letak kekayaan teragung’. Sebagai hasilnya, terbangunlah rumah-rumah cinta yang sejuk dan teduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar rumahnya tidak pengap, ia memerlukan pintu dan jendela. Pintunya bernama deep listening. Jendelanya berupa loving speech. Sebagaimana sudah menjadi rahasia banyak terapis, kesediaan untuk mendengarkan adalah sebuah penyegar banyak kepengapan jiwa di zaman ini. Tidak sedikit pasien yang sudah mendapatkan sebagian penyembuhan hanya dengan didengarkan. Dan bila harus berbicara, berbicaralah dengan bahasa-bahasa cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabat dengan kata-kata yang berkarisma, pernah ditanya kenapa kata-katanya demikian berkarisma. Dengan tangkas ia menjawab, gunakan kata-kata hanya untuk membantu bukan untuk menyakiti. Kombinasi antara kesediaan mendengar dengan kata-kata yang penuh cinta inilah yang membuat rumah cinta dipenuhi udara segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam hasil kontemplasi orang suci, bila ada waktu merenung renungkanlah kekurangan-kekurangan Anda. Jika ada waktu berbicara bicarakanlah kelebihan-kelebihan orang lain. Mendengar penjelasan seperti ini, ada yang bertanya, kalau demikian apa itu cinta?. The Book of Mirdad menulis: ‘cintamu adalah dirimu yang sesungguhnya’. Dengan kata lain, di luar cinta adalah kepalsuan-kepalsuan. Laksanakan  cinta, kemudian lihat  bagaimana ia membuka keindahan dirinya. Kata-kata  hanya penghalang pemahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah cinta berjalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pulau Okinawa Jepang, pernah ada guru karate yang disegani. Di suatu latihan,  muridnya bertanya apakah karate itu?. Dengan tersenyum ia menjawab: ‘karate means keep smiling in all situations‘. Karate berarti tersenyum di semua keadaan. Dan tentu  muridnya bingung. Hanya karena segan, kemudian ia diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang latihan, murid ini menemui tentara Amerika mabuk yang mau membuat keributan di jalan. Murid karate ini panas. Begitu  siap berkelahi, tiba-tiba gurunya muncul dengan penuh senyuman menyambut tentara-tentara tadi: ’selamat datang di Okinawa, Anda pasti sudah menikmati keindahan Okinawa’. Dan selanjutnya tidak saja perkelahian bisa dihindarkan, persahabatan dengan tentara Amerika  juga berjalan baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin yang disebut dengan rumah cinta berjalan. Ia menjadi contoh nyata cerita di awal: ‘bila di dalamnya cinta, maka manusia berjumpa cinta di mana-mana’. Berkaitan dengan momentum pergantian tahun, kebanyakan orang bertanya seberapa tua umur sekarang. Jarang yang mau bertanya, seberapa indah rumah cinta sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tatapan mata suami, kesetiaan isteri, rasa hormat putera/puteri, perlakuan atasan, senyuman tetangga, jabat tangan bawahan, bantuan teman atau keluarga, senyuman orang-orang yang pernah menyakiti, kita sedang melihat rumah cinta kita. Adakah ia lebih baik atau lebih buruk dari tahun lalu?. Perhatikan apa yang ditulis Thich Nhat Hanh dalam The diamond that cuts through illusion: ‘If you die with compassion in mind, you are a torch lightening our path‘. Ia yang meninggal dengan cinta kasih, menjadi lilin penerang banyak perjalanan. Mungkin ini yang membuat  Yesus Kristus  tidak pernah berhenti menerangi banyak sekali perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-9194284366605600736?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/9194284366605600736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=9194284366605600736' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/9194284366605600736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/9194284366605600736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2009/07/berjumpa-cinta-di-mana-mana.html' title='Berjumpa Cinta Di Mana-Mana'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-7762302548140220896</id><published>2009-06-21T21:15:00.000-07:00</published><updated>2009-06-21T21:20:55.745-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nyoman Mimpi Jadi Presiden'/><title type='text'>Nyoman Mimpi Jadi Presiden</title><content type='html'>&lt;b&gt;Oleh Gede Prama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman Orde Baru pernah ada rencana membuat film Nyoman Jadi Presiden, ternyata tidak lolos sensor. Ketika itu, jangankan manusia beneran, judul film pun tidak boleh ada kata ”menjadi presiden”. Kini berubah terbalik. Siapa saja boleh jadi presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/Sj8GJyjtPFI/AAAAAAAACvk/JkyIbmhlcsU/s1600-h/mimpi+jadi+pres.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/Sj8GJyjtPFI/AAAAAAAACvk/JkyIbmhlcsU/s200/mimpi+jadi+pres.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350001647599565906" /&gt;&lt;/a&gt;Ini membawa implikasi ke mana-mana, termasuk membuat anak kecil di Bali bernama Nyoman berfantasi menjadi presiden. Begitu kuat fantasinya, sampai-sampai semua kegiatan dilakukan sambil membayangkan dirinya jadi presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara fantasi dan mimpi memang belum seluruhnya terang. Namun, suatu malam, Nyoman bermimpi jadi presiden, dilantik dan berpidato. Sebagaimana tradisi Timur umumnya, Nyoman juga diajari tetua untuk berdoa pada saat-saat penting. Untuk itu, dalam mimpi menjadi presiden, Nyoman berdoa, ”Kapan saja berjumpa orang, akan kupandang diriku yang paling hina. Dan jauh di kedalaman batin, akan kutempatkan orang lain di tempat paling mulia”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah melantunkan doa ini, Nyoman merenung sejenak, heran, tak mengerti dari mana inspirasi doa datang. Rasanya ia muncul spontan, bukan hafalan. Dan, seperti doanya belum lengkap, lagi-lagi bibirnya bergerak di luar kesadaran, ”Bila ada yang datang dengan sikap bermusuhan, membawa pedang amarah, api dendam, biarlah ia hadir seperti permata yang sulit ditemukan. Karena hanya melalui bara api dendam dan pedang amarah, bisa lahir bayi-bayi kesabaran dan kebijaksanaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai berdoa, Nyoman teringat guru yoga. Melalui sujud dan bakti kepada guru, segala kegelapan keraguan berubah menjadi cahaya terang pengertian dan bimbingan. Ia pun melakukan guru yoga dalam mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Merendah itu indah&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di Barat, lengkap dengan sejarah budayanya yang panjang, manusia diajarkan untuk percaya diri. Kualitas seseorang amat ditentukan seberapa tinggi percaya dirinya. Perhatikan mereka yang berhasil menjadi presiden AS. Jangankan saat benar, saat kalah pun berbicara penuh percaya diri. Ini layak dihormati sebagai salah satu cara bertumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Timur lain lagi. Meski sudah mulai ditinggalkan, bahkan dicurigai menjadi biang banyak keterbelakangan, tetua mengajarkan, ”Merendahlah, dan engkau akan diagungkan”. Perlambang yang kerap dikutip adalah padi di sawah, semakin berisi ia semakin merunduk. Simbol lain adalah bambu. Saat muda bambu bertumbuh ke atas, begitu dewasa ia merunduk rendah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah junjungan tetua di Timur. Seorang siswa pernah masuk ke pedalaman Dieng, Jawa Tengah. Di tengah penelitian, tiba-tiba ia dipanggil seorang tetua di tempat itu yang berjanggut panjang, mengenakan peci. Tetua itu berpesan, ”0rang bijaksana seyogianya berada di atas dualitas. Bukan dipermainkan dualitas (bersahabat dengan yang memuji, bermusuhan dengan yang mencaci), namun dengan sabar merangkul semuanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tugas merangkul lebih mudah dilakukan bila merendah. Bagi sebagian anak muda, merendah itu musibah. Namun, bagi tetua yang kaya rasa dan kaya makna, merendah itu indah. Persahabatan, kebahagiaan, ketenangan, keheningan, itulah buah kehidupan yang suka merendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam batin yang sudah bertumbuh dewasa, ia melihat jika kita sebenarnya adalah daun-daun di pohon yang sama, bintang-bintang di langit yang sama. Setiap pelayanan yang diberikan kepada pihak lain akan balik ke diri ini sebagai pelayanan. Inilah yang melampaui dualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya semua manusia di jalan ini mengabdikan hidup untuk pelayanan. Ada yang melayani orang sekarat, seperti Ibu Theresa. Ada yang menyelamatkan korban perang, seperti Thich Nhat Hanh. Ada yang menghabiskan waktu dengan memerangi kemiskinan, seperti Mohammad Yunus. Tentu lebih indah lagi bila tugas-tugas pelayanan ini dilakukan saat seseorang masih duduk di kursi kekuasaan. Dalam bahasa tetua, kekuasaan adalah terbukanya gerbang pelayanan, bukan kesempatan untuk melakukan pembalasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bayi kebijaksanaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetua berpesan, kesulitan itu ada tidak untuk membuat kita tumbang, tetapi kesempatan untuk menunjukkan kekokohan. Seperti pepatah tua, bad weather makes good timber. Cuaca buruk menyisakan kayu-kayu kokoh. Begitulah pohon-pohon kebijaksanaan memperlihatkan dirinya. Dengan demikian memberi pelajaran, api amarah, pedang dendam lawan, memang bisa mematikan. Namun, dalam kelenturan air, api maupun pedang sama- sama tidak berdaya. Api tidak bisa membakar air, pedang tidak berdaya memotong air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelenturan air kerap digunakan sebagai simbol kebijaksanaan. Air berjalan dari hulu yang jauh, tetapi sampai ke samudra. Dan, satu-satunya kekuatan yang membuat air bisa melewati semua penghalang karena sifatnya yang lentur. Berbicara kelenturan, lagi-lagi harus kembali ke ladang pelayanan. Karena itulah hakikat kepemimpinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan, pendidikan, kemiskinan, dan keterbelakangan adalah ruang publik yang lapar pelayanan. Kesehatan bermakna lebih luas dari sekadar berobat gratis, tetapi juga melibatkan pendidikan. Dulu, sebagian penyakit disebabkan salah makan. Kini (sebagaimana dikemukakan banyak peneliti), sebagian besar penyakit bersumber pada salah pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran inilah yang lebih layak disehatkan. Menambah daftar larangan untuk menyehatkan pikiran masyarakat hanya akan memperpanjang guncangan. Namun, memulai langkah keteladanan yang lurus, jujur, bersih, dan jernih lebih membantu dalam hal ini. Lee Kuan Yew adalah seorang guru. Tahun pertama diteriaki, tahun kedua dimaki, tahun ketiga dilempari api, tetapi karena lurus, jujur, dan konsisten, semua teriakan kemudian berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ada yang menulis, the inner science of transformation: aspiration, habituation, commitment, consistency. Niat itu langkah awal. Membiasakan diri agar niat menjadi kenyataan, itu langkah kedua. Membuat komitmen agar tetap berjalan lurus tanpa bisa ditawar, itu hal berikut. Namun, konsistensi kemudian mengibarkan bendera perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, maafkanlah mimpi. Meminjam istilah Sigmund Freud dalam The Interpretation of Dream, mimpi bagi kebanyakan orang memang bunga tidur. Namun, tidak sedikit para Sufi dan Yogi yang menggunakan mimpi sebagai medium penting untuk terhubung ke alam lebih tinggi. Maka, di Timur dikenal praktik dream yoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber: Kompas, 20 Juni 2009&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-7762302548140220896?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/7762302548140220896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=7762302548140220896' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/7762302548140220896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/7762302548140220896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2009/06/nyoman-mimpi-jadi-presiden.html' title='Nyoman Mimpi Jadi Presiden'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/Sj8GJyjtPFI/AAAAAAAACvk/JkyIbmhlcsU/s72-c/mimpi+jadi+pres.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-1860831179283808806</id><published>2009-04-27T03:54:00.000-07:00</published><updated>2009-04-27T04:00:57.981-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kemenangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kekalahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keindahan'/><title type='text'>Kekalahan, Kemenangan, Keindahan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Gede Prama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas, Sabtu, 25 April 2009 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan, sudah lama manusia hidup hanya dengan sebuah tema: memburu kemenangan, mencampakkan kekalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jepang dan berbagai belahan dunia, banyak orang mengakhiri hidupnya hanya karena kalah. Hal-hal yang melekat pada kekalahan dinilai serba negatif: jelek, hina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah sebagai tempat untuk menyiapkan masa depan juga ikut-ikutan. Melalui program serba juara, sekolah menguatkan keyakinan ”kalah itu musibah”. Tempat kerja juga serupa, tak ada yang absen dari kegiatan sikut-sikutan. Semua mau naik pangkat, tak ada yang ingin turun. Terutama dunia politik, kekalahan hanyalah kesialan. Dan aroma seperti inilah yang mewarnai Indonesia pada awal April 2009, menjelang pemilu dan pilpres.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalah juga indah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang melarang manusia mengejar kemenangan. Ia pembangkit energi yang membuat kehidupan berputar, pemberi semangat agar manusia tidak kelelahan. Tapi, seberapa besar energi dan semangat manusia, bila putaran waktunya kalah, tidak ada yang bisa menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, orang bijaksana melatih diri untuk tersenyum di depan kemenangan maupun kekalahan. Berjuang, berusaha, bekerja, berdoa tetap dilakukan. Namun, bila kalah, hanya senyuman yang memuliakan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihormati karena menang itu indah. Namun, tersenyum di depan kekalahan, hanya orang yang mendalam pandangannya yang bisa melakukan. Sebagian orang bijaksana malah bergumam, kekalahan lebih memuliakan perjalanan dibandingkan kemenangan. Di depan kekalahan, manusia sedang dilatih, dicoba, dihaluskan. Kekalahan di jalan ini berfungsi menghaluskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran, kerendahhatian, ketulusan, keikhlasan, itulah kualitas-kualitas yang sedang dibuka oleh kekalahan. Ia yang sudah membuka pintu ini akan berbisik, kalah juga indah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarang terjadi ada manusia mengukir makna mendalam di tengah gelimang kemenangan. Terutama karena kemenangan mudah membuat manusia lupa diri. Para pengukir makna yang mengagumkan, seperti Kahlil Gibran, Jalalludin Rumi, Rabindranath Tagore, Thich Nhat Hanh, semuanya melakukannya di tengah kesedihan. HH Dalai Lama bahkan menerima Hadiah Nobel Perdamaian sekaligus penghargaan sebagai warga negara kelas satu oleh Senat AS setelah melewati kesedihan dan kekalahan puluhan tahun di pengasingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memaknai kekalahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengukir makna memang berbeda dengan mengukir kayu. Dalam setiap konstruksi makna terjadi interaksi dinamis antara realitas sebagaimana apa adanya dan kebiasaan seseorang mengerti (habit of undestanding). Ia yang biasa mengerti dalam perspektif tidak puas, serba kurang, selalu menuntut lebih, akan melihat kehidupan tak menyenangkan ada di mana-mana. Sebaliknya, ia yang berhasil melatih diri untuk selalu bersyukur, ikhlas, tulus lebih banyak melihat wajah indah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari sini, titik awal memaknai kekalahan adalah melihat kebiasaan dalam mengerti, the blueprint is found within our mind. Membiarkan kemarahan dan ketidakpuasan mendikte pengertian akan memperpanjang penderitaan yang sudah panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru mengambil gelas yang berisi air, meminta muridnya memasukkan sesendok garam dan diaduk. Saat dicicipi, asin rasanya. Setelah itu, guru ini membawa murid itu ke kolam luas dengan sesendok garam yang dicampurkan ke air kolam dan rasanya tidak lagi asin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah batin manusia. Bila batinnya sempit dan rumit (fanatik, picik, mudah menghakimi), kehidupan pun menjadi mudah asin rasanya (marah, tersinggung, sakit hati). Saat batinnya luas, tak satu hal pun bisa membuat kehidupan menjadi mudah asin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan modal ini, lebih mudah memaknai kekalahan bila manusia berhasil mendidik diri berpandangan luas sekaligus bebas. Berusaha, bekerja, belajar, berdoa adalah tugas kehidupan. Namun, seberapa pun kehidupan menghadiahkan hasil dari sini, peluklah hasilnya seperti kolam luas memeluk sesendok garam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kerap disebut menang-kalah, sukses-gagal, dan hidup-mati hanyalah wajah putaran waktu. Persis saat jam menunjukkan pukul 06.00, saat Matahari terbit. Pukul 18.00, putaran waktu Matahari tenggelam. Memaksa agar pukul 06.00 Matahari tenggelam tidak saja akan ditertawakan, tetapi juga korban karena kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang terdengar aneh. Pejalan kaki yang sudah jauh ke dalam diri bila ditanya mau kaya atau miskin, akan memilih miskin. Atas menang atau kalah, ia akan memilih kalah. Kaya adalah berkah, namun sedikit ruang latihan di sana. Meski ditakuti banyak orang, kemiskinan menghadirkan daya paksa tinggi untuk senantiasa rendah hati. Menang memang membanggakan, namun godaan ego dan kecongkakan besar sekali. Nyaris semua orang tak ingin kalah, tetapi kekalahan adalah ibu kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru meditasi yang sudah sampai di sini pernah berbisik, finally I realize there is no difference between mind and sky. Inilah buah meditasi. Batin menjadi seluas langit. Tidak ada satu awan (awan hitam kesedihan, awan putih kebahagiaan) pun yang bisa mengubah langit. Dan ini lebih mungkin terjadi dalam manusia yang sudah berhasil memaknai kekalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gede Prama Bekerja di Jakarta; Tinggal di Bali Utara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-1860831179283808806?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/1860831179283808806/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=1860831179283808806' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/1860831179283808806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/1860831179283808806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2009/04/kekalahan-kemenangan-keindahan.html' title='Kekalahan, Kemenangan, Keindahan'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-1422373232228430998</id><published>2009-02-02T23:05:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T23:08:42.381-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menyingkap Keindahan Bencana'/><title type='text'>Menyingkap Keindahan Bencana</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Lihat kebunku penuh dengan bunga. Ada yang putih dan ada yang merah. Setiap hari kusiram semua. Mawar melati semuanya indah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana, bencana, bencana, bencana, mungkin itu kabut-kabut kehidupan yang berganti menyelimuti Indonesia beberapa tahun terakhir. Belum sepenuhnya pulih dari banjir dahsyat Jakarta, tiba-tiba tanah longsor menggelegar, gempa bumi memakan nyawa, pesawat Garuda terbakar. Bencana seperti tidak bosan-bosannya menggoda jiwa Indonesia. Seorang sahabat asli Jawa, berulang-ulang menyebut kata miris. Seorang psikiater mengutip sebutan tua tentang zaman edan, tatkala menyaksikan seorang Ibu membakar diri dan sejumlah putera-puterinya karena terhimpit kesulitan kehidupan. Salah seorang penulis luar, bahkan memberi judul menyentuh di International Herald Tribune, Indonesia: Mass murder or natural disaster, terutama setelah menghitung ratusan ribu nyawa yang melayang akibat bencana.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berduka, bersedih, tersentuh oleh penderitaan sesama tentu salah satu tanda pertumbuhan jiwa. Di Timur telah lama diajarkan, untuk memasuki wilayah-wilayah kesucian bahkan menginjak rumput pun dilarang. Terutama karena setiap rasa sakit yang kita timpakan ke ciptaan lain, akan kembali menyakiti diri ini. Sehingga sungguh layak disyukuri kalau Indonesia masih memiliki demikian banyak hati yang punya empati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya bencana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tetap menghormati banyak hati yang punya empati, banyak guru setuju kalau jalan-jalan keindahan apa lagi kesucian tidak ada yang sepenuhnya lurus dan mulus. Semakin indah sebuah tujuan, semakin berat jalan-jalan yang harus dilalui. Bila ini cara memandangnya, mungkin Indonesia bisa menarik nafas dalam-dalam sebentar. Menghimpun energi untuk melewati banyak tanjakan serta kelokan di depan yang masih banyak menghadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jeda jiwa seperti ini, bisa jadi berguna kalau merenung sebentar tentang cahaya-cahaya bencana. Bagi banyak jiwa, bencana identik dengan kematian, perpisahan, kesedihan, duka cita. Dan tentu saja ini teramat manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit jiwa yang mau menggali lebih dalam kalau di balik bencana, ada sejumlah langit kehidupan yang tersingkap rahasianya. Ketakutan, kesedihan adalah masukan berguna tentang keinginan yang demikian mencengkeram. Semakin mencengkeram keinginan, semakin menakutkan wajah bencana. Ada keinginan agar kehidupan hanya berwajah damai, keluarga yang hanya boleh bahagia, perpisahan yang identik dengan hukuman, kemiskinan sama dengan kutukan.&lt;br /&gt;Dan melalui hentakan-kentakan bencana, manusia sedang diingatkan, seberapa kuat pun keinginan mencengkeram, kehidupan tetap harus berputar. Bila saatnya matahari tenggelam, tenggelamlah ia. Ketika putaran bumi harus ditandai oleh gempa, gempalah yang menjadi sahabat kehidupan. Bila kematian sudah waktunya berkunjung, berkunjunglah ia menjadi sahabat kehidupan. Makanya, seorang ayah berpesan kepada putera-puterinya, kematian datang bukan karena penyakit, bukan karena dikerjain orang, bukan juga akibat bencana, kematian datang memang karena putaran waktunya sudah tiba. Penyakit, bencana hanyalah pintu-pintu pembuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ini cara meneropongnya, tidak saja keinginan mulai longgar cengkeramannya, namun cahaya-cahaya bencana juga terbuka. Ternyata bencana lebih dari sekedar hulunya kesedihan, ketakutan dan kutukan, ia juga membukakan pengertian tentang wajah kehidupan yang lebih utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serupa dengan lagu anak-anak yang dikutip di awal tulisan ini, hidup serupa dengan mengurus taman. Kendati yang ditanam rumput Jepang, ada rumput liar yang ikut tumbuh. Kendati sudah banyak berbuat baik, banyak berdoa, sering ke tempat ibadah, bila saatnya bencana menggoda, ia tetap menggoda. Bila rumput Jepang yang ditanam seratus meter, rumput liar hanya mengambil porsi sedikit sekali. Demikian juga dengan kehidupan, sehat berumur bertahun-tahun tapi kerap lupa disyukuri. Sakit hanya segelintir hari sudah penuh dengan caci maki. Indonesia sebentar lagi mau berumur 62 tahun, hanya seglintir hari yang digoda bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman jadi indah karena penuh bunga dan warna. Kehidupan juga serupa. Kebahagiaan jadi lebih indah kalau pernah melewati kesedihan. Kehidupan bermakna amat dalam karena ada kematian. Kesuksesan berakarkan rasa syukur yang mendalam, kalau pernah dibanting kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman bertumbuh terus bila disirami. Pertumbuhan jiwa juga sama. Tidak saja kebahagiaan yang menyirami kehidupan, kesedihan juga menyirami, terutama karena kesedihan adalah gurunya sikap rendah hati dan mawas diri. Tidak saja kedamaian yang memperkuat kehidupan, bencana juga memperkuat kemudian. Kedamaian memperkuat seperti air yang bertemu kerongkongan dahaga, bencana memperkuat seperti amplas keras dan kasar yang membuat berlian tambah bersinar. Sebagai catatan kontemplasi, Jepang dan Jerman yang kini menjadi salah satu pemimpin dunia, kalah perang secara amat menyedihkan puluhan tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di puncak semua perjalanan ini, tersisa bait indah kehidupan: ”mawar melati semuanya indah!”. Mawar yang berduri indah, melati yang wangi juga indah. Siapa saja yang bisa melihat keindahan dalam setiap unsur dualitas (bahagia-bencana, untung-rugi, suci-kotor, dipuji-dicaci) dia berada di depan gerbang pencerahan, kemudian hatinya bernyanyi: ”semuanya indah!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa indah sejumlah sahabat penyair, keuntungan adalah hasil pelajaran dari banyak kerugian, kekotoran adalah kesucian yang sedang siap-siap menunjukkan rahasianya, kekayaan adalah sisi lain dari kemiskinan dalam mata uang kehidupan. Pada jiwa yang sedang bertumbuh, dualitas terus bergerak dari satu ujung bandul ke ujung bandul lain. Habis bahagia derita, setelah untung rugi dan seterusnya. Dan lagu anak-anak ini mengajarkan, setelah semua segi kehidupan dicintai, disirami, diterima, kemudian dari dalam sini ada yang bernyanyi: ”semuanya indah!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin yang menyebabkan Robert Fulghum pernah menulis “Apa yang perlu dipelajari tentang kehidupan, sudah selengkapnya diajarkan di taman kanak-kanak“. Sebuah masa di mana semuanya terasa indah. Guru dzogchen Chogyal Namkai Norbu menyebutnya primordial state (titik awal sekaligus titik akhir perjalanan ke dalam). Cirinya sederhana, tidak ada hal positif yang perlu diterima, tidak ada hal negatif yang perlu ditolak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-1422373232228430998?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/1422373232228430998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=1422373232228430998' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/1422373232228430998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/1422373232228430998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2009/02/menyingkap-keindahan-bencana.html' title='Menyingkap Keindahan Bencana'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-9188397149692119110</id><published>2009-02-02T22:38:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T23:00:08.370-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahan terhadap Guncangan'/><title type='text'>Tahan terhadap Guncangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Problematic society, itu sebutan sahabat yang memenuhi kepalanya dengan kejengkelan tentang Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih menjelang Pemilu 2009, di mana ruang publik dibikin riuh oleh banyak sekali iklan politik. Ada yang menyebutnya sebagai sampah virtual. Jujur harus diakui, setiap orang punya cara bertumbuh. Hanya ego yang buru-buru menyebutnya buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepohonan bertumbuh secara tenang, tulus, ikhlas. Sedangkan anjing kampung berkelahi baik saat ada makanan maupun saat tidak ada makanan. Yang satu lembut, sejuk, teduh, apa pun godaannya, yang lain keras ganas di segala cuaca. Namun, keduanya sedang bertumbuh.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;”The gift of listening”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka baik-buruk, suci-kotor, sukses-gagal, tinggi-rendah dan dualitas lainnya adalah cara pikiran manusia membuka pintu pengertian. Sayang, begitu pintunya terbuka, dualitasnya tidak ditinggalkan di belakang, bahkan digendong ke mana-mana. Ini serupa dengan cerita tentang seseorang yang hampir mati kelaparan di seberang sungai, kemudian diselamatkan oleh sebuah perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian tingginya utang budi dan kemelekatan orang ini pada perahu, kemudian ia menggendongnya ke mana-mana. Belakangan, orang ini mati karena kelelahan menggendong perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wajah yang berbeda, mereka yang menggunakan pengetahuan, pengalamannya, tradisinya, dan agamanya untuk menghakimi dan menyakiti orang, sejujurnya bernasib serupa dengan penggendong perahu itu: berjalan kelelahan menggendong perahu keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah, orang-orang bijaksana selalu menyediakan diri untuk belajar dan mendengar. Dengan belajar, manusia berhenti menjadi kura-kura yang menganggap rumah kecilnya adalah satu-satunya rumah yang layak huni. Dengan mendengar, manusia menyatu bersama samudra pengertian yang mahaluas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ada sesuatu yang terlihat aneh dan susah untuk dimengerti, kemungkinan terlalu tinggi atau terlalu rendah dibandingkan tingkat kemampuan pemahaman sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu sebabnya, kepala manusia memberikan pertanda bahwa telinga, mata, lubang hidung semuanya serba dua, tetapi mulut hanya ada satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, pemahaman lebih mungkin terbuka bila lebih banyak mendengar, melihat, dan merasakan segarnya kehidupan, sekaligus lebih sedikit berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang sudah menyentuh batas-batas rasionalitas dan mengerti jika pengetahuan bisa menjadi penghalang pemahaman, akan tersenyum sambil berbisik: ternyata bisa mendengar adalah sebuah berkah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru di Perancis menulis: to say you don’t know is the beginning of knowing. Menyadari diri tidak tahu adalah awal pengetahuan sekaligus keagungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;”The gift of understanding”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan modal mendengar dan belajar inilah, para bijaksana menelusuri sisi-sisi kehidupan. Sesuatu yang awalnya terlihat baik, belakangan menjadi buruk. Hal lain yang semula terlihat suci menjadi sumber belenggu yang menakutkan kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung-ujungnya satu, tidak ada yang kekal. Semua seperti air sungai: mengalir dan mengalir. Sehingga tidak saja sungai yang baru setiap detiknya (karena airnya berganti terus), pengertian juga senantiasa baru dan segar. Maka, di Timur tidak sedikit manusia yang terbebaskan dan tercerahkan hanya dengan memahami dalam-dalam makna ketidakkekalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan, filsafat, agama (terutama yang sangat mencengkeram sehingga membuat orang jadi fanatik) ibarat batu besar di sungai, mandek tidak bergerak. Kesediaan untuk belajar dan mendengar ibarat air mengalir di sungai, pada waktunya ia akan sampai di samudra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila boleh berterus terang, kehidupan menyimpan tidak sedikit tokoh yang sudah menemukan indahnya belajar dan mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Syafii Ma’arif (mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah) mengakhiri renungannya tentang hari raya Idul Fitri tahun 2008 dengan mengutip pendapat Mahatma Gandhi yang beragama Hindu. Yudi Latief (salah satu murid almarhum Nurcholis Madjid) menutup refleksinya tentang hari raya Idul Fitri pada tahun 2008 dengan meminjam argumen pendeta Buddha Thich Nhat Hanh. Seorang pastor Katolik yang memimpin gereja di Puja Mandala Bali menghabiskan waktu tahunan di Mesir belajar filsafat Islam. Dari penuturannya mengalir wajah-wajah Islam yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HH Dalai Lama berkali-kali mengemukakan tidak tertarik untuk mengubah keyakinan orang menjadi pengikut Buddha. Satu-satunya ketertarikannya adalah bagaimana membangun hubungan harmonis di antara sesama manusia. Itu sebabnya banyak pihak menyebut beliau memiliki universal appeal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah ciri-ciri manusia yang di dalamnya kaya karena belajar dan mendengar. Tatkala ada pengertian yang berbeda (mengenai filsafat, agama, ideologi, tradisi) tidak buru-buru diberi judul salah. Mereka mulai dengan mendengar, kemudian belajar. Kesediaan untuk mengerti itu sebuah berkah (the gift of understanding), karena melalui pengertian terbuka pintu-pintu persahabatan, persaudaraan yang menjadi modal kebahagiaan kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahan guncangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia yang sampai di puncak pemahaman akan berbisik, ”The best theologian is the one who never speaks about God”. Berbicara menunjukkan seseorang masih dua (subyek-obyek, Tuhan-manusia). Dalam pemahaman yang dibimbing persahabatan ini, ada yang menyebutkan bahwa yang dua sudah menjadi satu. Ada yang hanya senyum-senyum lembut tanpa suara. Raut mukanya memberi tanda tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini muncul pertanyaan, bila demikian bingkai pengertiannya, lantas apa pedoman bertindak? Seorang guru yang amat menyentuh memberi pedoman sederhana. Membantu meringankan beban penderitaan para makhluk adalah yang paling baik. Bila tidak bisa, cukup jangan menyakiti. Inilah prinsip survival of the kindest. Kehidupan menjadi tahan guncangan karena kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kehidupan dimulai dengan kebaikan pihak lain. Tatkala lahir kita berutang pada kebaikan orangtua dan lain-lain. Nanti ketika meninggal lagi-lagi harus bergantung pada kebaikan orang lain. Kita didoakan, dibikinkan upacara oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, bila di antara kelahiran dan kematian lupa mengisinya dengan kebaikan, itu berarti gagal membayar utang kebaikan. Maka, ada yang menulis: compassion is the best protection. Welas asihlah penjaga kehidupan yang sesungguhnya. Tidak saja menjaga sekarang, tetapi juga menjaga sampai setelah kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kehidupan Mohammad Yunus, Nelson Mandela, dan Dalai Lama yang tanpa senjata, tanpa agen rahasia, tetapi bercahaya ke mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh saja ada orang hidup penuh penghakiman (baik untuk diri, buruk untuk orang), di jalan kebajikan semuanya menghadirkan pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hasilnya, tidak saja orang baik terlihat indah. Iklan- iklan politik juga indah. Semuanya sedang bertumbuh, semuanya hanya cara guru membimbing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gede Prama Bekerja di Jakarta, Tinggal di Bali Utara&lt;br /&gt;Kompas, 31 Januaru 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-9188397149692119110?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/9188397149692119110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=9188397149692119110' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/9188397149692119110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/9188397149692119110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2009/02/tahan-terhadap-guncangan.html' title='Tahan terhadap Guncangan'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-5342145813741297781</id><published>2008-12-19T17:36:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T17:42:36.466-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyembuhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perdamaian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pencerahan'/><title type='text'>Penyembuhan, Perdamaian, Pencerahan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Gede Prama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Kasih Ibu kepada beta/Tak terhingga sepanjang masa/Hanya memberi tak akan kembali/ Bagai sang surya menyinari dunia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah PBB mengadakan dialog antaragama (13/11/2008) patut dihargai. Membuat 70 kepala negara menandatangani deklarasi perdamaian tentu sebuah prestasi. Namun, membuat deklarasi menjadi aksi, itu lain lagi sebab deklarasi dan aksi tidak selalu sejalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dua pekan seusai penandatanganan deklarasi perdamaian (27/11/2008), senjata teroris mencabut nyawa manusia di Mumbai, India. Kemarahan bak mesin kekerasan yang mengalahkan segalanya. Pada titik ini, mungkin bijaksana belajar mengonstruksi perdamaian dengan fondasi penyembuhan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyembuhan holistik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak guru sepakat, kekotoran batin (keserakahan, kemarahan, dan ketidaktahuan) itulah penyakit sesungguhnya. Maka, dalam tataran rendah, seseorang disebut sembuh secara spiritual bila sadar bahayanya kekotoran batin. Kesadaran, itulah penjaganya. Pada tingkatan sedang, seseorang mulai lapar berbuat baik. Pada tingkat tinggi, dualitas kebaikan kejahatan terlampaui. Semua datang dan pulang ke tempat yang sama sehingga tidak ada lagi hal luar yang membuat batin mudah membakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, mudah dimengerti bila Martin Luther King Jr mengemukakan, ”Happiness depended on healing the whole situation.” Atau Pema Chodron: To be healed, everyone has to be healed. Dengan kata lain, penyembuhan holistik lebih mungkin terjadi saat manusia sadar dirinya tidak terpisah dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Timur, kata yang banyak dikagumi adalah bodhi (bangun). Bangun dari ilusi jika ada diri yang terpisah. Karena batin belum bangun, lalu ada orang bertindak jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kesadaran dan kesabaran, penting mengajarkan pemahaman jika semuanya serba terhubung. Matinya kupu-kupu di Bali memengaruhi suasana hati manusia di Vancouver. Fisikawan Fritjof Capra menyebutnya the hidden connections. Antropolog sosial Gregory Bateson merumuskan sebagai the pattern that connects. Ia yang paham akan hal ini, jangankan membunuh manusia, menginjak rumput pun harus minta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penggembala domba&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peta dunia yang ditandai berlimpahnya kekerasan, kehidupan memerlukan banyak penyembuh. Ada tiga tipe penyembuh: raja, kapten kapal, dan penggembala domba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tipe raja, seseorang bisa menyembuhkan jika sudah tersembuhkan. Dalam pola kapten kapal, kita berlayar bersama, sampai di tanah penyembuhan bersama. Dalam kehidupan penggembala domba, ia harus yakin kalau semua domba bisa makan, baru kemudian gembala makan bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola penggembala domba adalah yang paling mulia, sekaligus paling mungkin dilakukan banyak orang. Tidak perlu tersembuhkan dulu hanya untuk melakukan apa yang ditugaskan kehidupan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang punya taman menata tamannya sehijau dan seindah mungkin, ada sejumlah kupu, semut, cacing, kodok, dan tidak terhitung makhluk yang hidup di sana. Yang punya media (surat kabar, radio, dan televisi) menggunakannya untuk menyejukkan hati banyak orang. Yang punya jabatan (presiden, gubernur, bupati, dan lainnya) menggunakan jabatan untuk mengurangi kemiskinan. Yang punya anak menyayangi anaknya. Inilah sebagian contoh nyata bagaimana menjadi penggembala domba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia yang menyediakan hidupnya untuk penyembuhan pihak lain suatu saat tidak saja ikut sembuh dan damai, tetapi juga mengalami ultimate healing (pencerahan). Meminjam bahasa orang bijaksana: ”dalam memberi, manusia tersembuhkan”. Dengan demikian, orang biasa juga bisa membuat sesuatu yang berbeda dengan membuat dirinya terhubung melalui pemberian dan perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan di Barat berpesan, ”The most significant step one can make toward global peace is to soften our heart”. Membuat hati menjadi lembut, itulah peran terbesar yang bisa diberikan pada perdamaian global. Hasilnya, manusia bisa terhubung dengan bagian kehidupan yang teduh sekaligus menyentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirip kepompong yang keluar dari rumahnya, lalu terbang menjadi kupu-kupu seperti sudah memiliki semua yang ada di alam, demikian juga manusia yang tekun menjadi penggembala domba. Keberaniannya keluar dari rumah kecil keakuan (diri yang terpisah), lalu membuatnya keluar terbang memasuki alam pencerahan. Tidak saja sembuh, damai, dan tercerahkan, tetapi seperti kupu-kupu, semua yang ada di alam menjadi ”miliknya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirip lagu anak-anak di awal. Ia yang tercerahkan menjadi ibu bagi semua. Serta sadar makhluk hidup penyebab pencerahan. Saat mereka mengganggu, sebenarnya sedang mengajarkan kesabaran. Saat mereka menderita, sebenarnya sedang membangkitkan welas asih kita. Duka mereka duka kita. Ikut berduka atas tragedi kemanusiaan di Mumbai, India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gede Prama Bekerja di Jakarta, Tinggal di Bali Utara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas, Sabtu, 20 Desember 2008 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-5342145813741297781?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/5342145813741297781/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=5342145813741297781' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/5342145813741297781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/5342145813741297781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/12/penyembuhan-perdamaian-pencerahan.html' title='Penyembuhan, Perdamaian, Pencerahan'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-4765334657775603040</id><published>2008-11-14T16:22:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T17:49:02.056-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lukisan Indah Kebijaksanaan'/><title type='text'>Lukisan Indah Kebijaksanaan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Kompas, Sabtu, 15 November 2008&lt;br /&gt;Oleh: Gede Prama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terowongan gelap tidak berujung, mungkin itu metafora kehidupan zaman ini. Kekayaan kehidupan anak-anak biasanya harapannya akan masa depan. Dan, saat tua tidak sedikit yang membanggakan masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaannya mirip kucing yang mengejar bayangannya sendiri. Pada pagi hari (masa muda) bayangannya ada di barat dikejar dan tidak ketemu. Pada sore hari (umur tua) bayangannya ada di timur, lagi-lagi dikejar juga tidak ketemu. Sadar bahaya ini, ada yang memotong lingkaran kegelapan dengan meyakini kehidupan berawal pada masa sekarang dan berakhir pada masa sekarang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Masa lalu telah berlalu, masa depan belum datang. Namun, melalui tindakan pada masa kini, keduanya bisa dibuat kian terang atau gelap. Sebutlah Ibu yang sudah meninggal, tetapi belum sempat dibahagiakan. Masa lalu membuat kehidupan kian suram jika masa kini diisi penyesalan, rasa bersalah, tidak bisa memaafkan diri sendiri. Sebaliknya ini bisa menjadi awal terang jika pengalaman tidak mengenakkan ini dijadikan titik awal untuk banyak membahagiakan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tibet, makhluk hidup diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi mother being. Terutama karena diyakini jika semua makhluk pernah menjadi Ibu kita pada masa lalu. Dengan demikian, bila rajin membahagiakan orang atau makhluk lain, kita juga sudah membahagiakan ibu. Selain itu, membahagiakan orang adalah salah satu persiapan terbaik menyongsong masa depan. Inilah transformasi spiritual, rasa bersalah akan masa lalu dan takut akan masa depan, diolah sekaligus dinikmati hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Guru sebagai cahaya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Inilah tanda-tanda manusia yang mulai terbimbing. Dalam setiap kejadian (menyenangkan maupun menjengkelkan) ada cahaya bimbingan. Di Timur, ia disebut munculnya guru simbolik. Tidak ada kebetulan, semua hanya bimbingan. Cuma, sebagian bisa dimengerti kini, sebagian dimengerti nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, amat sedikit manusia yang lahir di zaman ini memiliki berkah spiritual berjumpa guru. Untuk itu, bagi orang-orang mengagumkan, seperti Jalalludin Rumi, perjumpaan dengan guru adalah berkah spiritual yang amat disyukuri. Segelintir sahabat yang berjumpa guru menyebutkan, hanya dengan mendengar namanya sebagian ketakutan akan neraka langsung sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, tidak sedikit pencari yang menghabiskan waktu, tenaga, dan dana untuk mencari guru. Idealnya, pencarian dimulai dengan berjumpa guru hidup. Lalu perintah-perintah guru hidup ini diperkaya guru dalam bentuk buku suci. Ia yang sudah memadukan guru hidup dengan buku suci lalu berjumpa guru simbolik dalam keseharian. Puncaknya tercapai saat ketiga guru ini menjelma menjadi guru dalam diri. Orang jenis ini seperti membawa lentera ke mana-mana. Tidak ada lagi kegelapan yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Kematian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang belum diberkahi perjumpaan dengan guru hidup, disarankan menjaga diri dengan etika. Praktik serius etika ini mungkin membimbing seseorang menjumpai guru simbolik. Di antara banyak guru simbolik, kematian adalah guru simbolik paling agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan pendapat Dzogchen Ponlop dalam Mind beyond death: ”in order to die well, one must live well”. Agar matinya indah, belajarlah hidup secara indah (baca: hidup penuh cinta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tidak sedikit guru meditasi yang menggunakan kematian sebagai sumber air perenungan yang tidak habis-habis. Pertama-tama meditator membayangkan tubuhnya mati. Badan kaku, membiru, orang-orang dekat menangis dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterangi cahaya keikhlasan, kematian terlihat sebagai kembalinya unsur badan ke rumah aslinya. Unsur tanah kembali ke tanah, unsur air kembali ke air, unsur api kembali ke api, unsur udara kembali ke udara, unsur ruang kembali ke ruang. Dalam bahasa tetua Bali, kematian disebut mulih ke desa wayah (pulang ke rumah sesungguhnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia yang merenungkan kematian menjadi lebih tenang, santun, baik, dan rendah hati. Bukankah ketenangan dan kebajikan adalah teman paling berguna dalam kematian? Selain itu, kematian juga berubah wajah menjadi guru simbolik yang membimbing menapaki tangga kemuliaan. Mungkin ini sebabnya Santo Paulus mengemukakan l die every day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila boleh jujur, tiap hari kita mengalami kematian. Seusai sarapan, kita berpisah dengan rasa enak (matinya rasa enak di mulut). Berangkat ke kantor, manusia berpisah dengan rasa nyaman di rumah (matinya rasa nyaman tinggal di rumah). Mengakhiri meditasi, meditator berpisah dengan keindahan konsentrasi (matinya kedamaian meditasi). Dalam wajahnya yang mendasar, kematian menakutkan karena ada perpisahan. Bila terbiasa dengan perpisahan sehari-hari, perpisahan melalui kematian akan menjadi suatu yang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam ajaran Tibetan book of the dead, wajah kematian terindah bertemu saat semua tahapan antara kematian dan kehidupan berikutnya (bardo) terlewati secara tenang-seimbang. Maka, disarankan untuk memperlakukan semua kejadian dalam hidup (dipuji-dicaci, sukses-gagal, meditasi sampai mimpi) sebagai bardo. Tidak ada apa- apa, yang menyenangkan maupun menakutkan hanya pancaran kesadaran murni. Sebagaimana dinyanyikan berulang-ulang oleh pertapa Milarepa: ”death is not a death for a yogi; it is a little enlightenment”. Dalam kehidupan pertapa, kematian muncul tanpa ditemani ketakutan, ia hanya sebuah pengalaman kecil pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah ujung terowongan kegelapan. Lalu muncul cahaya bimbingan. Kegagalan, ketakutan, bahkan kematian pun memancarkan sinar terang pengertian. Karena ketakutan akan kematian adalah ibu semua ketakutan, maka begitu ia lenyap, ketakutan lain pun sirna. Sebagai hasilnya, batin menjadi bersih dan jernih sempurna. Cirinya cara memandang, niat, kata-kata, perbuatan, sumber penghasilan, daya upaya, perhatian dan konsentrasi semua menjadi serba bijaksana. Kehidupan lalu berubah wajah menjadi lukisan indah kebijaksanaan. Gambarnya cinta, bingkainya keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Ubud Bali ada wanita bule yang tidak lagi muda tekun memelihara anjing-anjing liar tak bertuan. Kendati pengertiannya akan cinta tidak mendalam, dengan tekun ia melakukannya dalam waktu lama. Pengertian yang disertai keraguan kadang menjadi penghalang keikhlasan. Kehidupan wanita bule ini sedang menggoreskan tinta keindahan: cinta dan keikhlasan melukis kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Gede Prama Bekerja di Jakarta, tinggal di Desa Tajun Bali Utara&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-4765334657775603040?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/4765334657775603040/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=4765334657775603040' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/4765334657775603040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/4765334657775603040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/11/lukisan-indah-kebijaksanaan.html' title='Lukisan Indah Kebijaksanaan'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-1174853441185442221</id><published>2008-10-19T06:51:00.000-07:00</published><updated>2008-10-19T06:56:10.529-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nur Dari Timur'/><title type='text'>Nur Dari Timur</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Gede Prama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas, Sabtu, 18 Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ia yang pernah hidup di Barat tahu kalau berbicara itu amat penting. Dibandingkan kehidupan di Timur, lebih banyak hal di Barat yang diekspresikan dengan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fight, argue, dan complain, itulah ciri-ciri manusia yang disebut ”hidup” di Barat. Tanpa perlawanan, tanpa adu argumentasi, orang dianggap ”tidak hidup” di Barat. Intinya, melawan itu kuat, diam itu lemah, melawan itu cerdas, dan pasrah itu tolol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan latar belakang berbeda, pola hidup ala Barat ini menyebar cepat melalui televisi, internet, radio, media, dan lainnya. Dengan bungkus seksi demokrasi, hak asasi manusia, semua dibawa ke Timur sehingga dalam banyak keadaan (angka bunuh diri naik di Jepang, Thailand mengalami guncangan politik, Pakistan ditandai pembunuhan politik), banyak manusia di Timur mengalami kebingungan roh Timur dengan baju Barat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kehidupan desa sebagai barometer. Tanpa banyak berdebat siapa yang akan menjadi presiden, ke mana arah masa depan, partai apa yang akan menang. Di desa yang banyak burungnya, tetapi manusianya banyak menonton televisi (sebagai catatan, realita di desa amat sederhana, tontonan di televisi amat menggoda), tema hidup setiap pagi adalah ”burung menyanyi, manusia mencaci”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berhenti melawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan seseorang yang tidak bisa berenang lalu tercemplung ke sungai yang dalam. Pertama-tama ia melawan. Setelah itu tubuhnya tenggelam. Karena tidak bisa bernapas, meninggallah ia. Anehnya, setelah meninggal tubuhnya mengapung di permukaan air. Dan alasan utama mengapa tubuh manusia meninggal kemudian mengapung karena ia berhenti melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memberi inspirasi, mengapa banyak manusia tenggelam (baca: stres, depresi, banyak penyakit, konflik, perang) karena terus melawan. Yang menjadi guru mau jadi kepala sekolah. Orang biasa mau jadi presiden. Pegawai mau cepat kaya seperti pengusaha. Intinya, menolak kehidupan hari ini agar diganti kehidupan yang lebih ideal kemudian. Tidak ada yang melarang seseorang jadi presiden atau pengusaha, hanya alam mengajarkan, semua ada sifat alaminya Seperti burung sifat alaminya terbang, serigala berlari, dan ikan berenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari konon binatang iri dengan manusia karena memiliki sekolah. Tak mau kalah, lalu didirikan sekolah berenang dengan gurunya ikan, sekolah terbang gurunya burung, sekolah berlari gurunya serigala. Setelah mencoba bertahun-tahun semua binatang kelelahan. Di puncak kelelahan, baru sadar kalau masing-masing memiliki sifat alami. Dalam bahasa tetua di Jawa, puncak pencaharian bertemu saat seseorang mulai tahu diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Meditasi tanpa perlawanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris semua manusia begitu berhadapan dengan persoalan, penderitaan langsung bereaksi mau menyingkirkannya. Bosan lalu cari makan. Jenuh kemudian cari hiburan. Sakit lalu buru-buru mau melenyapkannya dengan obat. Inilah bentuk nyata dari hidup yang melawan sehingga berlaku rumus sejumlah psikolog what you resist persist. Apa saja yang dilawan akan bertahan. Ini yang menerangkan mengapa sejumlah kehidupan tidak pernah keluar dari terowongan kegelapan karena terus melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan hidup kebanyakan orang yang penuh perlawanan, di jalan meditasi manusia diajari agar tidak melawan. Mengenali tanpa mengadili. Melihat tanpa mengotak-ngotakkan. Mendengar tanpa menghakimi. Bosan, sakit, sehat, senang, dan sedih semua dicoba dikenali tanpa diadili. Ia yang rajin berlatih mengenali tanpa mengadili, suatu hari akan mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Inggris, mengerti berarti understanding, bila dibalik menjadi standing under. Seperti kaki meja, kendati berat menahan, ia akan berdiri tegak menahan meja. Demikian juga dengan meditator. Persoalan tidak buru-buru dienyahkan, penderitaan tidak cepat disebut sebagai hukuman, tetapi dengan tekun ditahan, dikenali, dan dipelajari. Setelah itu terbuka rahasianya, ternyata keakuan adalah akar semua penderitaan. Semakin besar keakuan semakin besar penderitaan, semakin kecil keakuan semakin kecil persoalan. Keakuan ini yang suka melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indahnya, sebagaimana dialami banyak meditation master, saat permasalahan, penderitaan sering dimengerti dalam-dalam sampai ke akar-akarnya, diterangi dengan cahaya kesadaran melalui praktik meditasi, ia lalu lenyap. Ini mungkin penyebab mengapa Charlotte JokoBeck dalam Nothing Special menulis, ”Sitting is not about being blissful or happy. It’s about finally seeing that there is no real difference between listening to a dove and listening to somebody criticizing us”. Inilah berkah spiritual meditasi. Tidak ada perbedaan antara mendengar merpati bernyanyi dan mendengar orang mencaci. Keduanya hanya didengar. Yang bagus tak menimbulkan kesombongan. Yang jelek tak menjadi bahan kemarahan. Pujian berhenti menjadi hulunya kecongkakan. Makian berhenti menjadi ibunya permusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melihat hanya melihat. Ketika mendengar hanya mendengar. Perasaan suka-tidak suka berhenti menyabotase kejernihan dan kedamaian. Meminjam lirik lagu Bob Marley dalam Three little birds: don’t worry about the things, every single thing would be allright. Tidak usah khawatir, semua sudah, sedang, dan akan berjalan baik. Burung tak sekolah, tak mengenal kecerdasan, tetapi terhidupi rapi oleh alam, apalagi manusia. Inilah meditasi tanpa perlawanan. Paham melalui praktik (bukan dengan intelek) jika keakuan akar kesengsaraan. Begitu kegelapan keakuan diterangi kesadaran, ia lenyap. Tidak ada yang perlu dilawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru yang telah sampai di sini berbisik: the opposite of injustice is not justice, but compassion. Selama ketidakadilan bertempur dengan keadilan, selama itu juga kehidupan mengalami keruntuhan. Hanya saling mengasihi yang bisa mengakhiri keruntuhan. Sejumlah sahabat di Barat yang sudah membadankan kesempurnaan meditasi seperti ini kerap menyebut ini dengan Nur dari Timur. Cahaya penerang dari Timur di tengah pekatnya kegelapan kemarahan, kebencian, ketidakpuasan, dan kebodohan. Seperti listrik bercahaya karena memadukan positif-negatif, meditasi hanya perpaduan kesadaran-kelembutan, membuat batin bisa menerangi diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://gede-prama.blogspot.com/"&gt;More Gede Prama Articles&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-1174853441185442221?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/1174853441185442221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=1174853441185442221' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/1174853441185442221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/1174853441185442221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/10/nur-dari-timur.html' title='Nur Dari Timur'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-5295157058191981516</id><published>2008-09-12T17:38:00.000-07:00</published><updated>2008-10-19T06:58:01.334-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengolah Kebakaran Menjadi Keteduhan'/><title type='text'>Mengolah Kebakaran Menjadi Keteduhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Gede Prama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas, Sabtu, 13 September 2008 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan ”kebakaran, kebakaran” merupakan ekspresi panik tiap manusia yang rumahnya terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga terjadi dalam peradaban manusia. Di mana- mana terjadi kebakaran. Jangankan pengusaha dan politisi yang dari asalnya sudah dibakar uang dan kekuasaan, para intelektual, seniman, bahkan dalam beragama pun banyak manusia terbakar. Jangankan negara berkembang yang baru mengenal pendidikan dan demokrasi, AS yang duduk lama sebagai guru dunia mengalami ribuan kasus pelecehan agama setiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, sejarah seperti bergerak dari satu kebakaran ke kebakaran lain. Bunda Theresa punya pendapat menarik, The problem of the world is that we draw too narrow line on our concept of family. Tidak saja dalam konsep keluarga manusia mengalami penyempitan dan kepicikan, nyaris dalam segala hal terjadi penyempitan dan kepicikan. Dulu, hubungan sepupu itu dekat. Kini, banyak orang yang bersaudara kandung pun menjadi jauh. Dulu, begitu mudah membuat keputusan untuk kepentingan bersama. Kini, yang sederhana pun dibikin rumit. Akibatnya, terlalu banyak titik api dalam kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Api menjadi air&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu perlambang alam yang membawa kesejukan adalah air yang secara kimiawi dirumuskan, H20. Hidrogen adalah bahan yang mudah terbakar. 0ksigen adalah yang memungkinkan kebakaran terjadi. Uniknya, ketika dua bahan sama-sama dekat api ini tepat diramu, ia menjadi air yang sejuk, teduh, dan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memberi inspirasi, lingkungan boleh penuh kebakaran, zaman boleh berputar putaran yang banyak apinya, tetapi bila semua diolah secara tepat, manusia bisa mengalami hidup penuh keteduhan, kesejukan. Perhatikan banyak manusia yang tekun berlatih di jalan spiritual (zikir, kontemplasi, yoga, meditasi, dan lain-lain) sebelum berlatih banyak yang hidupnya terbakar. Namun, bahan-bahan kehidupan yang membakar itu diolah dengan latihan spiritual, banyak yang hidupnya menjadi teduh, sejuk, dan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pema Chodron dalam When Things Fall Apart adalah contoh indah. Setelah 20 tahun lebih sebagai ibu rumah tangga, tiba-tiba hidupnya terbakar perceraian. Kebakaran ini membawanya berkenalan dengan meditasi. Di pusat-pusat meditasi umumnya, tangga pertama adalah etika dan tata susila. Ketekunan latihan yang dibimbing etika menghantar seseorang mengalami konsentrasi (semadi). Ia yang sering mengalami konsentrasi, suatu saat dibukakan pintu sejuk kebijaksanaan. Dalam pengalaman Pema Chodron, tak saja hidupnya menjadi sejuk dan lembut, bahkan diakui sebagai salah satu meditation master.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thich Nhat Hanh dalam retretnya pernah cerita sampah dan bunga. Manusia yang terbakar punya ciri sama: serakah mau bunga, mencampakkan sampah. Menerima teman membuang musuh. Teman ibarat bunga, musuh ibarat sampah. Bunga yang tidak terawat baik besok jadi sampah. Sampah (asal bisa merawatnya) akan menjadi bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara terbaik mengolah sampah kehidupan menjadi bunga indah kehidupan adalah dengan menerapkan etika dan tata susila. Hentikan kejahatan, perbanyak kebajikan, murnikan pikiran. Tidak kebetulan jika kemudian kata sila dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang membuat seseorang menjadi sejuk dan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit guru yang menyebut ini sebagai jantung spiritualitas: bersihkan batin dari segala kekotoran (keserakahan, kemarahan, kebencian), lalu lihat dan rasakan sendiri bagaimana pintu keteduhan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memberi itu menyejukkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusul berita perampokan disertai pembunuhan di Jawa Tengah, seorang guru di Mendut ditanya muridnya apakah beliau mengenal korban perampokan. Guru ini menjawab dengan lembut, ”Sakit fisik (sebagaimana dialami korban perampokan) menimbulkan rasa kasihan. Sakit mental (sebagai sebab seseorang merampok) menimbulkan kebencian. Rasa kasihan maupun kebencian, keduanya kekotoran batin. Pancarkan sinar kasih pada keduanya.” Inilah ciri manusia yang sudah bisa mengolah kebakaran menjadi keteduhan: tidak serakah memilih baik di atas buruk, lalu memancarkan sinar kasih kepada siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemahaman seperti ini, masalah akan datang, godaan juga berkunjung, tetapi yang penting adalah bagaimana mengolahnya. Thich Nhat Hanh mengajarkan, saat hidup penuh bunga (baca: kaya, dipuja), jangan lupa semua bunga akan jadi sampah. Bila hidup penuh sampah (baca: cacian, hujatan), ingatlah untuk mengolahnya menjadi bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan manusia yang cermat, sampah diolah menjadi bunga. Tak setitik debu pun tidak berguna. Larry Rosenberg memberi judul karyanya Living in the light of death. Dalam batin jenis ini, kematian pun menjadi cahaya penerang perjalanan. Perhatikan kesimpulan Larry Rosenberg: ”The awakened mind is the mind that is intimate with all things”. Batin tercerahkan adalah batin yang bersahabat dengan semua, termasuk dengan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wartawati AS yang bertugas ke Israel berjumpa dengan orang yang berdoa menghadap tembok pada pagi-sore tanpa henti setiap hari. Saat ditanya sudah berapa lama berdoa seperti ini, ia menjawab lebih dari 25 tahun. Saat ditanya hasilnya, ia bergumam: ”ada yang berdoa saja dunia seperti ini, tidak terbayang wajah kehidupan bila tidak ada yang berdoa”. Inilah wajah lain batin yang sejuk: berdoa untuk keselamatan semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah sahabat bertanya, ada apa di Bali sehingga mudah menimbulkan kedamaian. Sebagaimana diajarkan tetua di Bali, hidup adalah persembahan. Untuk itu, mengerti tidak mengerti, berbuah tidak berbuah, ribuan orang Bali melakukan persembahan setiap hari. Tidak hanya sesajen sebagai persembahan, bertani, menari, memukul gamelan, semua adalah persembahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam klasifikasi sederhana, persembahan luar (outer offering) adalah sesajen. Persembahan dalam (inner offering) adalah pikiran, kata-kata, dan tindakan yang teduh. Persembahan terdalam (innermost offering) hanya boleh diceritakan di antara para guru. Yang boleh dibuka hanya batin jadi teduh. Charlotte Joko Beck dalam Nothing Special menyimpulkan: practice is giving. Memberikan itu menyejukkan. Itu sebabnya manusia berlatih berbahagia dalam memberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gede Prama Bekerja di Jakarta, Tinggal di Desa Tajun Bali Utara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-5295157058191981516?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/5295157058191981516/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=5295157058191981516' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/5295157058191981516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/5295157058191981516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/09/mengolah-kebakaran-menjadi-keteduhan.html' title='Mengolah Kebakaran Menjadi Keteduhan'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-1651028614937153703</id><published>2008-08-31T16:22:00.001-07:00</published><updated>2008-09-01T01:00:12.724-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertanyaan Yang Merubah Dunia'/><title type='text'>Pertanyaan Yang Merubah Dunia</title><content type='html'>Bayangkan seorang pemuda bujangan yang bertemu gadis cantik nan menawan. Bila pemuda ini ingin tahu status gadis terakhir, pertanyaan apa yang harus diajukan, agar dua tujuan - tahu statusnya, dan ada simpati yang muncul - bisa dicapai melalui satu pertanyaan saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering mengajukan pertanyaan ini di depan ribuan pemimpin. Terutama, untuk mengetahui, seberapa cermat orang menggunakan pertanyaan sebagai sarana ampuh kepemimpinan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang belum terlalu biasa menggunakan pertanyaan sebagai sarana kepemimpinan, sering memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang bisa mengudang rasa tersinggung orang lain. Misalnya, ‘mbak, apa sudah punya pacar?’. Atau, ‘mbak, sudah menikah belum?’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas pertanyaan, akan lain sekali jika seorang pemimpin sudah teramat cerdik menggunakan pertanyaan. Saya pernah bertemu seorang pemimpin yang pandai sekali menyiasati situasi di atas. Lengkap dengan ekspresi senyumnya yang bersahabat, ia melempar pertanyaan : ‘maaf mbak, suaminya lagi sibuk ya, koq jalan sendiri?’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang mau saya ceritakan melalui ilustrasi di atas, melalui kecermatan bertanya, seseorang bisa memimpin, dan pada saat yang sama, pihak yang dipimpin tidak merasa dirinya sedang dipimpin. Lebih dari itu, sering terjadi, orang bahkan melaksanakan kehendak pemimpin dengan sepenunya, semata-mata karena sang pemimpin cermat sekali bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih di zaman yang sudah sangat jenuh dengan segala bentuk pernyataan seperti pidato, pengarahan, petunjuk, dan perintah. Jangankan mereka yang berpendidikan tinggi. Kalangan bawahpun, tidak sedikit yang alergi terhadap pidato. Buktinya, begitu ada pidato di televisi, tidak sedikit yang langsung mematikan tv-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia penjualan pada umumnya, juga memiliki tuntutan yang tinggi akan kecermatan bertanya. Hampir tidak ada calon konsumen yang mau digurui. Namun, yang mau didengarkan ceritanya ada banyak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah, keberhasilan penjual sangat ditentukan oleh pertanyaan yang diajukan. Saya sering kali menilai kualitas calon pelamar dari pertanyaan yang ia ajukan. Pelamar yang bertanya ‘ceritakan ke saya, bagaimana prospek karir di tempat ini?’, akan lain sekali penilaiannya dengan mereka yang bertanya ‘kalau sudah diterima, mungkin tidak saya dipecat?’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penjual polis asuransi jiwa, akan lain sekali ceritanya bila ia mengawali percakapan dengan pertanyaan : ‘pernahkah terfikir sebelumnya, tentang nasib sebuah keluarga yang ditinggal mati orang tuanya?’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digabung menjadi satu, pertanyaan, bagi saya, tidak sekadar alat pengumpul informasi. Jauh lebih penting dari itu, ia adalah cermin kualitas kepemimpinan seseorang. Dari segi tertentu, kepribadian seseorang bisa terlihat dari pertanyaan yang diajukan. Dan yang lebih penting lagi, peradaban dunia dirubah oleh kumpulan manusia yang berani bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, saya tidak heran bila Drucker pernah menulis : asking the right question is far more important than giving the dumb answer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, saya tidak pernah bertemu satu sekolahpun, atau satu kursuspun yang khusus mendalami pertanyaan. Hampir semuanya sangat fasih menghafal pernyataan yang diberi judul teori, kiat, siasat, rumus, formula dan mahluk sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari ini semua, saya mendidik diri untuk cermat bertanya. Dan sering diselamatkan oleh kecermatan terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam kerangka William Bethel dalam Questions That Make The Sales, ada beberapa jenis pertanyaan. Dari pertanyaan yang berakhir terbuka, pertanyaan reflektif, pertanyaan direktif, pertanyaan pilihan ganda dan pertanyaan tertutup. Masing-masing ada gunanya di tempat dan waktu yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahap-tahap pengenalan persoalan, atau tahap memperkenalkan produk - menurut saya, pertanyaan terbuka akan sangat membantu. Coba bayangkan seorang calon pembeli yang menolak Anda. Pertanyaan dalam bentuk ‘bila uang bukan masalah bagi Anda, berminatkah Anda terhadap produk ini?’, tentu saja akan sangat membantu. Secara lebih khusus, untuk mengetahui secara lebih tajam alasan yang ada di balik penolakan pembelian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan reflektif, sering saya gunakan untuk merubah orang lain. Atau, menginternalisasikan sejumlah ide. Sebagai konsultan manajemen SDM, saya sering bertanya begini. Berapa banyak uang yang dibuang percuma melalui manusia yang tidak tertata rapi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan pilihan ganda lain lagi. Saya sering menggunakannya untuk kepentingan pembandingan yang kontras. Tatkala menemui orang yang enggan berubah, saya sering bertanya : ‘berubah sekarang, atau dipaksa berubah setelah keadaan sudah menyedihkan?’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan tertutup yang membutuhkan jawaban ya atau tidak, digunakan untuk mempersempit pilihan. Yang paling menakutkan adalah jawaban tidak. Bethel memiliki sebuah contoh menarik berhadapan dengan pelanggan yang hanya menjawab tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu kesempatan, seorang Ibu kaya yang biasa dengan jawaban tidak dipengaruhi dengan pertanyaan cermat seperti ini. Apakah kapal pesiar terlalu mahal bagi Anda? Apakah suami Anda keberatan jika Anda membeli satu? Apakah Anda ingin membayar melalui kartu kredit? Keberatankah Anda jika saya kirim hari ini? Jika semua jawabannya adalah ‘tidak’, tentu saja sukses sudah ada di tangan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja semua ini harus dibungkus dengan bahasa tubuh yang memadai. Dan menyangkut bahasa terakhir, jam terbang sangat menentukan. Saya banyak belajar dari ribuan teriakan ‘goblok’ yang diarahkan ke saya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-1651028614937153703?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/1651028614937153703/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=1651028614937153703' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/1651028614937153703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/1651028614937153703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/pertanyaan-yang-merubah-dunia.html' title='Pertanyaan Yang Merubah Dunia'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-29589634248869716</id><published>2008-08-31T16:21:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T00:59:55.471-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mata Rantai Kepuasan'/><title type='text'>Mata Rantai Kepuasan</title><content type='html'>Bagi penulis manapun, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri jika mengetahui, bahwa tulisannya dibaca orang. Kebahagiaan ini juga yang menghinggapi saya, ketika Direktur Agensi BDNI Life - ketika mengundang saya sebagai nara sumber bagi para agennya -mengemukakan bahwa kumpulan tulisan saya di media ini, menjadi menu ‘wajib’ para agen di perusahaan asuransi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tetap waspada akan bahayanya pujian, ketika mengawali presentasi di depan agen asuransi ini, saya sempat terpesona oleh sebuah kegiatan yang selalu dilakukan mengawali pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pembawa acara, ketika pertemuan baru dimulai, meminta seluruh peserta menyalami semua orang di dekat mereka, dan mengatakan ‘Andalah orang paling ganteng/cantik di dunia‘.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah pujian, ini sebenarnya biasa-biasa saja. Namun, ia mengingatkan saya pada sebuah buku menarik dengan judul The Ten Commandements of Business and How to Break Them. Salah satu hukum bisnis yang mesti dilanggar adalah hukum ‘pelanggan adalah raja’. Sebagai gantinya, sebelum meminta karyawan memperlakukan pelanggan sebagai raja, jauh lebih penting memperlakukan karyawan sebagai raja terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kegiatan menyalami karyawan dan menyebut mereka paling ganteng/cantik, mendatangkan mereka dari jauh untuk diberi pencerahan, dipersenjatai pengetahuan tentang produk dan cara menjualnya, diberi semangat dan motivasi, diperhatikan kesejahteraan dan masa depannya, adalah serangkaian kegiatan yang menempatkan karyawan sebagai raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, di masa yang lebih parah dari sekadar krisis ini, saya terkejut mendengar ada perusahaan asuransi yang omsetnya meningkat melebihi angka tiga puluh persen. Masih bisa menyewa hotel berbintang sebagai tempat pertemuan dan menginap. Mampu membayar pembicara publik sebagai bahan pencerahan. Dan yang paling penting, di tengah maraknya gelombang PHK, masih bisa menciptakan ‘bintang-bintang’ pencetak penghasilan dengan delapan angka perbulannya !.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif pengembangan organisasi, hanya organisasi perusahaan yang memiliki mata rantai kepuasan yang amat kuatlah yang bisa mencapai kinerja tinggi di zaman krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya sebut dengan mata rantai kepuasan, adalah kepuasan karyawan sebagai syarat kepuasan pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai konsultan manajemen yang pernah masuk ke berbagai perusahaan, banyak sekali perusahaan yang amat dan teramat lemah pada mata rantai kepuasan. Mau bukti? Masuklah ke kantor-kantor bank, perhatikan pelayanan publik dari telepon, air sampai dengan taksi, lihat bagaimana rakyat (baca : pelanggan) diperlakukan oleh penguasa. Semua ini memberi satu warna organisai yang sama : meminta karyawan memperlakukan pelanggan sebagai raja, tanpa pernah dihargai sedikit sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari upaya penataan SDM, saya pernah melakukan penghitungan terhadap indeks kepuasan karyawan. Hampir semuanya menunjukkan indeks angka yang memprihatinkan. Lebih-lebih di bagian belakang seperti operasi, keuangan, akuntansi, gudang, perpustakaan, dan sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila benar keyakinan sejumlah pakar di negara maju, bahwa modal intelektual - bukan modal uang, teknologi dan alam - yang menentukan kemajuan organisasi kini dan nanti, bisa dibayangkan bagaimana daya saing kita sebagai bangsa bila mata rantai kepuasannya masih hancur lebur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pernah ditulis Dennis G. McCarthy dalam The Loyalty Link, Xerox pernah meneliti 500.000 pelanggan di tahun 1991. Pada skala satu hingga lima, Xerox menemukan bahwa pelanggan yang benar-benar puas (skala lima), kemungkinan untuk membeli kembali enam kali lebih besar dibandingkan dengan pelanggan yang puas (skala empat). Sedangkan untuk pelanggan dengan skala empat, hanya sedikit lebih besar kemungkinan membelinya dibandingkan dengan pelanggan puas (skala tiga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa bayangkan, bagaimana perilaku pelanggan yang tidak puas, atau yang ditipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang kita tidak memiliki angka indeks kepuasan konsumen sebagaimana di Amerika. Namun yang jelas, kalau Anda rajin membaca keluhan di surat pembaca media cetak, yang namanya konsumen di negeri ini masih menjadi mahluk mainan yang sering menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar konsumen yang kena tipu, kecewa, dikadalin, ditodong, atau malah ditelantarkan masih demikian panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita awal tentang mata rantai kepuasan, sebab dari parahnya sektor pelayanan kita memang cukup banyak. Namun, bagaimana karyawan diperlakukan, memberi warna yang sangat dominan terhadap persoalan besar yang tidak selesai-selesai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa bayangkan, bagaimana pegawai negeri bisa memberikan pelayanan yang memadai jika gajinya di bawah UMR. Lebih-lebih menyaksikan gaya hidup pimpinannya yang jauh dari kapasitas gaji formalnya. Bagaimana seorang satpam bisa menghormati tamu, jika bossnya setiap lewat sangat pelit tersenyum dan mengucapkan selamat pagi. Bagaimana bagian customer service bisa memberikan pelayanan prima, jika belum apa-apa sudah dijegal bagian pendukung yang sarat akan kebutuhan untuk diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirangkum menjadi satu, kita memang memerlukan perbaikan mendasar dalam mata rantai kepuasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat kepuasan pelanggan bersifat eksternal, dan merupakan hasil ikutan dari kepuasan karyawan, tidak ada salahnya memulai perbaikan mendasar di sektor kepuasan karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melakukannya dengan menghitung employee satisfaction index secara rutin. Membandingkannya antarbagian. Malakukan rotasi dalam rangka menjaga keseimbangan antara pusat kepuasan dan pusat ketidakpuasan. Bagaimana dengan Anda?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-29589634248869716?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/29589634248869716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=29589634248869716' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/29589634248869716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/29589634248869716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/mata-rantai-kepuasan.html' title='Mata Rantai Kepuasan'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-7323502554386574529</id><published>2008-08-31T16:20:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T00:59:35.750-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Organisasi Berbasiskan Pengetahuan'/><title type='text'>Organisasi Berbasiskan Pengetahuan</title><content type='html'>Membaca argumen Brian Arthur dari Institut Santa Fe - sebagaimana dikutip Thomas A Stewart dalam buku Intelectual Capital - yang dibangun di atas tumpukan data yang meyakinkan, mengingatkan saya kembali akan pentingnya organisasi dan juga ekonomi berbasiskan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba cermati kesimpulan Arthur : ‘Economy that are resources based are still subject to diminishing return. The parts of the economy that are knowledge based are largely subject to increasing returns‘.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan terakhir ini sebenarnya tidak hanya berlaku di Amerika sana. Namun juga membumi di sini. Indikatornya sederhana saja. Coba perhatikan kecenderungan nilai tukar barang-barang hasil pertanian dari pedesaan, dibandingkan barang berbasiskan pengetahuan dari perkotaan. Angkanya semakin menyedihkan dan menyedihkan. Ketika saya masih remaja dulu, sebuah mobil Chevrolet Luv bisa dibeli hanya dengan beberapa karung cengkeh. Sekarang, berapa karung cengkeh yang dibutuhkan untuk membeli mobil yang sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia korporasi juga sama. Lihat perusahaan-perusahaan yang prestasinya menjulang. Sebut saja Microsoft, General Electric, IBM atau perusahaan sejenis. Hampir semuanya maju pesat bertumpu pada intensitas penggunaan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persaingan antarnegara juga setali tiga uang. Amerika Serikat yang dikenal sebagai pelopor pembentuk masa depan, menghabiskan uang yang sangat besar untuk mendalami teknologi dan pengetahuan masa depan. Anggaran litbangnya melimpah. Sektor-sektor yang dijadikan konsentrasi hampir semuanya bersifat knowledge intensive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persaingan antar pekerja juga tidak banyak berbeda. Semakin intensif sebuah profesi menggunakan pengetahuan, semakin besar kemungkinan diberi kompensasi yang lebih tinggi. Sebagai contoh, sebuah tabloid pernah membuka rahasia gaji konsultan asing yang membantu BPPN (badan penyehatan perbankan nasional). Awalnya, saya tidak hanya terkejut. Malah, tidak pernah membayangkan sebuah negara yang dililit krisis total bisa menggaji konsultan dengan gaji yang demikian besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, coba cermati lagi beberapa fenomena kehidupan. Perhatikan knowledge content dari barang dan jasa yang kita konsumsi. Bukankah knowledge content- nya semakin besar dari hari ke hari?. James Brian Quinn pernah menyebutkan, tiga perempat dari seluruh nilai tambah masyarakat bersumber dari pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang tidak sepenuhnya setuju dengan klasifikasi ala Alvin Toffler. Seolah-olah setelah pertanian, hanya ada industri. Setelah industri hanya ada informasi. Sejauh perut masih mau makan, pertanian akan tetap ada. Semasih kita hidup didukung peralatan, industrialisasi akan senantiasa eksis. Demikian juga dengan informasi dan pengetahuan yang semakin perlu di abad jaringan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, di bidang manapun, tuntutan akan penerapan pengetahuan tidak bisa ditunda. Dalam pasar buah-buahan, kita sudah lama tertinggal oleh tetangga kita yang kekayaan alamnya tidak senilai dengan sebuah pulau kita sekalipun. Dengan tanah persawahan yang demikian melimpah, telah lama kita mengimport beras. Di dunia industri, telah menjadi rahasia umum kalau Indonesia dijadikan ‘tong sampah’-nya Singapura. Banyak hal yang tidak laku di negeri pulau kecil ini, dibawa lari ke sini dan laku. Di sektor informasi dan pengetahuan apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digabung menjadi satu, menyongsong masa depan bagi siapapun - bangsa, perusahaan dan juga pekerja - tidak ada tawar menawar dalam intensitas penerapan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, membangun organisasi berbasiskan pengetahuan, menjadi kebutuhan semua pihak. Sayangnya, Thomas A. Stewart yang menjadi pionir di bidang intellectual capital tidak memberikan jawaban memuaskan dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi Stewart tentang human capital, structural capital dan customer capital memang sedikit membantu, tetapi misteri organisasi berbasiskan pengetahuan tetap masih tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan halaman yang terbatas, saya mencoba membuka sebagian kecil saja dari misteri di atas. Fundamennya sebenarnya sederhana saja. Mulailah mengklasifikasikan manusia dengan cara yang bisa memperlihatkan intensitas pengetahuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai konsultan, saya mengembangkan klasifikasi dengan lima tingkatan : tidak tahu, tahu, trampil, sistimatis dan kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermodalkan lima tingkatan ini, kita perlu melakukan evaluasi ulang terhadap seluruh manusia yang ada, sekaligus memagari pintu depan recruitment dengan cara yang sama. Demikian juga dengan pengembangan, penggajian dan pemeliharaan manusia. Pengembangan sebagai contoh, difokuskan untuk mentransformasikan manusia dari sekadar trampil menuju kreatif. Siapa yang dipelihara, hanyalah manusia sistimatis dan kreatif. Atau mereka yang berpotensi ke arah itu. Demikian juga dengan penggajian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria dan alat ukurnya memang teramat panjang untuk diungkapkan di sini. Namun, inilah saatnya untuk mulai meletakkan pilar-pilar organisasi hanya ke orang-orang yang sistimatis dan kreatif. Mereka yang sekadar trampil, apalagi hanya tahu, lebih-lebih tidak tahu, tidak punya pilihan lain selain segera merubah diri secepatnya. Kecuali, siap dibuat minggir oleh kecenderungan dan perkembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setting organisasi seperti ini, organisasi tidak hanya menjadi a place of production, tetapi juga a place of thinking. Bila Anda setuju dengan saya akan faedah fantastis kreativitas, organisasi juga a place for fun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-7323502554386574529?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/7323502554386574529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=7323502554386574529' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/7323502554386574529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/7323502554386574529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/organisasi-berbasiskan-pengetahuan.html' title='Organisasi Berbasiskan Pengetahuan'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-4640914814758016321</id><published>2008-08-31T16:05:00.001-07:00</published><updated>2008-09-01T00:59:17.941-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manusia Paling Beruntung'/><title type='text'>Manusia Paling Beruntung</title><content type='html'>Di sebuah seminar yang diadakan Asosiasi Manajer Indonesia cabang Bandung akhir Januari 1999, seorang peserta bertanya ke saya tentang feng Shui. ‘Adakah keyakinan ini benar, atau hanya sugesti belaka?’, demikianlah kira-kira bunyi pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, ini memang bukan bidang kajian saya. Namun, setelah mendengar dan membaca sejumlah cerita tentang feng shui, saya menemukan dua jenis penjelasan. Pertama, sebagian teori feng Shui memiliki akar rasionalitas. Contohnya, rumah tidak boleh tusuk sate tentu saja bisa dimaklumi. Sebab, kalau ada mobil yang remnya blong, maka celakalah akibatnya. Kedua, kendati sebagian teori feng Shui kelihatannya tidak masuk akal, namun karena dipercayai dan diyakini banyak orang maka ia menjadi collective beliefs. Apapun yang diyakini - apalagi secara berlebihan - bisa menjadi magnet yang bisa membuat wajah kehidupan persis seperti yang diyakini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Digabung menjadi satu, berguna tidaknya feng shui bagi seseorang, amat tergantung pada kemampuan melihat rasionalitas yang ada di baliknya, serta sudah tentu keyakinan yang menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari soal feng shui, keberuntungan adalah sebuah bidang kajian yang menarik minat banyak sekali orang. Dari orang terkenal sampai orang biasa ingin mengetahui keberuntungan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih di zaman krisis yang super langka akan kemajuan. Bila saja ada orang yang bisa merubah keberuntungan - dengan garansi uang kembali - pasti akan laris manis dicari orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di forum seminar, dalam proses konsultasi, maupun di lapangan golf, saya termasuk orang yang sering ditanya urusan seperti ini. Kendatipun sampai sekarang masih bingung, kenapa mereka bertanya ke saya. Mereka tahu, saya hanya seorang pembicara publik dan konsultan manajemen. Seorang pengusaha yang baru saja kenal beberapa menit, pernah mengajak saya berbisnis, hanya karena bentuk hidung dan telinga - yang menurut dia penuh keberuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda boleh percaya, boleh juga tidak. Namun, kalau ada ramalan positif tentang diri saya, saya akan mempercayainya. Sebaliknya, kalau negatif saya akan melupakannya. Sebab, saya tidak mau mensugesti diri dengan hal-hal negatif. Sebagai hasilnya, saya memang bukan orang kaya secara materi, tetapi saya yakin sudah mengucapkan terimakasih ke Tuhan dalam frekuensi yang lebih besar dibandingkan kebanyakan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakan makanan apa saja, melihat ikan koi di depan rumah, mendengar suara gemercik air sungai di belakang rumah, melihat mimik putera-puteri saya ketika mengucapkan thanks a lot daddy, mendengar suara isteri di telepon kala di luar kota, luput dari kecelakaan, apa lagi diberi rezeki, lebih dari cukup bagi saya untuk berucap secara otomatis : thanks God !.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat saya Ignas G. Sidik dari Prasetiya Mulya pernah bertutur : ‘Tuhan hanya bisa mengangguk !’. Bila Anda bilang uang masih kurang, mobilnya kurang mewah, isteri terlalu cerewet, atau rumah sudah cukup layak, Tuhan-pun mengiyakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan diiyakan untuk urusan yang bikin susah, saya memilih diiyakan untuk persoalan yang menimbulkan rasa senang. Makanya, ke banyak rekan saya sering berucap : the only certain thing in life is only fun. Dan, kita bisa merekayasa fun tadi dalam kehidupan. Persoalannya hanya satu : di mana kita meletakkan sudut pandang kita. Itu saja, tidak lebih tidak kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah bertemu dengan seorang yang berumur 70 tahun lebih. Namun, masih tampak sehat, awet muda dan mukanya sering berseri-seri. Di suatu pagi menjelang sarapan, saya tanya resep hidupnya. Ternyata amat sederhana : katakan cukup pada Tuhan !. ‘Lihat saja‘, demikian tuturnya sambil mengambil makanan, ’setiap pagi saya hanya butuh semangkok bubur dan segelas air putih, menjelang tidur malam makan dua buah pisang serta segelas jus, untuk itu tidak diperlukan uang dalam jumlah yang teramat banyak’. Luar biasa !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kesempatan lain, saya pernah bertemu seorang ibu dengan umur menjelang 70, yang menurut ukuran saya, hidupnya banyak kalah dan dikalahkan suaminya. Ketika saya tanya, kenapa justru suaminya yang lebih banyak ke dokter dan masuk rumah sakit, ia hanya berucap sederhana : ‘saat kita memberi, kita justru menerima dalam jumlah yang jauh lebih banyak‘. Mengagumkan sekali !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang mau saya ceritakan melalui pengalaman dua tokoh pujaan ini, ditambah dengan cerita awal tentang feng shui, beserta teori Tuhan yang hanya bisa mengangguk, rupanya rekayasa tidak menjadi monopoli kaum insinyur. Pakar-pakar kehidupan seperti Andapun bisa melakukan rekayasa keberuntungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feng shui merekayasa keberuntungan melaui peningkatan keyakinan dengan cara penataan rumah. Ignas G. Sidik sahabat saya merekayasa keberuntungannya dengan meyakini Tuhan selalu mengangguk. Bapak Tua tadi merekayasanya dengan mengatakan cukup kepada Tuhan. Ibu berbahagia di atas merekayasanya dengan kegiatan memberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang rekan secara bercanda pernah menyebutkan bahwa wanita yang memiliki tahi lalat di mukanya pasti beruntung. Ketika saya tanya balik kenapa, ia menjawab sambil tertawa : ‘untung tahi lalat, kalau tahi kebo habis mukanya tertutup‘.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari semua ini, saya menghormati teori feng shui, keyakinan cukup, Tuhan mengangguk dan teori memberi. Melengkapi perbendaharaan Anda akan ilmu rekayasa keberuntungan hidup, sebuah pepatah Zen pernah mengatakan : ‘berhasil mengatasi baik dan buruk, kalah dan menang, adalah keberuntungan sejati‘.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-4640914814758016321?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/4640914814758016321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=4640914814758016321' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/4640914814758016321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/4640914814758016321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/manusia-paling-beruntung.html' title='Manusia Paling Beruntung'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-1023156779465812986</id><published>2008-08-31T16:04:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T01:04:14.423-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Ini Hari Terbaik'/><title type='text'>Hari Ini, Hari Terbaik</title><content type='html'>Di sejumlah daerah, ada orang yang mencari hari terbaik untuk melakukan berbagai kegiatan. Ada hari baik untuk menikah. Hari baik untuk bercocok tanam, membangun rumah dan masih banyak lagi yang lain. Sayangnya, saya tidak pernah bertemu - kendati sudah tanya sana sini - ada hari terbaik untuk menjalani hidup dan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya seorang rekan yang teramat jarang memiliki rasa senang. Ketika di Jakarta, dia fikir di Bali lebih enak. Setiap kali bangun di pagi hari, ia selalu berharap ada mukjizat di hari itu. Hampir setiap hari yang ia jalani, diisi penuh dengan harapan : besok baru datang kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hasilnya, tubuhnya banyak sekali dimakan oleh fikirannya. Penyakit sering datang berkunjung. Stress apa lagi, ia datang tanpa pernah mengenal tahu diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun lebih setelah krisis melanda republik ini, saya menemukan semakin banyak manusia yang mirip dengan rekan di atas. Tatapan mata kosong. Penuh harap akan masa depan. Dan, tidak melihat satu titik cahaya terangpun di hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana saya tulis di buku saya berjudul Sukses Berdasarkan Prinsip Sungai, dalam bahasa Inggris masa lalu di sebut past - telah lewat. Masa depan diberi nama future - belum jelas. Dan masa sekarang diberi judul present, alias hadiah. Bila diandaikan dengan uang, masa lalu adalah cek yang sudah kadaluwarsa. Masa depan, mirip dengan cek dengan tanggal yang akan datang. Satu-satunya uang tunai yang tersedia adalah hari ini. Ia adalah hadiah yang diberikan Tuhan ke kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan jika Anda memberi hadiah ke orang lain. Kemudian,ia mencacampakkan hadiah tersebut di hadapan Anda. Nah, orang-orang yang tidak menghargai hari ini, setali tiga uang dengan manusia yang mencampakkan hadiah di depan mata pemberi hadiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pepatah pernah menyatakan : ‘kita tidak pernah melewati sungai yang sama dua kali’. Ini benar, sebab tiap detik air sungai berganti. Demikian juga dengan waktu, tiap detik yang lewat tidak akan pernah bisa terulang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak bisa diulang lagi, satu-satunya pilihan yang tersedia buat kita hanya satu : menikmatinya !. Ketika artikel ini sedang dibuat, saya sedang mendengar bunyi hujan yang jatuh menimpa atap rumah. Burung gereja duduk bertengger di kabel telepon saling mengasihi dengan yang lain. Air sungai di belakang rumah mendekati penuh. Bunga teratai di halaman rumah sedang mengembang. Saya mencoba membuat rangkaian yang bisa menjadikan detik itu nikmat. Kombinasi antara suara hujan, cicit burung gereja serta gemercik air di sungai, merajut sebuah kesejukan hidup yang memaksa saya berucap lirih : terimakasih Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara materi, memang ada banyak manusia yang lebih kaya dibandingkan dengan saya. Mobil tetangga lebih bagus. Sebagian rumah mereka lebih mewah. Namun, rajutan kehidupan yang menempatkan suara hujan, cicit burung dan gemercik air sungai sebagai sebuah kesejukan, boleh jadi, hanya milik saya seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kejenuhan datang berkunjung, saya menyiasatinya dengan mengobrol kecil bersama satpam, tukang kebun, atau malah pergi ke rumah sakit serta melewati kuburan. Salah satu alasan kenapa saya tinggal di Bintaro Jaya, karena setiap datang dan pergi harus melewati kuburan Tanah Kusir. Dan, tidak ada cahaya pantulan refleksi kehidupan yang lebih besar dibandingkan kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah rekan yang mau berkunjung ke rumah mengeluh dengan kemacetan sebelum memasuki Bintaro. Bagi mereka, kemacetan adalah salah satu bentuk neraka. Kendati kadang dibuat stres olehnya, saya belajar untuk menempatkan kemacetan sebagai kursus kesabaran yang paling efektif. Dan, ternyata memang demikianlah adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita awal tentang hari terbaik dalam kehidupan, Anda memang boleh punya pilihan hari yang lain. Namun, bagi saya karena hari ini adalah satu-satunya hari yang paling riil dalam kehidupan, maka inilah hari terbaik saya dalam kehidupan. Baik untuk dinikmati, untuk digunakan sebagai turning point perbaikan, tempat menabung bagi masa depan, menyayangi anak isteri, atau mulai mengumpulkan teman baik sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirip dengan berada di tengah terowongan yang gelap gulita. Dibandingkan meratapi keputusan kenapa saya bisa sampai di sini. Atau berharap besok akan ada mukjizat bahwa terowongan penuh dengan sinar, lebih baik berhenti sejenak, melihat kiri kanan barangkali ada yang bisa dinikmati, kemudian baru berfikir bagaimana keluar dari sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, ada banyak sekali rekan yang pusing, stres bahkan ada yang sakit dibuat oleh ‘gelapnya terowongan’ kehidupan di masa krisis. Coba perhatikan alam sekitar Anda. Dari orang yang berjalan, suara yang Anda dengar, sampai bau yang masuk lewat hidung. Dengan sedikit ketrampilan merajut, hari ini bisa menjadi hari terbaik dalam kehidupan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda yang terkena PHK, menunggu mendapatkan pekerjaan, baru memulai usaha secara mandiri, atau dicampakkan oleh kenaikan harga bahan pokok yang sudah sangat tidak sopan lagi, dengan sedikit kreativitas, coba rajut lagi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri rekan saya berhasil memasak banyak sekali menu baru yang enak tetapi hemat. Rekan saya yang dulu gemuk, sekarang langsing dan segar karena memakan banyak sayur. Sahabat saya yang kurang pergaulan, sekarang merasakan nikmatnya punya banyak teman setelah punya banyak waktu luang. Inilah rangkaian kegiatan yang saya sebut dengan merajut kembali hari ini sebagai hari terbaik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-1023156779465812986?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/1023156779465812986/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=1023156779465812986' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/1023156779465812986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/1023156779465812986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/hari-ini-hari-terbaik.html' title='Hari Ini, Hari Terbaik'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-5211200361736103413</id><published>2008-08-31T16:03:00.002-07:00</published><updated>2008-09-01T00:58:43.158-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orang Brengsek Guru Sejati'/><title type='text'>Orang Brengsek Guru Sejati</title><content type='html'>Entah apa dan di mana menariknya, Bank Indonesia amat senang mengundang saya untuk menyampaikan presentasi dengan judul Dealing With Difficult People. Yang jelas, ada ratusan staf bank sentral ini yang demikian tertarik dan tekunnya mendengar ocehan saya. Motifnya, apa lagi kalau bukan dengan niat untuk sesegera mungkin jauh dan bebas dari manusia-manusia sulit seperti keras kepala, suka menghina, menang sendiri, tidak mau kerja sama dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal presentasi, hampir semua orang bernafsu sekali untuk membuat manusia sulit jadi baik. Dalam satu hal jelas, mereka yang datang menemui saya menganggap dirinya bukan manusia sulit, dan orang lain di luar sana sebagian adalah manusia sulit.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, begitu mereka saya minta berdiskusi di antara mereka sendiri untuk memecahkan persoalan kontroversial, tidak sedikit yang memamerkan perilaku-perilaku manusia sulit. Bila saya tunjukkan perilaku mereka - seperti keras kepala, menang sendiri, dll - dan kemudian saya tanya apakah itu termasuk perilaku manusia sulit, sebagian dari mereka hanya tersenyum kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari sinilah, maka sering saya menganjurkan untuk membersihkan kaca mata terlebih dahulu, sebelum melihat orang lain. Dalam banyak kasus, karena kita tidak sadar dengan kotornya kaca mata maka orangpun kelihatan kotor. Dengan kata lain, sebelum menyebut orang lain sulit, yakinlah kalau bukan Anda sendiri yang sulit. Karena Anda amat keras kepala, maka orang berbeda pendapat sedikitpun jadi sulit. Karena Anda amat mudah tersinggung, maka orang yang tersenyum sedikit saja sudah membuat Anda jadi kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pembicaraan mengenai manusia sulit hanya boleh dibicarakan dalam keadaan kaca mata bersih dan bening. Setelah itu, saya ingin mengajak Anda masuk ke dalam sebuah pemahaman tentang manusia sulit. Dengan meyakini bahwa setiap orang yang kita temui dalam hidup adalah guru kehidupan, maka guru terbaik kita sebenarnya adalah manusia-manusia super sulit. Terutama karena beberapa alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, manusia super sulit sedang mengajari kita dengan menunjukkan betapa menjengkelkannya mereka. Bayangkan, ketika orang-orang ramai menyatukan pendapat, ia mau menang sendiri. Tatkala orang belajar melihat dari segi positif, ia malah mencaci dan menghina orang lain. Semakin sering kita bertemu orang-orang seperti ini, sebenarnya kita sedang semakin diingatkan untuk tidak berperilaku sejelek dan sebrengsek itu. Saya berterimakasih sekali ke puteri Ibu kost saya yang amat kasar dan suka menghina dulu. Sebab, dari sana saya pernah berjanji untuk tidak mengizinkan putera-puteri saya sekasar dia kelak. Sekarang, bayangan tentang anak kecil yang kasar dan suka menghina, menjadi inspirasi yang amat membantu pendidikan anak-anak di rumah. Sebab, saya pernah merasakan sendiri betapa sakit hati dan tidak enaknya dihina anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, manusia super sulit adalah sparring partner dalam membuat kita jadi orang sabar. Sebagaimana sering saya ceritakan, badan dan jiwa ini seperti karet. Pertama ditarik melawan, namun begitu sering ditarik maka ia akan longgar juga. Dengan demikian, semakin sering kita dibuat panas kepala, mengurut-urut dada, atau menarik nafas panjang oleh manusia super sulit, itu berarti kita sedang menarik karet ini (baca : tubuh dan jiwa ini) menjadi lebih longgar (sabar). Saya pernah mengajar sekumpulan anak-anak muda yang tidak saja amat pintar, namun juga amat rajin mengkritik. Setiap di depan kelas saya diuji, dimaki bahkan kadang dihujat. Awalnya memang membuat tubuh ini susah tidur. Tetapi lama kelamaan, tubuh ini jadi kebal. Seorang anggota keluarga yang mengenal latar belakang masa kecil saya, pernah heran dengan cara saya menangani hujatan-hujatan orang lain. Dan gurunya ya itu tadi, manusia-manusia pintar tukang hujat di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, manusia super sulit sering mendidik kita jadi pemimpin jempolan. Semakin sering dan semakin banyak kita memimpin dan dipimpin manusia sulit, ia akan menjadi Universitas Kesulitan yang mengagumkan daya kontribusinya. Saya tidak mengecilkan peran sekolah bisnis, tetapi pengalaman memimpin dan dipimpin oleh manusia sulit, sudah terbukti membuat banyak sekali orang menjadi pemimpin jempolan. Rekan saya menjadi jauh lebih asertif setelah dipimpin lama oleh purnawirawan jendral yang amat keras dan diktator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, disadari maupun tidak manusia sulit sedang memproduksi kita menjadi orang dewasa. Lihat saja, berhadapan dengan tukang hina tentu saja kita memaksa diri untuk tidak menghina balik. Bertemu dengan orang yang berhobi menjelekkan orang lain tentu membuat kita berefleksi, betapa tidak enaknya dihina orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, dengan sedikit rasa dendam yang positif manusia super sulit sebenarnya sedang membuat kita jadi hebat. Di masa kecil, saya termasuk orang yang dibesarkan oleh penghina-penghina saya. Sebab, hinaan mereka membuat saya lari kencang dalam belajar dan berusaha. Dan kemudian, kalau ada kesempatan saya bantu orang-orang yang menghina tadi. Dan betapa besar dan hebatnya diri ini rasanya, kalau berhasil membantu orang yang tadinya menghina kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir dan yang paling penting, manusia super sulit sebenarnya menunjukkan jalan ke surga, serta mendoakan kita masuk surga. Pasalnya, kalau kita berhasil membalas hinaan dengan senyuman, batu dengan bunga, bau busuk dengan bau harum, bukankah kemungkinan masuk surga menjadi lebih tinggi?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-5211200361736103413?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/5211200361736103413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=5211200361736103413' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/5211200361736103413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/5211200361736103413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/orang-brengsek-guru-sejati.html' title='Orang Brengsek Guru Sejati'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-41237669847257942</id><published>2008-08-31T16:03:00.001-07:00</published><updated>2008-09-01T00:58:18.628-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berani Gagal'/><title type='text'>Berani Gagal</title><content type='html'>Untuk dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan ”tertidur.” Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan ”tertidur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu di mana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor pin Anda. Dan Andapun menyerahkan uang Anda pada orang tidak dikenal. Anda tahu, tapi tidak sadar. Karena itu, Anda bergerak bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta benda.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Anda tidak juga melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi Anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi Anda tidak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu tapi tidak sadar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang dapat membuat orang menjadi sadar. Pertama, peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah sebenarnya adalah ”rahmat terselubung’ ‘ karena dapat membuat kita bangun dan sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau Anda sakit. Anda baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol Anda mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda baru sadar nikmatnya bekerja kalau Anda di-PHK. Seorang wanita karier baru menyadari bahwa keluarga jauh lebih penting setelah anaknya terkena narkoba. Seorang sopir taksi pernah bercerita bahwa ia baru menyadari bahayanya judi setelah hartanya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal. Bayangkan kalau Anda sedang menonton film di bioskop. Pertunjukan sedang berlangsung seru ketika tiba-tiba listrik padam. Petugas bioskop berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Silakan Anda pulang, pertunjukan sudah selesai!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda protes, bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali. Tapi, si penjaga hanya berkata tegas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pertunjukan sudah selesai, listriknya tidak akan pernah hidup kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat dekat kita sering menyadarkan kita pada arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita pada betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tidak sempat kita nikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini seringkali menipu dan meninabobokan orang. Untuk menjadi bangun kita harus sadar mengenai tiga hal, yaitu siapa diri kita, darimana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de Chardin,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia bukanlah ”makhluk bumi” melainkan ”makhluk langit.” Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi. Tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan ”rumah” untuk mencari ”rumah” yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba Anda resapi paragraf diatas dalam-dalam. Badan kita akan mati, tapi jiwa kita tetap hidup. Kalau Anda menyadari hal ini, Anda tidak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat apa sibuk mengumpul-ngumpulkan kekayaan — apalagi dengan menyalahgunakan jabatan — kalau hasilnya tidak dapat Anda nikmati selama-lamanya. Apalagi Anda sudah merusak jiwa Anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa inilah milik kita yang abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apakah kita perlu mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang pahit tersebut agar kita sadar? Jawabnya: ya! Tapi kalau Anda merasa cara tersebut terlalu mahal, ada cara kedua yang jauh lebih mudah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajarlah MENDENGARKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarlah dan belajarlah dari pengalaman orang lain. Bukalah mata dan hati Anda untuk mengerti, mendengarkan, dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma Anda. Sayang, banyak orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum sepenuhnya bangun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-41237669847257942?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/41237669847257942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=41237669847257942' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/41237669847257942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/41237669847257942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/berani-gagal.html' title='Berani Gagal'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-6337146236437524324</id><published>2008-08-31T16:01:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T00:57:47.817-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekantong Tahi Sapi'/><title type='text'>Sekantong Tahi Sapi</title><content type='html'>Bayangkan di suatu pagi, ada seorang tetangga yang memberi Anda sekantong tahi sapi. Tanpa basa basi, langsung saja kantong tadi diletakkan di depan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang sentimen dengan tetangga, mala petakalah akhir dari kejadian ini. Namun, bagi mereka yang menempatkan pemberian sebagai sebuah kemuliaan, maka tahi sapi tadi bisa menjadi awal persahabatan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Nah, Anda dan saya juga sedang diberi tahi sapi (baca : krisis). Persoalannya, apakah krisis ini akan menjadi awal petaka atau awal kemajuan, sangat ditentukan oleh bagaimana kita menempatkan krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu karya terbaik Deepak Chopra adalah Ageless Body, Timeless Mind. Di sini penyembuh ini bertutur tentang bagaimana hidup awet muda. Fundamental dalam tesis Chopra, tubuh ini terbuat dari pengalaman-pengalaman yang didagingkan (dimasukkan ke dalam tubuh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu bukti dari tesis terakhir, Chopra mengutip pengalaman seorang Ibu yang baru menerima sumbangan jantung dari orang lain. Begitu keluar dari rumah sakit, sang Ibu meminta dua hal yang tidak pernah disukai sebelumnya : bir dan ayam goreng. Setelah diselidik, ternyata donatur jantung yang telah meninggal, memiliki hobi berat meminum bir sambil memakan ayam goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman terakhir mengingatkan saya dengan pendapat Norman Cousin yang pernah menyebut bahwa “kepercayaan itu menciptakan biologi“. Ini berarti, garis batas antara biologi dan psikologi sebenarnya sangat dan teramat tipis - kalau tidak mau dikatakan tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini berati, cara kita menempatkan krisis, tidak hanya terkait dengan sukses gagal di hari ini. Lebih dari itu, kita sedang mendagingkan serangkaian sistim nilai ke dalam tubuh kita. Untuk kemudian, memberi pengaruh yang amat besar ke dalam rautan wajah dan tubuh kita kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba cermati ciri-ciri manusia awet muda dan panjang umur sebagaimana ditemukan oleh Chopra. Dari meraup kesenangan dari kegiatan sehari-hari, menganggap hidup bermakna, yakin telah mencapai sasaran utama, menganut citra diri positif, sampai dengan optimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya menunjukkan upaya membadankan sistim nilai positif. Larry Scherwitz dari Universitas California pernah merekam hasil percakapan dengan 600 pria. Sepertiganya mengidap penyakit jantung, dan sisanya sehat-sehat saja. Scherwitz menemukan, pria yang menggunakan kata ganti “saya” lebih banyak dari rata-rata orang, mempunyai resiko kena serangan jantung lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman saya juga menunjukkan hal yang sama. Dari ratusan eksekutif yang pernah dikumpulkan karangannya, mereka yang otoriter, egois dan mau menang sendiri, menggunakan kata ganti “saya” jauh lebih banyak dibandingkan yang lain. Chopra juga menemukan hal yang mirip, angka kematian karena kanker dan penyakit jantung terbukti lebih tinggi diantara orang yang mengalami jiwa murung, dan lebih rendah diantara orang yang mempunyai maksud yang tegas serta jiwa yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penemuan-penemuan semacam ini, Scherwitz merekomendasikan untuk semakin membuka hati kepada orang lain. Salah seorang responden Scherwitz yang umurnya sudah tua namun memiliki jantung yang amat sehat berargumen : “seseorang yang terbuka dan penuh cinta akan menua dengan baik“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lebih dari sekadar terbuka terhadap orang lain, kita juga memerlukan keterbukaan dalam memandang kehidupan. Persis seperti kasus tetangga yang memberi sekantong tahi sapi. Keterbukaan dan kesediaan untuk mencintai, membuat semua kejadian kehidupan - dari dapat tahi sapi sampai dengan berlian - menjadi penuh dengan warna keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egoisme - sebagaimana tercermin dari banyaknya penggunaan kata saya - memang tidak selalu buruk. Namun, ia kerap membadankan serangkaian nilai, yang membuat badan ini cepat tua, lapuk serta rentan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam hasil sebuah penemuan di dunia kedokteran, kemanapun perginya fikiran, senantiasa ada bahan kimia yang menyertainya. Atau keadaan-keadaan mental yang murung dirubah menjadi bahan-bahan kimia yang menimbulkan penyakit. Demikian juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari semua ini, dibandingkan dengan mengumpat dan memaki tahi sapi yang bernama krisis, saya mendidik diri untuk menempatkan krisis sebagai “pupuk“-nya kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa periode lalu, RUPS sebuah perusahaan besar menunjuk saya sebagai direktur SDM. Awalnya, tentu saja ini sebuah berkah yang dirayakan oleh keluarga saya. Sebab, sebelah kaki menjadi manusia bebas (konsultan, penulis dan pembicara publik) namun mengalami siklus keuangan yang naik turun, sebelah kaki jadi eksekutif puncak dengan siklus keuangan yang pasti dan menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, saya kehilangan dua kemewahan : menjadi raja bagi waktu, dan kemewahan hanya memberi saran tanpa perlu memantau pelaksanaan dan tanggungjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari kehilangan ini, saya sempat mengalami gejala insomnia (susah tidur). Belakangan, setelah membuka-buka lagi khasanah tentang fikiran yang memproduksi bahan kimia dalam tubuh, semua ini saya rombak secara perlahan. Belum sempurna memang ! Yang jelas, ritme tidur saya sudah kembali ke sedia kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita awal tentang sekantong tahi sapi, Anda dan saya setiap hari ada yang membawakan “tahi sapi“. Mirip dengan tahi sapi, kita tidak bisa merubah kehidupan. Akan tetapi, kita bisa merubah diri bagaimana mesti melihat dan menempatkan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar akan penemuan bahwa keyakinan memproduksi biologi, saya memilih untuk melihat segi positif dari tahi sapi. Terserah Anda!.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-6337146236437524324?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/6337146236437524324/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=6337146236437524324' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/6337146236437524324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/6337146236437524324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/sekantong-tahi-sapi.html' title='Sekantong Tahi Sapi'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-927295250487302680</id><published>2008-08-31T16:00:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T00:56:13.573-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Merajut Sutera Keberhasilan'/><title type='text'>Merajut Sutera Keberhasilan</title><content type='html'>Untuk pertama kali dalam kehidupan saya sebagai pembicara publik, saya bertatapan dengan ratusan pasang mata yang lapar motivasi. Anak-anak muda korban likuidasi perbankan ini, membawa refleksi mendalam dalam kehidupan saya. Baru saja memulai karir dalam beberapa tahun, tiba-tiba saja langit karir mereka bergoyang. Itupun ditutup dengan cerita kurang sedap tentang pesangon yang belum menentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pernah saya alami, umur-umur muda baru selesai sekolah, adalah umur pembentukan yang masih ditandai sejumlah kelabilan psikologis. Bangunan karir masih jauh sekali dari selesai. Bahkan, fondasinyapun sebagian saja belum terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bila di tahap prematur seperti ini ada goncangan PHK, tentu ini bukanlah sebuah godaan yang ringan. Namun, apapun yang dilakukan orang di tahapan manapun, kita tidak pernah berhenti merajut sutera kehidupan (baca : keberhasilan) selama masih bernafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pernah ditulis Swami Vivekananda, “Fikiran, kata-kata dan tindakan kita, semuanya adalah benang-benang rajutan yang kita tenun pada diri kita“. Sayangnya, banyak manusia - terutama yang sedang dilanda sejumlah godaan seperti PHK - bukannya merajut keberhasilan, melainkan menghancurkannya. Baik melalui fikiran, kata-kata maupun tindakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita mulai dengan dunia fikiran. Setiap orang dewasa memiliki kerangka dalam fikirannya. Begitu bertemu dengan kerangka orang yang mirip dengan keinginan kita, maka mudah sekali timbul keakraban. Demikian juga sebaliknya. Ini yang bisa menjelaskan, kenapa seseorang dengan ‘kerangka‘ maling cepat akrab di komunitas maling. Atau seseorang dengan ‘kerangka‘ kiai cepat merasa kesepian di tengah pembohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses bagaimana kerangka tadi terbentuk, tidaklah cepat dan mudah. Ia mirip dengan proses air yang menetes kemudian melobangi batu : lama, panjang namun konsisten. Sebagian proses ini bersifat sengaja, sebagian lagi berjalan di luar kesengajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang hidupnya penuh frustrasi, tanpa disadari sebenarnya sedang membangun ‘kerangka’ tertentu dalam dirinya. Pada awalnya, diri kita menolak dibawa ke wilayah baru ini. Namun, begitu ajakan-ajakan frustrasi tadi dilakukan dalam waktu yang lama dan panjang, diri kita mulai merasa nyaman dengan kerangka baru ini. Makanya, orang yang tadinya pemalu (sebagai contoh penyanyi Madonna) bisa menjalani kehidupan yang jauh dari rasa malu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek kedua dari rajutan sutera keberhasilan adalah kata-kata. Yang terakhir ini sebenarnya tidak hanya rangkaian huruf yang membentuk makna. Kata-kata juga membentuk kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba perhatikan manusia-manusia yang suka berkata-kata kasar, jorok, dan dengki. Bila itu dilakukan dalam kurun waktu yang lama dan panjang - tanpa perbaikan berarti - jangan terkejut kalau mereka memasuki gerbang kehidupan yang kasar, jorok dan dibenci orang. Saya pernah menemukan orang demikian dalam jumlah yang tidak sedikit. Sebaliknya, coba buka catatan sejarah tentang pemimpin-pemimpin besar. Rangkaian kata-katanya banyak yang menggugah, menyentuh dan memberi inspirasi. Kalau setelah mereka meninggal, banyak orang berkomentar seindah kata-kata yang pernah diucapkan pemimpin, ini bukanlah sebuah kebetulan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bisa terjadi, karena kata-kata yang kita keluarkan sebenarnya terpantul ke diri kita. Diri kita sebagian adalah hasil echo dari kata-kata yang kita ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek ketiga sekaligus yang paling riil dari sutera keberhasilan adalah tindakan. Diri kita, sebenarnya hasil dari keputusan dan tindakan yang diambil di masa lalu. Saya menjadi pembicara publik dan konsultan karena pernah dan konsisten memutuskan untuk tetap di jalur ini. Orang bisa menjadi penjudi karena pernah memutuskan untuk menjadi penjudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun tanpa terkecuali, bisa memberikan warna terhadap kehidupannya melalui keputusan dan tindakannya. Namun, impak yang ditimbulkannya menjadi kecil jika seseorang sering melakukan zig-zag dalam kehidupan. Hari ini mau jadi agen asuransi, besok mau jadi pegawai bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, kita juga sedang membentuk diri sendiri melalui percobaan-percobaan kehidupan yang dilakukan setiap hari. Seorang sahabat saya di masa muda tidak bisa keluar dari profesi judi karena pernah mencoba dan menang besar. Ada teman yang sangat menikmati kehidupan menjadi pendeta, karena pernah mencoba dan ternyata cocok dengan apa yang dicari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digabung menjadi satu, fikiran, kata-kata dan tindakan adalah bahan-bahan sutera keberhasilan yang amat menetukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurnya, ketiga-tiganya diizinkan untuk berada dalam kontrol kita. Sayangnya, karena ketidaktahuan, kekhilafan atau ketidakmampuan belajar, kita sering membiarkan wajah kehidupan kita ‘dibentuk’ oleh fikiran, kata-kata dan tindakan yang kita buat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita awal saya tentang ratusan anak muda korban PHK, yang saya temui dalam seminar yang diadakan BPPN (Badan Penyeehatan Perbankan Nasional), umur muda sebenarnya sebuah peluang emas. Sutera Anda belum terlalu terbentuk. Sebagian besar fikiran Anda masih bersih. Tabungan kata-kata kotor Anda masih sedikit. Demikian juga dengan tindakan, masih terlalu banyak yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kahlil Gibran dalam Sang Nabi pernah menulis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;blockquote&gt;Dan apakah kerja dengan rasa cinta itu?&lt;br /&gt;  Laksana menenun kain dari benang&lt;br /&gt;  Yang ditarik dari jantungmu&lt;br /&gt;  Seolah-olah kekasihmulah&lt;br /&gt;  Yang akan mengenakan kain itu&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-927295250487302680?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/927295250487302680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=927295250487302680' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/927295250487302680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/927295250487302680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/merajut-sutera-keberhasilan.html' title='Merajut Sutera Keberhasilan'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-5596491761685537691</id><published>2008-08-31T15:59:00.001-07:00</published><updated>2008-09-01T00:55:18.957-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mendengarkan Bocah Dalam Diri'/><title type='text'>Mendengarkan Bocah Dalam Diri</title><content type='html'>Anak-anak, bagi saya, adalah sebuah kekayaan yang amat berharga dalam kehidupan. Mereka tidak hanya penerus kehidupan, dalam dimensi kekinian juga sumber tawa dan canda. Bayangkan, sesuatu bila diucapkan orang dewasa menjadi biasa-biasa saja, namun bila terucap dari mulut bocah, tawa dan bangga mudah keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, tidak demikian halnya dengan bocah di dalam diri kita. Sedikit saja timbul kesalahan, kita mudah sekali menyebut diri kekanak-kanakan. Kita menyebut semua bentuk perilaku kanak-kanak sebagai perilaku yang perlu disembunyikan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Coba perhatikan pegolf dunia Tiger Wood tatkala baru memperoleh birdie, ia menampilkan perilaku kanak-kanaknya dengan menyatukan siku dengan lututnya. Amati pemain sepak bola yang berhasil merobohkan gawang lawan, ia berlari, berteriak, memeluk semua temannya persis seperti anak-anak. Iklan sebuah telepon seluler menunjukkan, bahkan pemimpin dunia sedingin Margareth Thatcher-pun bisa mempertontonkan perilaku anak-anak di depan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pernah dikerangkakan melalui analisis transaksional, anak-anak adalah bagian dari diri kita selama kita masih bernafas. Mau dimusnahkan sekalipun, ia akan senantiasa menjadi bagian integral dari tubuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ditekan, disamping menjadi sumber daya tidak terpakai, ia juga bisa membuat hidup tidak seimbang. Sesuatu yang kerap menjadi awal kecelakaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, energi kanak-kanak juga menjadi sumber dari kejernihan, kreatifitas, dan kepolosan-kepolosan alami. Coba perhatikan pertanyaan-pertanyaan polos anak-anak di rumah. Bukankah ia teramat jujur? Kendati naif, tidakkah ia menyimpan fundamentalisme hidup? Meskipun lucu, tidak jarang kita dibuat terperanjat oleh pertanyaan-pertanyaan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setali tiga uang dengan anak-anak di rumah, bocah di dalam diri kita juga sama. Ia sering bertanya, bercanda, menimbulkan tawa, atau kadang sarkastis terhadap diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering mentertawai hidung saya yang dulu ditertawai orang. Rambut rontok saya, tidak hanya menjadi bahan tertawaan saya, tetapi juga konsumsi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hasilnya, lebih dari sekadar tertawa sendiri maupun bersama orang lain, kegiatan mentertawai diri sendiri ini sering menjadi sumber kedewasaan, dan kearifan hidup. Penyakit mudah tersinggung yang menghinggapi saya dulu, pelan-pelan berkurang secara meyakinkan. Kekakuan bergaul dengan orang lain, luntur bersamaan dengan semakin seringnya saya mentertawai diri sendiri. Tidak sedikit uang yang saya peroleh yang bersumber dari imajinasi ala anak-anak. Paradigma anak-anak yang polos dan lentur, tidak hanya mengurangi konflik dengan orang lain, tetapi juga membuat saya semakin kaya secara filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena demikian seringnya bocah dari dalam ini didengar, ia teramat sering menjadi rem etika yang mengagumkan. Di hotel tempat saya sering menginap, ada banyak godaan, namun kanan-kanak saya bertanya : “bukankah kamu menjadi guru buat orang lain?“. Di perusahaan tempat saya bekerja, sering ada peluang uang yang tidak sedikit, tetapi bocah dalam diri ini sering berucap lirih : “bukankah Anda sering berucap di seminar, bahwa etika adalah sesuatu yang Anda lakukan ketika orang lain tidak ada?“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah ini tidak saja berfungsi menjadi rem. Ia kerap menjadi penyeimbang kehidupan yang mengagumkan. Tatkala badan sudah diperkosa pekerjaan, kanak-kanak di dalam diri permisi untuk diajak teriak-teriak di karaoke, lapangan golf, atau malah di sungai belakang rumah. Ketika mood lagi jenuh, ia mulai merengek untuk diajak bertemu teman yang menimbulkan tawa. Di saat rasa marah muncul, ia meledek saya sebagai orang yang hanya bisa bicara di depan umum tanpa bisa melaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu bagaimana pengalaman Anda, bagi saya energi kanak-kanak yang tersembunyi dalam diri kita amatlah luar biasa jika dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa ciri yang melekat dalam energi yang sering tidak diizinkan untuk muncul ini. Polos, naif, jujur, tidak masuk akal, lucu, egois, adalah sebagian dari ciri-ciri dorongan kekanak-kanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda boleh punya cara lain untuk belajar mendengarkan bocah dalam diri Anda. Saya melakukannya dengan beberapa langkah berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, miliki minimal setengah jam setiap hari untuk meledek atau mentertawakan diri sendiri. Waspadai jangan sampai membuat diri Anda minder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, daftar kelucuan, kobodohan dan kekhilapan Anda selama hidup, dan temukan cara untuk mentertawakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, luangkan waktu untuk memuaskan anak-anak di dalam diri Anda. Saya melakukannya dengan berkaraoke, berteriak di lapangan golf, mencoret-coret foto orang yang saya tidak suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, setiap kali melihat persoalan - apa lagi saat kepala mampet - tanyalah diri Anda : “bagaimana saya melihat persoalan ini tatkala saya masih anak-anak?“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pernah ditulis fisikawan Fritjof Capra dalam The Uncommon Wisdom : “Krishnamurti told with all his charisma and persuasion to stop thinking, to liberate my self from all knowledge, to leave reasoning behind.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian untuk berhenti berfikir, meletakkan reason di belakang, membebaskan diri dari semua pengetahuan - yang saya yakin menjadi titik awal dari kreatifitas dan kepekaan kemanusiaan, bisa dilakukan bila kita kembali ke posisi innocent sebagaimana anak-anak. Ini bisa dicapai, bila kita rajin mendengarkan bocah dalam diri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-5596491761685537691?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/5596491761685537691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=5596491761685537691' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/5596491761685537691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/5596491761685537691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/mendengarkan-bocah-dalam-diri.html' title='Mendengarkan Bocah Dalam Diri'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-2025899037065416171</id><published>2008-08-31T15:58:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T00:54:28.768-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bebas Dari Belenggu Ketakutan'/><title type='text'>Bebas Dari Belenggu Ketakutan</title><content type='html'>Untuk urusan menjadi pembicara publik bagi sejumlah perusahaan minyak terkemuka, saya menghabiskan banyak waktu di kota Bandung. Satu hal yang membedakan Bandung dengan Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya, adalah wajah-wajah manusia yang kita temui di jalan raya. Begitu sampai di Bandung, langsung terasa ekspresi takut dan curiga manusianya amatlah berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta, kita bertemu jutaan manusia dengan tatapan mata kosong, memandang curiga ke orang lain, pelit sekali dengan senyum buat orang lain, dan diliputi rasa takut dan was-was setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hidup dan kehidupan - dalam keadaan demikian - adalah pengalaman yang diisi dengan rasa takut, curiga dan was-was. Membaca koran, sebagian isinya pembunuhan dan perampokan. Mendengar radio, tidak sedikit yang berisi cerita menakut-nakuti. Menonton televisi, ada gambar-gambar penuh darah dan kebencian. Di kantor, hampir semua bermain politik saling menjatuhkan. Di lingkungan tetangga, orang pamer dan berperilaku lebih kaya dibandingkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu kesempatan berjalan-jalan kaki bersama isteri di kota Bandung, saya amat merasakan suasana yang amat lain. Terutama, dalam hal ketakutan dan rasa curiga yang melingkupi wajah mahluk-mahluk ciptaan Tuhan yang ada di jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digabung menjadi satu, hidup di kota besar seperti Jakarta, sebenarnya mirip dengan memproduksi diri sendiri menjadi manusia yang dibelenggu ketakutan. Di lampu merah, kita harus awas dengan pencopet. Di mal, kita dipaksa waspada terhadap siapa saja yang tidak dikenal. Di rumah, begitu ada orang yang tidak pernah kelihatan sebelumnya, otomatis pintu dan jendela ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tanya saya tentang kesehatan jiwa dalam masyarakat seperti ini. Yang jelas, Irish Barrow pernah menulis : ‘Holding a grudge is a subtle form of suicide‘. Hidup dalam dendam - demikian juga dalam ketakutan - adalah bentuk halus dari bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, ada dorongan untuk lari dan keluar dari lingkungan seperti ini. Kerap, saya protes kenapa saya membunuh diri sendiri dan keluarga saya dengan mesin-mesin ketakutan yang tidak ada hentinya. Sering, saya berucap lirih ke diri sendiri, bagaimana saya bisa kerasan hidup di tengah lautan kecurigaan dan ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya, saya fikir hanya sedikit manusia Jakarta yang protes seperti saya ini. Namun, belakangan setelah bertemu lebih dari seratus ribu orang di seminar pertahunnya, keluyuran di banyak tempat di Jakarta dari lapangan golf sampai pesta pernikahan, rupanya saya tidak kesepian. Ada banyak manusia lainnya yang juga membunuh dirinya dengan mesin ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih parah lagi, kalau saya masih menyimpan sedikit kewaspadaan dengan mesin terakhir. Ada ribuan manusia lain, yang diproduksi oleh mesin ketakutan, tetapi sedikitpun tidak menyadari akan bahaya di balik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah Anda menyimpan kekhawatiran terhadap semua ini. Tetapi saya sangat mengkahawatirkan akan akibat jangka panjang yang ditimbulkan dari belenggu ketakutan ini. Kreativitas, inovasi, imajinasi, ketulusuan, kecintaan pada orang lain, kesegaran berfikir, kepekaan kemanusiaan adalah sebagian anugerah Tuhan yang sedang kita basmi habis-habisan melalui mesin ketakutan ala Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak usah terlalu muluk bercerita tentang sumber daya manusia, daya saing manusia Indonesia, atau apalah namanya. David Mc. Clleland boleh saja berteori tentang achieving society. Max Weber bisa saja menjual idenya tentang The Protestan Ethics and The Spirit of Capitalism. Dimana keduanya sama-sama mengagungkan persaingan dan ketakutan sebagai motor kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, bisakah kejernihan, kepekaan dan imajinasi lahir dari kumpulan manusia yang sedang didorong habis-habisan oleh mesin ketakutan? Anda bisa saja punya bukti yang memungkinkan jawaban positif terhadap pertanyaan terakhir. Namun, saya meragukan bila kepekaan jiwa manusia bisa diasah dalam lingkungan sosial seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ratusan manusia yang pernah bertanya karena kehilangan kepekaan terakhir. Tidak sedikit manajer yang sudah menyadari bahwa dirinya kesepian di keramaian. Sejumlah pengusaha yang saya kenal, merasakan kekeringan di tengah basahnya kekayaan yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati majalah Infobank pernah menyebut saya sebagai seorang ‘resi’, saya terus terang masih jauh dari kualitas seorang resi. Jangan-jangan menjadi guru saja belum buat orang lain. Namun, masih teramat sering saya bertemu dengan manusia yang mencari ketenangan dan kejernihan dari luar. Seolah-olah ada ilmu kejernihan, kepekaan dan imajinasi. Ada rumus dan jurus yang bisa siap pakai. Ada guru dan pelatih yang bisa menyulap Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui berbagai proses belajar. Dari hidup dalam kemiskinan, sekolah drop out, miskin perhatian, dianggap bodoh oleh banyak orang, masuk rumah sakit karena kebanyakan belajar, sampai dengan dikagumi oleh sejumlah orang. Serta saya padukan dengan berbagai pengalaman meditatif. Saya sampai pada sebuah kesimpulan sederhana : ‘lihatlah ke dalam, di mana hanya ada kedamaian‘.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percuma saja, Anda mencari pembebas ketakutan dari luar. Ia ada di sini : dalam diri kita sendiri. Di manapun, dalam keadaan apapun, serta dengan siapapun, kebebasan itu bisa kita temukan. Persoalannya cuma satu : maukah kita mencarinya ? Bukankah ketakutan hanyalah hasil rekayasa dari fikiran yang terikat? Sekali kita tidak lagi terikat dengan mobil, rumah, masa depan, anak, isteri, suami, bukankah kebebasan tadi otomatis rajin berkunjung?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-2025899037065416171?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/2025899037065416171/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=2025899037065416171' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/2025899037065416171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/2025899037065416171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/bebas-dari-belenggu-ketakutan.html' title='Bebas Dari Belenggu Ketakutan'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-6387413247972393143</id><published>2008-08-31T15:57:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T00:52:47.586-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menikah Dengan Diri Sendiri'/><title type='text'>Menikah Dengan Diri Sendiri</title><content type='html'>Buku harian saya sebagai konsultan manajemen, tidak selamanya berisi catatan yang hanya terkait dengan prestasi perusahaan. Demikian luasnya bidang yang dicakup oleh manajemen, kerap ia merambah ke daerah yang tidak terbayangkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, saya malah harus menjadi konsultan perkawinan bagi klien. Terutama, kalau mahligai pernikahan klien terganggu, dan bisa mengancam prestasi perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ini juga saya alami beberapa waktu lalu, ketika seorang klien menyeleweng, kemudian mengundang protes berat isterinya. Kejadian ini merambah wilayah konsultasi saya, karena sebagian pemegang saham yakin, kalau hanya saya yang bisa meyakinkan play boy kelas kakap terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirip dengan bentuk hubungan manusia lainnya - baik kerja dalam team, menata organisasi, dll - perkawinan akan senantiasa diwarnai oleh friksi dan perbedaan. Sebagian orang bahkan meyakini, di situlah letak seninya berhubungan dengan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, jangankan menikah dan bekerjasama dengan orang lain, kalau ada kesempatan untuk menikah dan bekerjasama dengan diri sendiri, saya tidak yakin kalau semuanya akan berjalan amat mulus. Penolakan, perbedaan, ketidakcocokan akan senantiasa ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan bentuk hubungan bersama orang lain - di mana kalau tidak cocok kita bisa mencari penggantinya - dengan diri sendiri, kita tidak punya pengganti. Tubuh dan jiwa yang kita miliki hanyalah yang kita punya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kesadaran terakhir, kita tidak punya pilihan menolak, cerai atau berpisah dengan diri sendiri, satu-satunya pilihan: menikah dengan sang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia-manusia yang hidupnya kena stres, depresi, masuk rumah sakit jiwa atau bunuh diri sekalian, adalah sebentuk orang yang pernikahannya dengan sang diri gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pengalaman saya bertutur, kebanyakan orang yang berhasil hidupnya, sering ditandai oleh kemesraan yang mengagumkan dengan sang diri. Kelemahan, kekurangan, bahkan cacat tubuhnya sekalipun, tidak menjadi penghambat, malah menjadi sarana kemajuan yang mencengangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diana Golden - kalau saya tidak salah dalam mengeja namanya - adalah seorang pembicara publik yang amat mengagumkan bagi saya. Betapa tidak mengagumkan, dengan kedua kaki lumpuh yang dibantu tongkat, ia melakukan presentasinya di depan panggung secara demikian bergairah. Bergerak bebas dari satu panggung ke panggung lain. Kadang malah duduk penuh percaya diri di atas meja. Menguasai panggung tanpa sedikitpun keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demos Thenes, seorang pembicara publik terkemuka dalam sejarah Yunani, awalnya adalah penderita gagap dalam kadar yang sangat akut. Bertahun-tahun ia mendidik dirinya dengan meletakkan batu ke dalam mulutnya sambil berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abraham Lincoln, mengalami cobaan hidup secara berulang-ulang. Termasuk pernah kena depresi berat sampai nyaris masuk rumah sakit jiwa. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam argumennya Iris Barrow dalam Make Peace With Yourself, ‘many people suffer all their lives because they do not accept and come to terms with the feelings of anger, frustration, resentment, fear, despair…which they experience‘.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari sini, tidak hanya kelebihan dan kehebatan yang harus kita peluk dan terima apa adanya. Kekurangan seperti marah, frustrasi, takut dan sejenispun sebaiknya kita peluk dan terima. Ini penting, sebab banyak penyakit kejiwaan bersumber pada penolakan terhadap kekurangan-kekurangan terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, saya akan frustrasi berat bila melihat diri saya yang lagi marah dibandingkan kesabaran mengagumkan ala Mahatma Gandhi. Saya akan menjadi minder melihat rekaman presentasi saya, jika dibandingkan kehebatan seorang Anthony Robbins.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, saya belajar tidak hanya menjadi pemaaf buat orang lain, tetapi menjadi pemaaf buat diri saya sendiri. Sebagaimana pernah ditulis Catherine Ponder dalam The Dynamic Law of Healing : ‘Forgiveness can unblock whatever has stood between you and your good‘.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, sikap pemaaf bisa membuka banyak pagar yang memisahkan diri kita dengan sejumlah kesempurnaan yang telah ada di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergaulan sehari-hari, melalui raut muka, sinar mata, senyum orang, percaya diri, saya bisa membedakan antara orang-orang yang pemaaf dengan dirinya sendiri, dengan orang-orang yang membenci dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bekerja, bergaul maupun dalam presentasi, penguasa-penguasa keberhasilan umumnya adalah manusia yang tidak hanya pemaaf dengan dirinya sendiri, melainkan juga menikah akur dengan sang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan presentasi Diana Golden yang mengagumkan, lihat ekspresi mata Larry King di CNN, amati kepemimpinan Cory Aquino yang relatif tidak terbebani oleh pengalamannya yang hanya mantan ibu rumah tangga, semuanya menunjukkan pernikahan mengagumkan dengan sang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah sesi meditasi, seorang guru pernah bertutur ke saya : ‘your mind is a wonderful gift. Use it to work for you, not against you‘.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang dimaksud mind di sini mencakup baik kelebihan maupun kekurangan kita. Ia akan menjadi kekuatan yang membantu, bila kita berhasil berpelukan mesra dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa dibayangkan, kemana larinya keberhasilan, jika setiap hari kita mau ‘bercerai’ dengan rasa marah, takut, frustrasi yang datang dari dalam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan isteri, setelah cerai kita bisa atur untuk tidak bertemu lagi. Dengan marah dan rasa takut, ia akan datang dan datang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda boleh mengambil sikap apapun, namun saya sedang mendidik diri untuk menikah dengan diri saya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-6387413247972393143?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/6387413247972393143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=6387413247972393143' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/6387413247972393143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/6387413247972393143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/menikah-dengan-diri-sendiri.html' title='Menikah Dengan Diri Sendiri'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-2971501997466204578</id><published>2008-08-31T15:56:00.001-07:00</published><updated>2008-09-01T00:52:10.651-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemimpin Dan Kekasih'/><title type='text'>Pemimpin Dan Kekasih</title><content type='html'>Bagi setiap manusia normal, memiliki kekasih adalah salah satu bentuk pengalaman yang sulit terlupakan. Tidak sedikit orang beranggapan, memiliki kekasih jauh lebih indah dari memiliki suami atau isteri. Dalam berhubungan dengan kekasih, dunia seperti penuh imajinasi dan fantasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayapun pernah mengalami keindahan seperti ini. Bersama seorang wanita yang sekarang sudah menjadi anak mertua, kenangan berjalan menelusuri pinggiran danau yang sepi dan damai, atau duduk berjam-jam di pantai yang hanya dihuni suara ombak, sungguh sebuah pengalaman yang sulit dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keindahan serupa juga saya temukan ketika membaca karya Kahlil Gibran yang berjudul Lazarus and His Beloved and The Blind.. Karya apik ini bertutur tentang kisah Lazarus bersama ‘kekasihnya’. Kekasih terakhir saya beri tanda kutip, sebab arti yang dimaksud memang tidak sama dengan pengertian biasanya. Lebih dari sekadar kekasih sebagai calon suami atau isteri, Gibran bertutur tentang kekasih yang lebih abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana karya sastra lainnya, pengertian tentang kekasihnya Lazarus ini memang tidak semudah mengerti matematika dan statistika yang serba eksak. Di saat tertentu, ia berarti cakrawala yang menampung sinar matahari serta nyanyian bintang-bintang. Di saat lainnya, ia menghadirkan makna berupa arus sungai yang mencari laut. Di kesempatan lainnya, kekasih tadi sama dengan cinta yang tinggal di keheningan hati yang putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya, serba indah dan bergerak. Sebagai orang manajemen yang terbiasa menelusuri jalan pengetahuan melalui definisi yang kering dan kaku, bercengkerama dengan ‘kekasih’ ala Kahlil Gibran ini sungguh sebuah pengalaman yang merangsang imajinasi dan keindahan. Tidak hanya jiwa yang dibuat kaya, kreativitas dan inovasipun dirangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika saya masih memahami manajemen sebagai rangkaian definisi, sungguh teramat bingung mendengar saran di Inggris agar sekolah manajemen mengajarkan sastra dan puisi. Tatkala mengawali pencaharian di dunia manajemen, melalui sekolah serta tumpukan buku teori yang menggunung, sulit bisa memahami ide kalau karya manajemen mesti disampaikan melalui bahasa-bahasa sastra. Pada saat pengalaman saya masih teramat miskin, karir masih berada di tataran tangga yang amat bawah, namun kepala penuh dengan teori-teori perilaku, adalah sebuah keniscayaan bagi saya untuk mengerti jiwa manusia melalui kata-kata indah seniman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu memasuki dunia hubungan antarmanusia yang rumit, pengambilan keputusan yang sulit dicari polanya, duduk kesepian di piramida organisasi, amat terasa manfaat pengkayaan yang diakibatkan oleh bahasa-bahasa tanpa definisi ala Kahlil Gibran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam membaca cerita Lazarus misalnya, tidak hanya dunia penjelasan (explanation) yang berubah, tetapi juga dunia pengertian (understanding). Tidak saja otak yang terbuka, namun termasuk juga jiwa. Tak hanya menjadi lebih pintar, melainkan juga lebih peka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengalami seluruh proses ini, terkadang saya bermimpi kalau ada perusahaan yang mengundang saya tidak untuk berbicara manajemen sebagaimana biasanya, tetapi meminta saya bertutur tentang cerita pendek seperti kekasih Lazarus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini penting, sebab dari ribuan manajer yang pernah saya temui, rata-rata sudah terlalu fasih berfikir dan berbicara tentang fakta dan logika. Namun, teramat sedikit yang memiliki jiwa yang kaya, kepribadian yang peka, dan bisa mengerti tanpa melalui proses penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang biasa berfikir dalam angka dan sistimatika, tentu saja sulit untuk masuk ke dalam dunia seperti ini. Tetapi, bagaimanapun sulitnya, keindahan yang tidak bisa didefinisikan melalui kata-kata manapun sedang menanti Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan terakhir, lebih indah dari sinar matahari pagi. Lebih sejuk dari hawa pegunungan. Lebih harum dari bunga manapun. Lebih lembut dari sutera. Lebih halus dari salju. Lebih molek dari wanita yang paling cantik. Dan yang paling penting, seperti berhubungan dengan seorang kekasih, ia penuh imajinasi dan fantasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak sedang menghasut Anda ke dunia yang tidak-tidak. Tetapi, keadaan yang serba krisis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-2971501997466204578?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/2971501997466204578/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=2971501997466204578' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/2971501997466204578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/2971501997466204578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/pemimpin-dan-kekasih.html' title='Pemimpin Dan Kekasih'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-8487678774420888602</id><published>2008-08-31T15:55:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T00:51:05.694-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biarawan Yang Menjual Ferrarinya'/><title type='text'>Biarawan Yang Menjual Ferrarinya</title><content type='html'>Ketika membaca judul buku Robin Sharma The Monk Who Sold His Ferrari, saya merasakan sebuah sentuhan. Bayangkan, mana ada seorang biarawan yang memiliki Ferrari. Disamping itu, mobil mewah terakhir malah mau dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih tersentuh lagi, ketika selesai membaca buku menggugah ini. Sebagai seorang konsultan yang biasa bergaul dan berinteraksi di kalangan menengah atas, betapa tersentuhnya saya dengan ajakan-ajakan menyentuh seperti joyful thought, look within for success, value time as your most important commodity, nourish your relationship dan live life fully.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mari kita mulai dengan joyful thought. Sebagaimana pernah saya tulis di kesempatan lain, kita memang sedang memproduksi biokimia dan biologi tubuh kita melalui apa yang kita fikirkan. Sebagaimana pernah dikutip oleh Deepak Chopra, wanita yang bercerai - dari hasil penelitian dengan sampel ribuan - memiliki kemungkinan terkena kanker payudara lebih besar dibandingkan dengan yang tidak bercerai. Dari contoh dan bukti yang masih bisa ditambah ini, terlihat jelas, bahwa fikiran memproduksi kehidupan. Mungkin ini kedengarannya klise, tetapi saya mempercayai sekali kekuatan berfikir positif. Seperti sebuah pepatah Cina : “Don’t curse the darkness, light a candle“. Dibandingkan mengutuk kegelapan, jauh lebih berguna langsung menyalakan lilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kegiatan ‘menyalakan lilin’ jauh lebih banyak dibandingkan ‘mengutuk kegelapan’, jangan pernah khawatir dengan kehidupan. Kesehatan, hidup yang cukup, rezeki, kerukunan, kearifan dan hal sejenis, akan mengalir sejalan dengan semakin banyaknya kegiatan menyalakan lilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan look within for success, ada semacam kerancuan dalam cara manusia mencari keberhasilan. Tidak sedikit orang yang mencarinya di luar diri. Dalam bentuk rumah, merk mobil yang digunakan, jabatan yang diduduki, baju dan jam tangan yang dikenakan dan bentuk-bentuk sejenis. Sebagaimana pernah disarankan oleh seorang rekan warga Amerika ke saya : “you are more than your money, your job and your tittle“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengidentikkan keberhasilan dengan atribut-atribut di atas, tidak saja mudah hilang dan tidak kekal, tetapi juga menghasilkan keterikatan yang berujung pada ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, tubuh ini seperti sebuah air terjun yang amat indah. Disamping menyimpan banyak misteri, ia juga menunggu keheningan fikiran sebagai syarat untuk bisa tidaknya keindahan tadi dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, mereka yang demikian sibuk mencari atribut di luar, sudah lama dibuat buta dan tuli dengan keindahan air terjun di atas. Anda boleh coba, biasakan setiap hari melepas semua atribut. Dari mobil, rumah, jabatan sampai dengan sebutan orang lain. Awalnya, ada suasana terpaksa. Namun, begitu ia menjadi biasa, keindahan air terjun di atas mulai bisa Anda lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang waktu sebagai kekayaan paling berharga, saya punya pengandaian berguna. Bila uang tidak dipakai hari ini, masih bisa dipakai besok. Tetapi, bila hari ini tidak kita pakai, ia akan menguap begitu saja tanpa bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, untuk memakai waktu hari ini, tidak diperlukan tenaga dan energi ekstra. Cukup bertanya ke diri sendiri, aspek mana dari waktu hari ini yang bisa dinikmati. Ketika macet, saya mencari wanita cantik yang bisa saya lihat. Tatkala dimarahi orang, saya paksa diri sendiri untuk menemukan hal lucu dari kemarahan tadi. Bila isteri cemberut, saya pergi ke driving range dekat rumah. Mudah, murah namun meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hubungan, ia ibarat taman di halaman rumah. Saat tertentu, ia memerlukan air. Saat lain butuh dipotong. Di waktu lain memerlukan pupuk. Yang jelas, tidak pernah ada taman yang asri tanpa pemeliharaan. Demikian juga dengan hubungan bersama orang lain. Ia memerlukan ketekunan, ketelatenan, kesabaran agar senantiasa asri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan anak mertua di rumah, saya kerap bersukur karena mendapat godaan besar ketika kedewasaan sudah tumbuh. Suatu hari, tanpa tahu apa yang terjadi, saya pernah dimarahi oleh isteri teman sampai menyentuh hati saya yang paling dalam. Ego saya mengatakan, orang ini mesti dibalas. Tetapi, begitu emosi ini mengendap, dalam sebuah sembahyang saya berdoa, mudah-mudahan isteri teman tadi dikaruniai dan dilindungi Tuhan. Dan, terpelihara rapilah hubungan saya dengan teman tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu membaca nasehat Robin Sharma tentang live life fully, saya teringat dengan karya Ron Jenson dengan judul Make A Life, Not Just Living. Rangkaian nasehat Jenson yang tidak pernah saya lupa berbunyi begini : “you’re also the only one with your background, your contact and your personality. Therefore, there are many things in this life that only you are qualified to do. This is a reality that you must fully embrace“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua adalah mahluk unik. Manusia dengan kepribadian, latar belakang dan jaringan hubungan seperti Anda ya hanya Anda sendiri. Tidak ada yang persis sama seperti Anda. Untuk itu, pasti ada misi dan kesempatan di balik keunikan ini yang bisa digunakan oleh Anda sendiri. Sekali lagi pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah manusia dengan hobi menulis dan berbicara di depan umum. Karena kepribadian dan latar belakang tertentu, ada orang yang mau percaya. Gabungan dari semua ini, terbentuklah saya yang ada sekarang. Persoalan dianggap pintar atau bodoh, kaya atau miskin, sukses atau gagal, itu hanya sebutan orang lain. Yang jelas, saya amat mensukurinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan seluruh cerita di atas, sudah siapkah Anda menjadi biarawan yang menjual ferrarinya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-8487678774420888602?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/8487678774420888602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=8487678774420888602' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/8487678774420888602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/8487678774420888602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/biarawan-yang-menjual-ferrarinya.html' title='Biarawan Yang Menjual Ferrarinya'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-2227196389282325403</id><published>2008-08-31T15:54:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T00:50:13.693-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anda Itu Sangat Simpatik'/><title type='text'>Anda Itu Sangat Simpatik</title><content type='html'>Membaca tulisan saya dengan judul “menikah dengan diri sendiri”, seorang rekan seperti memperoleh cermin pemantul. Di umurnya yang sudah berkepala lima, betapa banyak waktu yang dialokasikan untuk berkelahi dengan orang yang ditemukannya di depan cermin. Dari umar sambel (untung masih ada rambut samping belakang), anggapan bahwa rezeki tetangga selalu lebih baik, isteri tidak mendukung sampai dengan prestasi anak-anak yang tidak membanggakan. Dalam totalitas, karena hidup penuh perkelahian dengan sang diri, rekan tadi menjalani kehidupan yang penuh dengan tikungan dan tanjakan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kisah rekan di atas, berbeda sekali dengan penuturan Denise Austin di jurnal Personal Excellence edisi Mei 1999. Dengan judul tulisan You Are Beautiful, Austin bertutur tentang persahabatannya yang intens dengan sang diri. Salah satu kesimpulan paling menarik dari guru fitness ini berbunyi: you are the most important event in your life. Demikian bersyukurnya Austin dengan diri dan kehidupannya, sampai-sampai menyebut manusia di depan cermin sebagai karunia paling besar selama hidupnya. Alhasil, disamping secara fisik Austin memang cantik, ia menerima banyak rezeki melalui profesinya sebagai guru fitness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa syukur yang mendalam akan sang diri ini, tentu saja tidak hanya monopoli manusia cantik seperti Austin. Max Cleland - seorang senator AS dari negara bagian Georgia yang harus duduk di kursi roda selama hidupnya sepulang dari perang Vietnam - malah jauh lebih bersyukur dari Austin yang cantik. Ia memiliki prinsip amat sederhana: strong at the broken places. (Perkasa di bagian-bagian kehidupan yang sudah berantakan). Dengan kehidupan di atas kursi roda Cleland memulai kahidupannya di depan publik. Menapaki tangga politisi sampai menjadi seorang senator. Dengan bangga ia bertutur ke banyak orang: I successfully turn my scars in to stars. Dengan kata lain, ia telah mentransformasikan ketakutan menjadi keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati semua ini, mungkin benar pendapat Denis Waitley - penulis buku Psychology of Winning - bahwa syarat pertama dan paling utama untuk menjadi pemenang kehidupan adalah kualitas penerimaan kita terhadap sang diri. Dengan menerima diri sendiri - lengkap bersama seluruh kelebihan dan kekurangannya - kita bisa bergerak dari posisi korban menjadi pemenang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, bagaimana bisa menjadi pemenang kalau setiap hari sibuk dengan keluhan, keluhan dan keluhan. Dengan keluhan, tidak hanya energi yang terkuras habis, tetapi secara sengaja kita sedang memproduksi kehidupan yang persis sama dengan yang dikeluhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henry Ford pernah mengatakan: believe in your best, think your best, study your best, have a goal for your best, never satisfied with less than the best, try your best, and in the long run, things will work out for the best. Selemah dan sejelek apapun Anda, tetap ada segi terbaik dalam diri Anda yang bisa dimanfaatkan. Temukan dan yakini aspek terbaik tadi, berfikirlah dalam bingkai terbaik tadi, pelajari sampai sekecil-kecilnya, lakukan dan berusahalah sebaik-baiknya. Dan, dalam jangka panjang, percayalah, kehidupan Anda akan bergerak menuju ke sudut-sudut kebaikan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari ini semua, mungkin ada baiknya dari sekarang untuk mencari apa segi terbaik dari diri kita. Coba ingat lagi, apa-apa saja yang sering Anda lakukan secara berulang-ulang di awal-awal kehidupan. Apa saja yang mudah menimbulkan kebanggaan. Bagian mana dari diri Anda yang acap dipuji orang banyak. Bisa dalam bentuk rambut, senyum, tubuh yang langsing, mudah membuat orang tertawa, atau malah sering didaulat ke depan disuruh nyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal hal terbaik tadi, ucapkan dengan penuh keyakinan ke orang di depan cermin: “Anda sebenarnya sangat simpatik“. Kalau kebetulan rambut Anda indah, katakan bahwa rambut Andalah yang tercantik di dunia. Bila mana perlu, tulislah kalimat tadi di atas cermin. Semakin sering kalimat ini diucapkan semakin baik. Sebab, ibarat echo atau pantulan, ucapan dan keyakinan terakhir tadi tidak saja memantul balik, tetapi juga memproduksi tubuh dan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat tindakan adalah jembatan paling kokoh antara keinginan dan kenyataan, terjemahkanlah semua hal terbaik di atas ke dalam sebanyak mungkin tindakan nyata. Dari mempelajari seluruh aspeknya, jaringannya dan jangan lupa mulai melangkahkan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukanlah semua hal tadi dengan sebanyak mungkin pengulangan. Saya memang sempat disebut bodoh dengan mengemukakan konsep “pengulangan adalah ibunya kesempurnaan“. Seorang rekan pernah berucap, ada perbedaan antara orang tekun dengan orang bodoh. Orang bodoh - kata rekan tadi - melakukan sesuatu secara berulang-ulang karena telat mikir, dan terus mengulanginya kendati hidupnya mau bangkrut dan mau celaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh saja orang berargumen demikian, namun saya masih meyakini, kesempurnaan akan menjadi milik siapa saja yang rajin melakukan pengulangan dan percobaan. Saya sudah teramat sering bertemu orang pintar, dan karena kepintarannya kemudian tidak sabar mengulang. Hasilnya, sering saya temukan, jauh lebih buruk dari orang bodoh namun disertai kesabaran mengagumkan untuk melakukan pengulangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita awal tentang kualitas penerimaan dengan sang diri, inipun memerlukan kuantitas dan kualitas pengulangan yang mengagumkan. Mudah-mudahan Anda menjadi pemenang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-2227196389282325403?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/2227196389282325403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=2227196389282325403' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/2227196389282325403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/2227196389282325403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/anda-itu-sangat-simpatik.html' title='Anda Itu Sangat Simpatik'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-1853473499571644336</id><published>2008-08-31T15:51:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T00:49:33.325-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengelola Dan Mendapatkan Ide'/><title type='text'>Mengelola Dan Mendapatkan Ide</title><content type='html'>Ada sebuah kecenderungan yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Setiap organisasi, di awal abad 21 ini, semakin bersifat ideas intensive. Dulu, cukup pimpinan saja yang banyak ide, dan bawahan hanya melaksanakan. Sekarang, di setiap sudut organisasi orang dituntut untuk banyak ide. Di masa lalu, hanya organisasi dan perusahaan tertentu saja - seperti perusahaan iklan dan konsultan - yang dituntut kreatif. Di zaman yang sering disebut edan ini, semua perusahaan hanya punya dua pilihan: kreatif atau bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau jujur, runtuhnya bangunan organisasi sejumlah perusahaan, sebagian besar disebabkan karena mereka kehabisan ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari keyakinan terakhir, sudah saatnya kita memikirakan ideas intensive human resources management. Sebuah mekanisme pengelolaan manusia yang memungkinkan ide itu muncul dan terkelola secara memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertama kali ditunjuk sebagai konsultan manajemen SDM BPPN (badan penyehatan perbankan nasional), hal pertama yang muncul di kepala saya adalah bagaimana membuat organisasi ini ideas intensive. Terutama karena tuntutan yang teramat tinggi dari pemilik dan lingkungan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik berangkatnya adalah pengertian tentang ide itu sendiri. Mengacu pada konsep tidak ada hal baru di bawah langit ini, bagi saya ide adalah kombinasi baru dari komponen-komponen lama. Dengan demikian, problemanya adalah bagaimana membuat orang secara bersama-sama bisa mengkombinasikan komponen-komponen lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita mulai dengan pintu depan organisasi: pengadaan manusia. Anda boleh punya pendekatan lain, tetapi saya memberikan perhatian yang tinggi pada open mindedness. Ini penting, sebab proses kombinasi ide di dalam organisasi lebih mudah terjadi di tengah manusia yang kepalanya terbuka. Manusia yang merasa diri teramat pintar, benar sendiri, apa lagi sampai pada tingkat fanatik, adalah spesies yang amat sering saya hindari. Karena alasan kerahasiaan perusahaan konsultan, saya tidak bisa membeberkan semua alat dan caranya di sini. Yang jelas, melalui serangkaian pengkajian yang mendalam, bisa diketahui mana orang dengan kepala tertutup, dan mana yang relatif terbuka. Sebagai contoh, di tahap wawancara saya sering memancing pelamar dengan pertanyaan-pertanyaan pancingan. Misalnya, kalau ia seorang muslim, saya akan tanya apa pendapatnya, jika di suatu restoran melihat rekan satu meja makan ternyata memakan daging babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pintu depan yakin hanya meloloskan mereka dengan open mindedness yang tinggi, baru kita mulai menciptakan lingkungan organisasi yang mendukung. Fundamental dalam proses penciptaan lingkungan terakhir, adalah usaha terus menerus untuk menciptakan fun. Ini penting, sebab ide dan kreativitas lebih mudah muncul dalam lingkungan yang penuh dengan kegembiraan. Rapat di taman depan kantor, menempel hasil karya anak di ruang rapat, memamerkan foto karyawan ketika bayi dan telanjang, di hari tertentu memakai baju-baju unik dan menarik, pertemuan boleh sambil menggendong anak dan cucu, rapat di kapal pesiar atau di tengah bus, sampai dengan kuis suami isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat utama dari terciptanya semua lingkungan gembira ini, adalah kesabaran dan kedewasaan pimpinan beserta anggota organisasi lainnya. Tidak jarang terjadi, kegembiraan model terakhir bisa menimbulkan kekacauan-kekacauan. Namun, bukan kekacauan itu intinya, melainkan bagaimana membuat suasana gembira sebagai fundamen terciptanya ide. Apapun yang terjadi, satu hal mesti dijaga terus: fun. Bila perlu, di hari-hari tertentu dibuat child day. Sebuah hari di mana semua jajaran organisasi harus berfikir dan berperilaku sebagaimana anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan lain, seminggu sekali dibuat listening day. Secara bergiliran, di kesempatan ini bagian tertentu hanya boleh mendengar. Sedangkan bagian lain berbicara sambil tertawa. Misalnya, minggu ini bagian pemasaran yang harus mendengar. Maka bagian produksi, SDM, keuangan dan akuntansi boleh berbicara tentang pemasaran, bila perlu sambil meledek segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lingkungan dan pintu depan, sekarang apa yang harus dilakukan dengan pengembangan manusia dan penggajiannya. Berbeda dengan pola pengembangan umumnya yang terlalu berorientasi pada formal training, dalam organisasi yang berbasiskan ide, kita memerlukan jauh lebih sedikit pelatihan formal. Dalam lingkungan yang penuh dengan kegembiraan, semua upaya pengembangan dilakukan secara belajar sambil bekerja, baik melalui mekanisme councelling, coaching maupun mentoring. Ide dasarnya, semua orang adalah guru dan murid. Pagi hari jadi murid, siang menjadi guru. Kadang, paginya menjadi gurunya si A, sorenya menjadi murid si A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya dianggap pemimpi yang ekstrim. Dan kerap saya bermimpi kalau ada organisasi yang mengkaitkan gaji dengan jumlah ide yang dikontribusikan. Semakin banyak ide yang diberikan, maka semakin tinggi gajinya. Terlalu sederhana dan utopis memang, tetapi saya yakin suatu saat kelak akan ada yang menerapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke ide semula tentang ideas intensive organization, bentuk organisasi semacam ini memang tidak seperti bangunan. Sekali dibangun, kemudian hanya tinggal memeliharanya. Ia mesti terus diciptakan, diciptakan dan diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaratnya, ya itu tadi, dibentuk oleh kumpulan manusia open minded, dilingkupi oleh suasana gembira dan terus berbenah sambil tinggal di dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-1853473499571644336?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/1853473499571644336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=1853473499571644336' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/1853473499571644336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/1853473499571644336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/mengelola-dan-mendapatkan-ide.html' title='Mengelola Dan Mendapatkan Ide'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-1800927997512463276</id><published>2008-08-31T15:50:00.001-07:00</published><updated>2008-09-01T00:48:20.807-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesederhanaan Pangkal Kebahagiaan'/><title type='text'>Kesederhanaan Pangkal Kebahagiaan</title><content type='html'>Setiap bentuk kejadian dalam hidup, saya yakini, selalu menghadirkan makna. Perjalanan hidup sebagai konsultan, kerap membuat saya harus bergaul intensif dengan sejumlah orang kaya dan berada. Berbagai macam pengalaman telah saya lalui bersama mereka. Ada yang menyenangkan seperti bermain golf, jet ski, menginap di hotel berbintang sampai dibelikan barang-barang mewah. Ada juga yang menyengsarakan, seperti dimarahi istri klien tanpa tahu sebab musababnya, digoda ikut masuk ke dalam kehidupan-kehidupan menyimpang, dan masih ada lagi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurnya, sampai sekarang saya masih bisa menjaga jarak secara seimbang terhadap semua ini. Namun, ada satu hal yang menggoda saya untuk diulas di sini. Orang yang kaya materi, tidak sedikit yang menyesali hidupnya. Jarang berkata syukur ke Tuhan. Sejumlah kekayaan yang diwariskan orang tua mereka, kerap malah membuat kehidupan penuh perkelahian, kebencian dan perselisihan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit keluarga pewaris saham perusahaan besar, yang selama hidupnya berkelahi tiada hentinya. Ditandai oleh banyaknya segi tiga kebencian. Kecurigaan terhadap setiap anggota keluarga. Digabung menjadi satu, kekayaan yang dikumpulkan secara susah payah oleh generasi pendahulu, tidak membuat hidup lebih mudah, malah sebaliknya membuat semuanya jadi sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, ada banyak sebab yang bersembunyi di balik fenomena ini. Namun, satu hal pasti, ketidakmampuan untuk hidup dan berfikir sederhana, telah membawa mereka pada lautan kehidupan yang penuh dengan tekanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mensyukuri sekali kehidupan yang bergerak perlahan dari tataran yang sangat bawah. Ketika masih mengontrak dari satu rumah kecil ke rumah kecil yang lain, rasanya bahagia sekali kalau bisa memiliki rumah BTN. Ketika masih bergelantungan di bus kota, rasanya nikmat sekali jika bisa punya mobil. Tatkala hidup dengan makan sangat pas-pasan, selalu terbayang enaknya makan dengan daging yang memadai. Saat anak masih sekolah di sekolah negeri sederhana di pinggiran Jakarta, ada cita-cita agar mereka bisa masuk di sekolah terkemuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, ketika semua itu sudah berlalu, tidak hanya rasa syukur yang teramat sering saya ucapkan ke Tuhan, tetapi kepala otomatis merunduk ketika menemui orang-orang dengan tingkatan kehidupan di bawah. Ada godaan untuk selalu menolong, bila ada kemampuan untuk melakukannya. Dan yang paling penting, pengalaman meniti tangga kehidupan dari bawah, membuat saya sering ingat akan pentingnya kesederhanaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pernah ditulis Deana Rick dan rekan di Personal Excellence edisi Mei 1999, “having too much can actually be a hindrance to an attitude of gratitude because, in reality, you can not appreciate what you have, if you have too much“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, memiliki kekayaan yang terlalu banyak sering mengurangi rasa syukur. Sebab, penghargaan terhadap rezeki sering menurun sejalan dengan semakin banyaknya uang yang dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kesederhanaan berfikir dan kesederhanaan hidup itu penting dalam konteks ini, karena ia yang bisa menjadi jembatan yang memadai antara rezeki dan keinginan. Rezeki, sebagaimana kita tahu mengenal batas-batas. Sedangkan keinginan di pihak lain seperti langit, tidak ada batasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesederhanaan bisa menjadi jembatan dalam hal ini, karena bisa menjadi ‘manajer’ bagi sang diri. Ia yang memilih mana yang betul-betul perlu, dan mana yang hanya pelengkap saja. Ia yang memisahkan keinginan yang diwarnai egoisme, dengan keinginan yang perlu dipenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita awal tentang orang kaya materi yang hidupnya penuh percekcokan, mereka memang punya uang, tetapi pengalaman hidup yang langsung di atas, membuat kesederhanaan bisa menjadi barang mewah buat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan saya yang pernah memakan sayap ayam berbulan-bulan, dan sekarang mudah sekali merasakan enaknya makan, makan Mc. Donald, Kentucky, atau malah restaurant mewah sekalipun bagi orang kaya tadi tidak pernah menimbulkan selera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya yang pernah mengontrak sejumlah rumah kecil kumuh dan sederhana, tinggal di rumah dengan tanah ratusan meter sudah sangat memuaskan. Tetapi bagi mereka, ini hanyalah sesuatu yang tidak perlu dihargai dan disyukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ukuran manusia yang bertahun-tahun bergelantungan di bus kota, naik sedan menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Tetapi bagi anak orang kaya di atas, ia hanyalah keseharian yang biasa dan hambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan latar belakang pendidikan SD di desa, dan anak pernah sekolah di SD negeri pinggiran Jakarta, bisa menyekolahkan anak di sekolah khusus adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Namun, bagi orang kaya di atas, ini hanyalah sebuah rutinitas tanpa rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh cerita dan ilustrasi ini memperkuat argumen Deana Rick, bahwa greed and materialism block thankfullness. Keserekahan dan materi menghalangi ketulusan untuk bersyukur pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya dengan kesederhanaan, rasa syukur, terimakasih, penerimaan bagi sang hidup, mudah sekali muncul. Saya tidak tahu, bagaimana pengalaman Anda. Namun, saya amat bersyukur pada Tuhan yang pernah membawa saya pada kelokan-kelokan kehidupan yang membuat saya sampai pada kesimpulan: “kesederhanaanlah awal dari kebahagiaan“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengisi prinsip ini dengan berjalan-jalan mengelilingi rumah setiap sore sambil mengucapkan terimakasih. Menggendong dan menciumi anak-anak bila ada kesempatan. Merayu istri persis seperti saat kami masih pacaran. Anda, saya kira, bisa melakukannya dengan cara Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-1800927997512463276?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/1800927997512463276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=1800927997512463276' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/1800927997512463276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/1800927997512463276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/kesederhanaan-pangkal-kebahagiaan.html' title='Kesederhanaan Pangkal Kebahagiaan'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-7859707357433240764</id><published>2008-08-31T15:48:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T00:46:19.104-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia Pensiun'/><title type='text'>Indonesia Pensiun</title><content type='html'>Ada satu penyakit kejiwaan yang amat ditakuti mereka yang akan dan telah pensiun: post power syndrome. Semacam kekecewaan terhadap hidup, diakibatkan karena yang bersangkutan tidak lagi dihormati dan dipuji seperti ketika masih berkuasa. Titik pensiun, demikian sejarah sejumlah orang bertutur, adalah mirip dengan titik percepatan kematian. Di usia ini, banyak orang mulai rajin melihat iklan duka cita. Sebuah kegiatan, kalau boleh jujur, yang sebenarnya juga mempercepat kematian. Sebab, sebagaimana diyakini oleh pendekatan magnetic power of thought, fikiran yang sering diisi oleh bayangan tentang kematian, akan membawa kita ke tempat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila menggunakan ukuran umur pensiun orang Indonesia yang berjumlah 55, maka tahun ini Indonesia memasuki usia pensiun. Bila penyakit barometernya, sinyal-sinyal pensiun sudah mulai kelihatan. Timor Timur yang kisruh, Aceh yang tambah bergejolak, Ambon yang rusuh tiada henti, Riau dan Irian yang mulai berhitung tentang hasil buminya yang diboyong Jakarta, Bali yang pernah dilanda isu mau merdeka, ancaman bila calon presiden tertentu tidak terpilih maka Indonesia Timur akan menjadi negara sendiri, dan masih banyak lagi deretan sinyal sejenis.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan post power syndrome? Ini juga memiliki banyak bukti. Kalau boleh berterus terang, nasib republik ini yang sedang berantakan di sana-sini, sebenarnya amat diwarnai oleh perilaku sejumlah pensiunan dan calon pensiunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suharto ketika mau turun tahta, berhadapan dengan pensiunan seperti Barisan Nasional. Habibie juga sama, nasibnya dibuat tidak mujur oleh sejumlah pensiunan yang bermain money politics. Sejumlah menteri yang sudah tahu umur kabinetnya tinggal beberapa hari - di zaman Habibie, segera memensiunkan diri dengan alasan-alasan yang patriotik namun tidak simpatik. Belum lagi bila ditambah dengan diskursus publik kita yang dibuat amat kisruh oleh banyak sekali pensiunan. Singkat cerita, Indonesia bukan tidak mungkin akan turut dibawa pensiun oleh sejumlah pensiunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamati proses sidang MPR/DPR tahun 1999, yang diwarnai oleh demikian banyaknya lobi, sampai-sampai mengalahkan kekuatan representasi yang dihasilkan pemilihan umum, tampaknya lima tahun yang akan datang masih akan ditandai oleh banyak nightmares. Demikian juga tanya jawab ’seru’ di DPR yang memplonco Gus Dur melalui kasus pemecatan dua menteri, bukankah itu hanya hasil permainan kebanyakan orang yang ogah pensiun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun yang jadi presiden, hamparan tugas berat sedang menunggu. Dari partai apapun ia berasal, tetap akan ditandai oleh goyangan-goyangan dari partai lain. Bagaimanapun besarnya legitimasi yang ia peroleh dari rakyat, diskursus orang-orang ogah pensiun akan tetap berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya teori yang mengatakan bahwa dunia modern ditandai oleh differentiation, dan dunia postmodern ditandai oleh de-differentiation, tampaknya akan dikoreksi oleh Indonesia lima tahun ke depan. Walaupun dunia sudah berubah judul dengan postmodern, namun Indonesia akan memasuki usia pensiun modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hal yang amat berbeda tentunya. Dunia posmodern, meminjam argumen sejumlah postmodernis, ditandai oleh leburnya banyak sekali dikotomi. Barat-timur, kulit hitam-kulit putih, desa-kota, tradisional-modern, adalah sebagian dikotomi yang sudah dibuat lebur oleh kecenderungan postmodern. Sedangkan Indonesia yang memasuki usia pensiun modern, justru sedang membuat dikotomi-dikotomi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim-non muslim, Islam tradisionalis-Islam modernis, nasionalis-nonnasionalis, Jawa-luar jawa, reformasi-status quo, adalah sebagian dikotomi yang tercipta di pintu gerbang Indonesia pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berdialog dengan sejumlah warga Riau yang mulai muak tanah kelahirannya dikuras habis-habisan, lebih-lebih dimanfaatkan sebagai ladang korupsi orang Jakarta yang memuakkan, mulai ada orang yang mengharapkan bahwa Indonesia akan benar-benar pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari motif di belakang harapan agar Indonesia pensiun, bangunan Indonesia sejak awal memang amat rapuh. Melalui konsepsi ‘bekas jajahan Hindia Belanda’, Indonesia hanya direkat oleh lem historis, spiritual maupun kebudayaan yang amat mudah meleleh. Lebih-lebih di tambah dengan upaya sengaja oleh penguasa, untuk memperlemah lem melalui tindakan korup. Dengan modal lem selemah ini, bukan tidak mungkin Indonesia akan benar-benar pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cirinya, sebagaimana dikemukakan di awal, ada dua. Pertama, mulai banyak yang melihat iklan duka cita (baca: melihat pengalaman negara-negara almarhum seperti Yugoslavia dan Soviet bersatu). Kedua, dipermainkan oleh perilaku post power syndrome.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama saya kira sudah jelas. Diskursus publik kita sudah ditandai oleh banyak kutipan tentang Yugoslavia dan Soviet sebelum disintegrasi. Pengalaman kita juga sudah mirip-mirip. Ada pasukan internasional yang masuk ke Tim-tim, ada isolasi perekonomian dari lembaga keuangan multi lateral, ada dukung mendukung tersembunyi dari negara adi kuasa, ada tetangga yang demikian takut sampai-sampai menjadi sombong tidak ketulungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang post power syndrome, intinya hanya satu: sudah tidak duduk di kursi kekuasaan namun meminta semua orang memperlakukan dirinya sama dengan tatkala masih berkuasa. Atau, masih duduk di kursi kekuasaan, tetapi berharap duduk di situ selamanya. Bukankah semua perseteruan manajemen publik kita hanya berkisar tidak jauh dari sini?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-7859707357433240764?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/7859707357433240764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=7859707357433240764' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/7859707357433240764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/7859707357433240764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/indonesia-pensiun.html' title='Indonesia Pensiun'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-5470937445373718663</id><published>2008-08-31T15:13:00.001-07:00</published><updated>2008-09-01T00:44:18.229-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manufactured Uncertainty'/><title type='text'>Manufactured Uncertainty</title><content type='html'>Ketika umat manusia memasuki milimium baru, tidak sedikit mata dan perhatian yang menatap cemas dengan ancaman Y2K. Dari negara maju sampai negara paling tidak berkembangpun, perhatian terhadap persoalan ini tidak kecil. Banyak sekali orang yang mengambil antisipasi berlebihan. Ada yang membeli diesel - karena tidak yakin listrik akan terus menyala, ada yang melakukan print out terhadap saldo di bank, ada yang amat takut terbang di pergantian milinium, ada yang mengharamkan penggunaan kartu kredit , ada saran untuk tidak menggunakan lift, ada yang mengungsi dari jalur penerbangan, sampai dengan menimbun bahan bakar dan bahan makanan secukupnya. Namun, begitu milinium berganti tanpa gangguan terlalu berarti, banyak orang yang merasa tertipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebenarnya hanya salah satu contoh dari apa yang pernah disebut Anthony Giddens dengan manufactured uncertainty. Semacam ketidakpastian yang hadir sebagai akibat dari teknologi buatan manusia sendiri. Kalau boleh jujur, deretan ketidakpastian ini masih bisa ditambah secara amat panjang. Gejala pemanasan bumi, rusaknya lapisan ozon, polusi, hama dan virus yang muncul dari perkembangan teknologi pertanian dan kedokteran, ancaman musnahnya bumi oleh nuklir, dan sederetan bukti lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Krisis ekonomi Asia yang berawal di tahun 1997, sebenarnya bisa juga dimasukkan dalam hal ini. Dengan semakin majunya e-economy, negara manapun dengan cadangan devisa berapapun tidak berdaya dengan ancaman para spekulan. Hanya dengan beberapa hentakan transaksi di atas key board komputer, cadangan devisa negara manapun bisa tumbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya telah lama pernah menulis, kehadiran teknologi tidak saja bersifat enabling, namun juga constraining. Secara lebih khusus yang berkaitan dengan teknologi informasi, kita terlalu terpaku pada fungsi automating dan informating. Padahal, dalam dirinya juga terbawa fungsi reformatting. Atau, teknologi informasi bisa memformat ulang cara kita hidup dan bekerja. Tanpa persiapan memadai, kita akan “dibuat” oleh teknologi ciptaan kita sendiri. Teknolog memang tidak pernah mempersiapkan kita secara memadai, bagaimana menghindarkan diri agar tidak diformat ulang oleh teknologi. Yang jelas, setuju tidak setuju, suka tidak suka, teknologi telah dan sedang mengarahkan kita menuju manufactured uncertainty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, dalam Beyond Left And Right Anthony Giddens pernah menulis : “the world we live in today is not one subject to tight human mastery“. Dalam karyanya yang lain (The Consequences of Modernity), Giddens bahkan mengibaratkan dunia tempat kita hidup ini seperti truk besar sarat muatan yang meluncur tanpa rem. Para penganut teori masyarakat industrial - di mana banyak pakar manajemen meminjam pijakan - memang sedang dibuat runtuh oleh Anthony Giddens. Oleh karena itulah, bisa dimaklumi kalau manajemen sudah mulai kehilangan kepercayaan dirinya dalam menjelaskan perkembangan mutahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ketidakpastian yang hadir dari alam, atau ketidakpastian akibat kesalahan dan kekhilafan manusia, sudah lama kita mempesiapkan diri. Namun, kalau alat dan teknologi yang kita rangkul dan manfaatkan setiap hari, ternyata sedang “membuat” kita tanpa kita sadari, bukankah kita yang menjadi “alat” dan teknologi menjadi pengendalinya? Tidakkah ini berarti, manajemen sedang dimanajemeni oleh teknologi? Adakah gunanya kalau kita belajar manajemen yang telah dimanajemeni?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau bukti? Ada orang yang belum bisa tidur nyenyak kalau belum berselancar di internet di hari itu. Ada orang yang merasa seperti masuk hutan lebat yang tidak terjangkau bila tidak membawa telepon genggam. Ada orang yang menggadaikan kepalanya pada komputer, terutama dengan menyebut tidak ada masa depan di luar internet nantinya. Ada banyak konsep manajemen yang tergagap-gagap menghadapi perkembangan teknologi. Dan masih banyak lagi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digabung menjadi satu, tanpa persiapan memadai, kepala manusia memang bisa “dibuat balik” oleh teknologi. Menghindar dan menakuti teknologi, tentu saja bukan sikap yang tepat dalam hal ini. Namun, membiarkan kepala digadai teknologi, lebih tidak tepat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di titik inilah, kita memerlukan gerakan undigital mind. Sebentuk mind yang senantiasa berada di atas teknologi. Kekaguman - apa lagi pemujaan - yang berlebihan terhadap teknologi, atau penempatan teknologi di atas daya imajinasi dan inovasi manusia, adalah serangkaian hal yang perlu diwaspadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia ideas management, akan amat produktif kalau kita belajar berfikir tanpa teknologi, mencari ide yang menghujat teknologi, menemukan bentuk kemajuan tanpa kendaraan teknologi, atau masuk dalam belantara kehidupan tanpa kehadiran teknologi. Biarkan kepala bekerja optimal dengan bantuan teknologi secara amat minimal. Dan begitu memasuki dunia praktek yang nyata, tempat teknologi tidak lagi berdiri pongah sebagai tukang dikte. Melainkan, sebagai sahabat sejajar, yang bersifat bisa sebagai pembantu, bisa juga sebagai orang asing yang tidak perlu dihiraukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dibuat atas bantuan teknologi, saya berpresentasi menggunakan teknologi, bekerja juga dibantu teknologi, namun saya menolak menempatkan teknologi di atas daya imajinasi dan inovasi. Boleh saja ada futurolog yang menganggap tidak ada masa depan tanpa teknologi, tetapi membiarkan diri diproduksi oleh teknologi, sama saja dengan bunuh diri tanpa kita sadari. Kalau ada orang yang amat concern dengan kegiatan digitalizing our mind, saya malah mengundang untuk undigitalizing our mind. Saya menolak untuk menjadi babunya teknologi. Sebab, hanya memperberat truk kehidupan yang sudah terlalu sarat beban, dan terlanjur tidak memiliki rem.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-5470937445373718663?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/5470937445373718663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=5470937445373718663' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/5470937445373718663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/5470937445373718663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/manufactured-uncertainty.html' title='Manufactured Uncertainty'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3078077179646555643.post-2930185823619573383</id><published>2008-08-31T14:36:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T00:42:32.625-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berhentilah Menyalahkan Orang Lain'/><title type='text'>Berhentilah Menyalahkan Orang Lain</title><content type='html'>Oleh ribuan anak muda yang baru memasuki gerbang kerja, juga manajer muda yang frustrasi di dunia kerja, kerap saya ditanya: aspek apa dari dunia kerja yang paling sulit dihadapi? Terus terang, bekerja apapun dan dimanapun, serta bermodalkan pendidikan manapun sebenarnya mudah, asal tekun belajar dan bertanya. Yang sering bikin semuanya jadi rumit, adalah interaksi antarmanusia. Jangankan manusia yang baru memasuki gerbang kerja, mereka yang sudah berumur senja di tempat kerja sekalipun sering dibuat pusing oleh interaksi terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam pengandaian seorang penulis, ada perbedaan antara menendang bola dan menendang kucing. Sebelum menendang bola, kita bisa ramalkan kemana bola akan bergerak setelah ditendang. Akan tetapi, sebelum menendang kucing, kita tidak tahu apakah kucingnya akan menangis, lari, melompat, mati atau alternatif lainnya. Nah, meramalkan respons orang lain sebelum kita bertindak, jauh lebih rumit dibandingkan dengan meramalkan respons kucing. Sebab, kucing tidak mengenal politik, pura-pura, balas dendam dan serangkaian hal rumit lainnya. Namun, ini juga yang menyebabkan disiplin mengelola manusia menjadi penuh sentuhan seni dan kepekaan. Sebagian kecil memang bisa diungkapkan melaui kata-kata. Cuman, sebagian besar ia bersifat tidak terungkapkan dan hanya bisa dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak antisekolah atau antipelatihan, namun hal-hal yang bersifat tidak terungkapkan terakhir, lebih banyak bisa dimengerti kalau kita mengalaminya sendiri di lapangan. Diisukan negatif oleh orang lain, tidak cocok, mau didongkel dari kursi, dipermalukan di depan umum, diomongkan negatif di belakang kita, hanyalah serangkaian hal yang mesti di alami sendiri di lapangan. Untuk kemudian, mendapatkan pengertian yang dalam tentang dinamika interaksi antarmanusia di dunia kerja. Saya meragukan, kalau ada orang yang memperoleh pengertian terakhir, tanpa pernah dihempas gelombang-gelombang godaan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah belajar dari tumpukan ribuan kebodohan dan kegagalan masa lalu, saya menemukan sebuah kearifan berguna. Dalam setiap persoalan manusia, saya belajar untuk mengurangi mencari siapa yang salah. Dan memusatkan perhatian untuk memecahkan persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amat mirip dengan cara terakhir, Ken Cloke dan Joan Goldsmith dalam Resolving Conflict At Work, pernah menulis: ‘Define the problem as a person and you are in trouble. Define the problem as difficult behavior, you can do something about it’. Dengan kata lain, jika Anda menempatkan masalahnya pada orang, dan kemudian mengambil tindakan (apa lagi ilegal) maka masalah akan diganti dengan masalah yang lebih besar. Namun, bila pemecahan dikonsentrasikan pada perilaku yang sulit, kemudian kita bisa mencarikan jalan keluar yang lebih produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bila saja banyak orang mau belajar berhenti untuk menyalahkan orang lain, dan memusatkan perhatian pada pemecahan persoalan, dunia kerja bukanlah sesuatu yang menakutkan. Ia adalah tempat ‘meditasi’ yang kerap menghadirkan kedamaian. Persoalannya, untuk bisa berhenti dari kebiasaan buruk tadi, disamping kadang kurang didukung lingkungan, juga sering dihadapkan oleh dorongan-dorongan dari dalam diri yang juga tidak mudah. Emosi, ego, harga diri, gengsi, ketidaksabaran hanyalah sebagian kecil dari dorongan-dorongan tadi. Siapapun orangnya - dari penjahat sampai dengan pendeta - memiliki dorongan terakhir dengan kadar yang berbeda-beda. Namun, siapapun juga orangnya, ia membutuhkan deep meditation untuk mengelola dorongan-dorongan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya sebut dengan deep meditation sebenarnya amatlah mudah. Ketika lapar, makanlah secukupnya. Tatkala haus, minumlah semampunya. Manakala mata mengantuk, tidurlah secukupnya. Dengan kata lain, hidup kita dengan seluruh kesehariannya sebenarnya sebuah meditasi panjang. Bila kita melakukan meditasi panjang ini dengan penuh ketekunan, kita yang menjadi pengelola tubuh dan jiwa ini. Bukan sebaliknya, kita dikelola oleh tubuh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih bagi mereka yang kebanyakan pekerjaannya adalah merubah orang lain. Atau memiliki tugas mulia memasyarakatkan nilai-nilai luhur. Sulit membayangkan, tugas-tugas terakhir bisa diselesaikan secara berhasil tanpa melalui deep mediation. Ini juga sebabnya, kenapa bertemu orang-orang tertentu kita mudah segan, hormat, respek, dan perasaan sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu waktu, seorang rekan yang sudah puluhan tahun berpengalaman mengelola ribuan manusia bertutur penuh keprihatinan. Mengurus manusia-manusia sulit - demikian menurut rekan tadi - adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Tahun ini ada sekian manusia sulit diselesaikan secara baik-baik, tahun berikutnya pasti - sekali lagi pasti - ada manusia lain yang menjelma menjadi manusia sulit. Mirip dengan pekerjaan rumah (PR) di sekolah, ia akan selalu datang secara bergantian dan bergiliran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benang merah yang bisa ditarik dari kisah ini, memecahkan masalah manusia dengan memindahkan, memecat dan sejenis memang boleh-boleh saja dilakukan kadang-kadang. Akan tetapi, organisasi manapun yang dipimpin oleh manusia dengan hobi menyalahkan orang lain, disamping tidak bisa memecahkan persoalan jangka panjang, juga gagal membangun hubungan industrial yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, satu spirit dengan pendekatan deep meditation, pekerjaan interaksi antarmanusia akan menjadi lebih mudah, bila kita mulai berhenti menyalahkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3078077179646555643-2930185823619573383?l=gede-prama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gede-prama.blogspot.com/feeds/2930185823619573383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3078077179646555643&amp;postID=2930185823619573383' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/2930185823619573383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3078077179646555643/posts/default/2930185823619573383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gede-prama.blogspot.com/2008/08/berhentilah-menyalahkan-orang-lain.html' title='Berhentilah Menyalahkan Orang Lain'/><author><name>.:: me ::.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://3.bp.blogspot.com/_-6y0hZVM55s/SLreWLFOVfI/AAAAAAAABLk/N4b3AEXINJE/S220/ikon+bintang.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
